SERING muncul pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi jawabannya tak pernah sederhana: mengapa negara dengan mayoritas penduduk Muslim justru masih bergulat dengan korupsi?
Pertanyaan itu terasa semakin ironis setiap kali Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati. Selawat berkumandang. Kisah kejujuran Rasulullah disampaikan dengan suara merdu. Keteladanan beliau dipuji dari mimbar ke mimbar.
Sayangnya, di luar masjid, sebagian pejabat seperti memiliki kitab moral sendiri.
Jabatan dipamerkan. Kekuasaan dipertontonkan. Kekayaan bahkan dipertontonkan lebih terang lagi. Ada pejabat, anggota DPR, hingga direksi dan komisaris perusahaan yang hidupnya tampak jauh lebih makmur daripada yang bisa dijelaskan oleh penghasilan resmi.
Tentu masyarakat bukan anak kecil. Mereka bisa menghitung. Gaji pejabat diketahui. Kekayaan yang dipamerkan juga terlihat. Maka ketika angka-angka itu tidak masuk akal, muncul pertanyaan sederhana: dari mana semuanya?
Baca Juga: Untung Sampah Jadi Masalah
Ironinya, sebagian yang paling rajin berbicara tentang moral justru terkadang harus berurusan dengan aparat penegak hukum.
Kasus korupsi yang melibatkan pejabat, termasuk mereka yang menyandang gelar akademik dan jabatan terhormat, kembali mengingatkan kita bahwa gelar, jabatan, dan simbol keagamaan ternyata tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap godaan korupsi.
Di sinilah Maulid Nabi seharusnya tidak sekadar menjadi seremoni tahunan.
Sebab Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan kejujuran, amanah, keadilan, dan kesederhanaan. Beliau tidak mengajarkan pamer kekuasaan sambil sibuk mencari pembenaran.
Semoga Maulid tahun ini menjadi cahaya bagi mereka yang masih memiliki hati untuk bercermin.
Meski, terus terang, berharap mereka berubah rasanya nyaris sama mustahilnya dengan berharap seorang pejabat korup tiba-tiba tampil ke publik dan dengan jujur mengakui dari mana kekayaan yang dimilikinya berasal.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
12 Rabiul Awal 1448 Hijriyah — 25 Agustus 2026
Tabik.
Muhammad Furqon - Pemimpin Redaksi Harian Momentum - harianmomentum.com
Editor: Muhammad Furqon
