Mengenal KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU 2026-2031

img
KH Miftachul Akhyar. Foto: Ist.

MOMENTUM, Jombang--KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Rais Aam masa khidmat 2026-2031. 

Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya, itu dipilih secara mufakat oleh sembilan kiai yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Muktamar Ke-35 NU.

Miftachul Akhyar sebelumnya juga menjabat Rais Aam PBNU periode 2021-2026. Ia dikenal sebagai salah satu kiai berpengaruh di lingkungan NU dengan pengalaman panjang di pesantren dan organisasi.

Keputusan AHWA memilih Miftach disampaikan Anwar Iskandar dalam sidang pleno Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).

"Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota AHWA secara mufakat memutuskan bahwa nama KH Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam PBNU masa khidmat 2026-2031," kata Anwar.

Anak Kiai, Tumbuh di Lingkungan Pesantren

Miftachul Akhyar lahir di Surabaya pada 1 Januari 1953. Ia merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara, putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.

Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren. Pendidikan keagamaannya ditempuh di sejumlah pesantren di Jawa, antara lain Pondok Pesantren Tambakberas dan Pondok Pesantren Sidogiri di Jawa Timur serta Pondok Pesantren Lasem di Jawa Tengah.

Miftach juga pernah mengikuti Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di Malang ketika ulama tersebut masih mengajar di Indonesia.

Bekal keilmuan dari berbagai pesantren tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan Miftach sebagai kiai dan pengasuh pesantren.

Mendirikan Miftachus Sunnah

Pada 1982, Miftach mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di kawasan Kedung Tarukan, Surabaya. Pesantren itu berawal dari keinginannya menempati rumah sang kakek.

Namun, melihat kebutuhan masyarakat sekitar terhadap pendidikan dan penguatan keagamaan, Miftach kemudian membuka pengajian. Kegiatan tersebut berkembang hingga menjadi pesantren yang sampai kini diasuhnya.

Selain mengelola pesantren, Miftach memiliki rutinitas mengajar kitab. Salah satunya pengajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari yang digelar setiap Jumat setelah salat Jumat.

Meniti Karier Organisasi dari Surabaya

Kiprah Miftach di NU dimulai dari tingkat cabang. Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000-2005.

Kariernya berlanjut di tingkat PWNU Jawa Timur. Miftach menjabat Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur pada periode 2007-2013 dan 2013-2018.

Di tingkat pusat, ia dipercaya sebagai Wakil Rais Aam PBNU periode 2015-2020. Miftach kemudian menjadi Pj Rais Aam PBNU pada 2018-2020.

Pada Muktamar Ke-34 NU, Miftach terpilih sebagai anggota AHWA dan kemudian ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2021-2026.

Lima tahun kemudian, sejarah tersebut kembali berulang. Dalam Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Miftach kembali terpilih sebagai anggota AHWA dan kembali mendapat kepercayaan memimpin Syuriyah PBNU untuk masa khidmat 2026-2031.

Selain kiprahnya di NU, Miftach juga pernah menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025.

Kini, pada usia 73 tahun, Miftachul Akhyar kembali dipercaya berada di posisi tertinggi dalam struktur Syuriyah PBNU. Amanah tersebut sekaligus memperpanjang kiprahnya dalam mengawal organisasi NU dari lingkungan pesantren hingga tingkat nasional.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos