Oleh: Hidayah Sigalingging*)
Magang bukan sekadar belajar bekerja. Bagi mahasiswa, magang menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana ilmu yang dipelajari di bangku kuliah digunakan dalam kehidupan nyata.
Hal itu saya rasakan ketika menjalani magang di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama magang, saya tidak hanya belajar di laboratorium, tetapi juga berkesempatan mengikuti kegiatan pengambilan sampel air sungai di lapangan.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika mengikuti kegiatan sampling di kawasan Kaliprogo. Bersama seorang analis, saya mengunjungi lima titik sungai dalam satu kegiatan.
Sebelum berangkat, berbagai perlengkapan harus disiapkan. Mulai dari botol sampel, alat pengukur pH, perlengkapan pencatatan, hingga alat pelindung diri seperti topi proyek dan sepatu keselamatan.
Kami menggunakan mobil dinas untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Setiap titik memiliki kondisi yang berbeda. Ada sungai dengan air yang terlihat jernih, tetapi ada pula yang tampak keruh.
Akses menuju lokasi pengambilan sampel juga tidak selalu mudah. Beberapa titik dapat dijangkau dengan cepat. Namun, di salah satu lokasi, kami harus mengambil sampel dari jembatan dengan jarak yang cukup jauh dari permukaan air.
Dari kegiatan itu saya memahami bahwa sampling bukan sekadar mengambil air lalu memasukkannya ke dalam botol. Kondisi lapangan menuntut ketelitian, kehati-hatian, dan kemampuan beradaptasi.
Meski proses pengambilan sampel di lokasi yang mudah dijangkau dapat berlangsung singkat, perjalanan dari satu titik ke titik lainnya justru menjadi bagian yang cukup banyak menghabiskan waktu.
Bagi saya, pengalaman tersebut menyenangkan sekaligus membuka wawasan baru. Saya dapat melihat kondisi sungai secara langsung dan memahami proses yang dilakukan sebelum sampel dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.
Melihat Air Lebih dari Sekadar Jernih
Pengalaman berikutnya saya dapatkan di laboratorium DLHK DIY. Di sana, saya mengenal berbagai jenis pengujian kualitas lingkungan, antara lain Escherichia coli (E. coli), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), klorida, klorin bebas, sianida, dan fluorida.
Salah satu proses yang menarik perhatian saya adalah pengujian E. coli. Pemeriksaan diawali dengan menyiapkan media pertumbuhan bakteri. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam media dan diinkubasi pada kondisi yang sesuai.
Tahap berikutnya adalah uji penegasan atau konfirmasi untuk memastikan bakteri yang terdeteksi sesuai dengan target pemeriksaan.
Melihat proses tersebut secara langsung membuat saya memahami bahwa hasil pengujian tidak muncul begitu saja. Ada serangkaian tahapan yang membutuhkan ketelitian agar sampel dapat menghasilkan informasi yang dapat dipercaya.
Pengalaman di laboratorium juga mengubah cara pandang saya terhadap kualitas air. Selama ini, air yang jernih sering kali dianggap sebagai tanda bahwa kondisinya baik. Padahal, kualitas air tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan apa yang terlihat oleh mata.
Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari kandungan atau mikroorganisme tertentu. Sebaliknya, air yang keruh juga membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Di sinilah saya merasakan perbedaan antara teori dan praktik. Perkuliahan memberikan dasar untuk memahami konsep, sedangkan magang memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana konsep tersebut diterapkan secara langsung.
Apa yang sebelumnya saya pelajari melalui buku dan materi perkuliahan menjadi lebih nyata ketika melihat proses pengambilan sampel hingga pengujian di laboratorium.
Ilmu yang Menjadi Nyata
Magang di DLHK DIY pada akhirnya bukan hanya menjadi bagian dari perjalanan akademik saya. Pengalaman di lapangan mengajarkan saya untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi, sementara pengalaman di laboratorium memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk memahami lingkungan.
Kini, ketika melihat sungai, saya tidak lagi hanya memperhatikan apakah airnya jernih atau keruh.
Saya menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak dapat dilihat oleh mata dan baru dapat diketahui melalui pengujian.
Dari lima titik sungai yang saya datangi untuk sampling, saya membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman di lapangan. Saya membawa pemahaman baru bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium.
Ilmu menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk memahami persoalan nyata di sekitar kita.
Dan dari pengalaman magang itu, saya semakin memahami bahwa ilmu, pekerjaan, dan kepedulian terhadap lingkungan memiliki hubungan yang sangat dekat.(*)
*) Hidayah Sigalingging - Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Editor: Muhammad Furqon
