Ketika Rumus Kimia Bertemu Dunia Kerja

img
Leny Yunita Pratiwi

Oleh: Leny Yunita Pratiwi*)

KIMIA bukan hanya tentang teori, rumus, dan perhitungan yang dipelajari di ruang kuliah. Ilmu ini hidup di banyak bidang, termasuk dalam pengujian kualitas air yang berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan.

Air yang terlihat jernih belum tentu memiliki kualitas yang baik. Untuk mengetahuinya, diperlukan pengujian berdasarkan sejumlah parameter sehingga kondisi air dapat diketahui melalui data, bukan sekadar pengamatan mata.

Pemahaman itu menjadi lebih nyata ketika saya menjalani magang di UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Bantul. Ditempatkan di Laboratorium Fisika Kimia, saya mendapat kesempatan mengenal berbagai proses pengujian sampel, terutama yang berkaitan dengan kualitas air.

Magang tersebut bukan hanya memperkenalkan saya pada kegiatan analisis. Saya juga belajar tentang ketelitian, kedisiplinan, tanggung jawab, keselamatan kerja, dan bagaimana bekerja mengikuti prosedur yang berlaku di lingkungan profesional.

Semua Dimulai dari Sampel

Saya belajar bahwa pekerjaan laboratorium sebenarnya tidak dimulai ketika instrumen dinyalakan.

Semuanya dimulai sejak sampel diterima.

Identitas sampel, kondisi, serta kesesuaiannya dengan parameter pengujian harus diperiksa terlebih dahulu. Hal yang terlihat sederhana itu ternyata dapat menentukan proses analisis selanjutnya.

Kesalahan dalam menangani sampel pada tahap awal dapat memengaruhi tahapan berikutnya. Karena itu, ketelitian menjadi bagian penting dari pekerjaan laboratorium.

Pengujian kualitas air menjadi salah satu kegiatan yang membuat penerapan ilmu kimia terasa lebih dekat. Materi yang sebelumnya saya pahami melalui teori perkuliahan kini dapat saya lihat penerapannya secara langsung.

Prosesnya berlangsung mulai dari penerimaan dan penanganan sampel, preparasi, pengukuran, hingga pencatatan hasil. Semua dilakukan secara sistematis agar data yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi sampel berdasarkan parameter yang dianalisis.

Air Tak Cukup Dilihat

Dalam pengujian kualitas air, saya mengenal sejumlah parameter fisika, seperti warna, bau, kekeruhan, dan Total Dissolved Solids (TDS).

Setiap parameter memiliki karakteristik dan metode pengukuran yang berbeda. Karena itu, digunakan instrumen yang sesuai, seperti turbidimeter, colorimeter, dan TDS meter.

Dari sini saya memahami bahwa kualitas air tidak cukup dinilai berdasarkan apa yang terlihat oleh mata. Pengukuran diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif.

Hal yang sama saya rasakan ketika mempelajari pengukuran pH. Konsep asam dan basa yang sebelumnya dipahami melalui teori menjadi lebih mudah dimengerti ketika diterapkan secara langsung.

Sebelum digunakan, pH meter harus dikalibrasi menggunakan larutan buffer. Setelah kalibrasi, elektroda digunakan untuk mengukur sampel hingga diperoleh pembacaan yang stabil.

Proses sederhana tersebut membuat saya menyadari bahwa teori dan praktik sebenarnya tidak pernah berdiri sendiri. Teori menjadi dasar untuk memahami proses, sedangkan praktik membuat teori tersebut lebih mudah dipahami.

Instrumen Bukan Sekadar Alat

Penggunaan instrumen analisis juga memberikan pelajaran lain.

Mengoperasikan alat tidak cukup hanya dengan mengetahui tombol mana yang harus ditekan. Setiap instrumen memiliki prinsip kerja, persiapan, dan prosedur penggunaan yang harus dipahami.

Salah satu pengalaman yang menarik bagi saya adalah penggunaan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) untuk analisis logam.

Sebelum sampel masuk ke instrumen, diperlukan beberapa tahapan preparasi, seperti penyaringan, destruksi, dan pengenceran.

Dari proses tersebut saya belajar bahwa hasil analisis tidak hanya bergantung pada kecanggihan instrumen. Preparasi sampel juga memiliki peran penting. Kesalahan pada tahap tersebut dapat memengaruhi hasil pengukuran.

Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bahwa analisis instrumental membutuhkan perpaduan antara keterampilan teknis dan pemahaman terhadap konsep kimia yang mendasarinya.

Rumus yang Menjadi Nyata

Hal menarik lainnya adalah ketika melakukan preparasi larutan.

Di bangku kuliah, konsentrasi dan pengenceran sering kali hadir dalam bentuk persamaan dan soal perhitungan. Di laboratorium, konsep tersebut menjadi bagian dari pekerjaan nyata.

Membuat larutan dengan konsentrasi tertentu membutuhkan ketepatan perhitungan sekaligus ketelitian dalam proses pembuatannya.

Di situlah saya merasakan bahwa rumus yang selama ini dipelajari bukan sekadar angka di atas kertas. Ada kebutuhan nyata di balik setiap perhitungan.

Keselamatan Bukan Formalitas

Selain kemampuan analisis, saya juga belajar bahwa keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan bagian penting dalam kegiatan laboratorium.

Penggunaan alat pelindung diri (APD) harus diperhatikan, terutama ketika bekerja dengan bahan kimia dan peralatan laboratorium. Sikap hati-hati juga diperlukan pada setiap tahapan pekerjaan.

K3 bukan sekadar aturan yang harus dipatuhi. Lebih dari itu, K3 merupakan bagian dari sikap profesional.

Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa pekerjaan laboratorium membutuhkan ketelitian dari hal-hal kecil. Identitas sampel harus tepat. Instrumen harus digunakan sesuai prosedur. Pengukuran harus dilakukan dengan cermat. Hasil harus dicatat dengan benar.

Tidak ada ruang untuk bekerja secara sembarangan.

Dari Praktikum ke Dunia Kerja

Magang juga memperlihatkan kepada saya bahwa praktikum di perkuliahan dan pekerjaan laboratorium memiliki tuntutan yang berbeda.

Dalam praktikum, mahasiswa umumnya diarahkan untuk memahami konsep melalui eksperimen. Di dunia kerja, tuntutannya lebih luas. Ada konsistensi, ketepatan, ketelitian, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap prosedur.

Berbagai materi yang saya pelajari selama kuliah—mulai dari analisis kimia, konsentrasi, pengenceran, asam-basa, spektrofotometri, hingga analisis instrumental—ternyata memiliki hubungan dengan pekerjaan di laboratorium.

Teori memberikan dasar. Praktik memberikan pengalaman. Keduanya saling melengkapi.

Magang di UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten Bantul akhirnya memberi saya pemahaman yang lebih luas tentang dunia kerja bidang kimia.

Saya belajar bahwa pekerjaan laboratorium bukan sekadar menguji sampel dan mencatat angka. Di balik setiap hasil pengujian ada proses yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, ketelitian, disiplin, dan tanggung jawab.

Bagi saya, pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang kimia.

Sebab, belajar kimia ternyata tidak berhenti ketika buku kuliah ditutup. Ilmu itu baru terasa hidup ketika digunakan untuk membaca dan memahami persoalan nyata di sekitar kita.(*)

*) Leny Yunita Pratiwi - Mahasiswa Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos