MOMENTUM, Lampung--Anggota MPR RI yang juga menjabat sebagai pimpinan teras PKS, Dr. H. Almuzzammil Yusuf, M.Si., mengingatkan potensi ancaman penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dapat disalahgunakan sebagai instrumen fitnah dan manipulasi opini publik menjelang Pemilu 2029.
Peringatan tersebut disampaikan Almuzzammil saat kunjungan di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Bandar Lampung, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, kecanggihan teknologi AI saat ini mampu menirukan suara serta memanipulasi visual secara presisi menyerupai kejadian aslinya. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius bagi ekosistem informasi publik karena berpotensi mengaburkan batas antara fakta dan disinformasi di tengah masyarakat.
"Sekarang AI bisa membuat sesuatu yang persis sama dengan aslinya. Ini tentu berbahaya jika disalahgunakan untuk memfitnah orang, apalagi menjelang konstelasi Pemilu 2029," ujar Almuzzammil di hadapan ratusan wartawan anggota PWI Lampung.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menekankan pentingnya peran strategis insan pers sebagai garda terdepan penjernih informasi dan pengawal pilar demokrasi.
Wartawan diimbau untuk terus mengedepankan prinsip akurasi, verifikasi, serta integritas moral yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika guna merawat persatuan bangsa dari gempuran informasi palsu.
Melalui forum interaktif tersebut, dia berharap sinergi bersama insan pers dapat semakin solid guna memastikan iklim politik dan demokrasi nasional tetap kondusif, berintegritas, serta berlandaskan semangat kebersamaan.
Ketua PWI Provinsi Lampung, Wirahadikusumah menyampaikan apresiasi kehadiran pejabat teras PKS yang sudah datang ke kantor organisasi pers. "Kami menyambut baik apabila ada agenda sosialiasi empat pilar atau serupa. Ibaratnya, kami sebagai wartawan perlu diingatkan kembali agar senantiasa sadar akan jati diri dan tanggung jawab moral dalam merawat persatuan bangsa di tengah dinamika zaman," ujar Wira.(**)
Editor: Agus Setyawan
