Pengungsi Wamena Pulang ke Rumah, Aktivitas Berangsur Normal

img
ilustrasi.

MOMENTUM, Bandarlampung--Dua minggu pasca kerusuhan Wamena, kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, mulai kondusif. Sehingga pengungsi di barak penampungan telah mulai pulang ke rumah masing-masing.

Masih membekas dalam ingatan, bagaimana kabar kerusuhan yang telah meluluhlantakkan bumi Cendrawasih beredar. Kerusuhan pecah diakibatkan oleh sebuah ujaran rasialisme. Sayang, emosi terlanjur memuncak bukan upaya peredaman dan pelurusan kesalahapahaman yang dikedepankan. Namun, aksi anarkisme yang mendominasi keadaan, miris. Bukan hanya bangunan atau fasilitas publik yang dirusak dan dibakar, banyak rumah warga yang ikut jadi sasaran. Sehingga suasana makin mencekam. Warga memilih menyelamatkan diri ke pengungsian. 

Namun, dua pekan sudah warga Wamena bergumul dengan kerusuhan, aparat keamanan tak hentinya mengadakan pengamanan ekstra. Tak terhitung berapa ribu personel diterjunkan untuk ikut menyelamatkan para korban kerusuhan. Dan akhirnya kabar baik datang, kondisi Wamena dinyatakan kondusif. Warga di pengungsian-pun merasa senang. Dengan dinyatakan kondusifitas Wamena menandakan mereka siap untuk pulang ke rumah.

Sebelumnya dilaporkan per tanggal 6 Oktober 2019 tercatat jumlah pengungsi mencapai angka 1.726 orang. Yakni, sebanyak 787 orang berada di barak pengungsian Kodim 1702/Jayawijaya. Kemudian 239 orang berada di Polres Jayawijaya, dan 63 orang di Koramil 1702-03/Wamena serta Subdenpom Wamena 25 orang. Sementara di Gereja Betlehem terdapat 30 orang, Yonif 756/WMS sejumlah 19 orang, Gereja Efata 22 orang juga Masjid LDII sebanyak 120 orang. Di gereja - Gereja lainnya seperti Advent ditengarai ada 94 orang, Gereja El-Shadday 50 orang, di Masjid Pasar baru 20 orang, di balai kantor KPU tujuh orang dan tersebar di perumahan penduduk hingga mencapai 250 orang.

Selain itu tercatat sebanyak 15.544 orang sudah eksodus dari Wamena mulai dari tanggal 23 September hingga 5 Oktober tahun 2019. Menurut pantauan di lapangan, suasana Kota Wamena mulai mengalami pergerakan, hal ini terlihat dari sejumlah pedagang yang sudah memulai aktifitas dagangnya, serta lalu lintas sudah mulai ramai dengan deru mesin kendaraan. Bahkan menurut kesaksian salah satu warga asal Pinrang, Sulawesi, ia telah membuka kios cinderamata miliknya 3 hari pasca kerusuhan. Ia menuturkan jika dirinya telah menetap selama 26 tahun di bumi Cendrawasih tersebut.

Meski begitu, masih ditemukan adanya sejumlah laporan jika sekitar 293 warga Sumatra Utara (Sumut) masih mengungsi di sejumlah titik evakuasi korban kerusuhan Wamena, Papua. Ditengarai warga perantau tersebut tersebar ke dalam lima posko pengungsian. Pemprov Sumut, Riadil menjelaskan jika pihaknya telah membentuk tim dengan nama "Sumut Peduli Wamena". Ia menyatakan tim pertama telah menuju Jayapura guna mendata warga Sumut di pengungsian. Serta berkoordinasi dengan TNI juga Polri, BNPB serta komunitas Masyarakat Sumut.

Dari pendataan tersebut Tim juga melakukan wawancara kepada para pengungsi yang mana mendapatkan hasil jika dari 293 orang tersebut, sebanyak 85 persen menyatakan keinginannya untuk pulang ke kampung halaman (Sumut). Sementara sisanya 15 persen untuk dipulangkan ke luar wilayah Wamena yakni, Sulawesi-Jawa-Jakarta.

Sementara itu, Tim 2 dinyatakan melakukan evakuasi terhadap warga Sumut yang sempat mengungsi dari wilayah Papua ke Kota Surabaya. Diperkirakan berjumlah 31 orang, serta sebanyak 14 orang meminta pulang ke Sumut. Sedangkan sisanya sebanyak 17 orang sudah dijemput keluarganya dan dibawa pulang ke kota Malang dan provinsi lainnya. Riadil juga menambahkan, saat ini terdapat 14 warga Sumut yang sedang on the way menuju Kota Medan melalui jalur darat.

Serangan separatis bersenjata ini diketahui menyerang berbagai wilayah di Papua serta mengancam timbulnya eksodus di wilayah tersebut. Mirisnya, mereka melakukan serangan secara terang-terangan, termasuk juga membakar rumah-rumah warga yang sebetulnya tidak tahu apa-apa terkait kerusuhan tersebut. Fenomena ini sebelumnya juga telah terjadi di kota Wamena hingga terjadi puncaknya  kerusuhan yang menelan banyak korban jiwa. 

Lebih dari itu, rasa syukur warga karena telah bisa kembali kerumah turut disambut suka cita. Pemerintah juga ditengarai menggelontorkan sejumlah dana cukup besar guna memperbaiki fasilitas umum termasuk membangun kembali rumah-rumah warga yang terdampak kerusuhan. Selain itu doa terus dipanjatkan agar kondusifitas di Wamena terus meningkat dan menuju ke arah stabil, aman dan terkendali. Pun dengan para pelaku anarkisme segera bisa diringkus semua sehingga Papua akan kembali seperti sedia kala.(**)

Oleh : Yeremia Kogoya. Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta



Leave a Comment