Sumpah, Sampah!

img
Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum

MOMENTUM--Pada pekan akhir bulan kemarin, masalah rencana pembangunan Teropong Bintang di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Wan Abdurahman, Kabupaten Pesawaran, ramai diperbincangkan masyarakat.

Berawal dari pernyataan Gubernur Arinal Djuanidi yang menyebut "Haram" proyek itu dilanjutkan. 

Soal Teropong Bintang pun viral di media sosial (medsos), media siber lokal dan nasional, serta grup-grup medsos. Banyak yang menyayangkan, kecewa, bahkan mengecam. Lantaran harapan memiliki bangunan bersejarah, terbesar se-Asia Tenggara, atau kebanggaan baru, tiba-tiba sirna.

Padahal proyek bernama lengkap Observatorium Astronomi Itera (Institut Teknologi Sumatera) Lampung (OAIL), sudah menghabiskan duit daerah miliaran rupiah.

Publik pun berspekulasi. Penghentian proyek itu karena "dendam" politik. Melanjutkan proyek Teropong Bintang, sama dengan memberikan "tanda jasa" kepada lawan politik. Pembangunan proyek itu dimulai pada masa M Ridho Ficardo, petahana yang dikalahkan Arnal dalam Pilgub Lampung pada 2018.

Terlepas dari alasan atau dasar hukum yang digunakan untuk menyetop proyek tersebut. Pastinya, uang rakyat miliaran rupiah sudah terbuang sia-sia.

Selain proyek Terpong Bintang, kalau mau iseng jalan-jalan ke sejumlah daerah di Provinsi Lampung, akan banyak ditemukan sampah bangunan hasil proyek bernilai jutaan. Malahan mungkin miliaran rupiah.

Di Bandarlampung, misalnya. Silakan datang ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lempasing. Di sana ada gedung yang tampak lebih muda usianya namun tertutup belukar.

Kemudian, di sejumlah daerah juga seperti bersepakat membiarkan terminal angkutan umum menganggur. Di Kabupaten Lampung Tengah, ada Terminal Betan Subing. Terminal di Kecamatan Terbanggibesar itu, sepertinya tak pernah sekali pun disinggahi angkutan umum.

Di Kabupaten Lampung Timur juga ada terminal yang dibiarkan nganggur. Lokasinya di Kecamatan Sukadana. Di Kabupaten Tulangbawang Barat, terminal yang terletak di Kelurahan Mulyaasri, Kecamatan Tulangbawang Tengah juga  bernasib sama. Menjadi kompleks "situs" bangunan tua.

Di daerah lain di Lampung, silakan telusuri. Dijamin, akan menemukan bangunan baru, tapi boros usia dan dikerubuni rumput liar. Padahal pembangunanya menghabiskan duit rakyat jutaan sampai miliaran rupiah.

Mangkrak atau terbengkalainya bangunan itu, jelas disebabkan  perencanaan yang tidak tepat. Bukan karena sengaja dibangun untuk menjadi situs sejarah agar dikenang sebagi generasi maju yang giat mendirikan bangunan. Ya, tapi untuk apa membangun kalau hanya akan menjadi sampah?

Tabik..



Berita Terkait

Leave a Comment