Covid-19Mendorong Pergeseran Perilaku Konsumsi

img

Oleh Gun Gun Nugraha

MOMENTUM--Pandemi Covid-19 memaksa dan mendorong pergeseran perilaku konsumsi masyarakat tidak normal sebagaimana mestinya.  Sebelum adanya shock berupa pandemi Covid-19 ini, perilaku konsumsi masyarakat seperti mengalir secara alamiah sebagaimana banyak dijelaskan dalam berbagai teori ekonomi mikro.  

Sejak diumumkannya kasus pertama Covid-19 di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020, ditambah semakin gencarnya pemberitaan jumlah korban jiwa yang terus bertambah semakin kuat mendorong perubahan perilaku masyarakat terutama pada perilaku konsumsi.  Pandemi Covid-19 dipastikan menjadi biang keladi terhentinya dan terbatasnya semua proses business cycle, tak terkecuali aktivitas ekonomi rumah tangga.

Hingga tulisan ini diterbitkan (26-10-2020), menurut data WHO, jumlah kasus terkonfirmasi global mencapai 42,05 juta orang dengan jumlah kematian mencapai 1,14 jiwa.  

Dikutip NBC News (6/10/2020), Direktur Eksekutif Program Keadaan Darurat WHO memperkirakan 1 dari 10 orang di dunia mungkin telah terinfeksi oleh virus corona.  Di Indonesia, kasus terkonfirmasi hingga 24 Oktober 2020 mencapai 385.980 orang dengan jumlah kematian mencapai 13.205 jiwa.  Untuk Provinsi Lampung, jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 1.551 orang (0,4% angka nasional) dengan tingkat kematian mencapai 56 jiwa (https://covid19.go.id).

Untuk memotret pergeseran perilaku masyarakat di tengah pandemi, Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan survei dampak Covid-19 terhadap rumah tangga secara nasional pada periode April dan September 2020.  Untuk Provinsi Lampung, pada periode April, dari 1.407 responden yang berpartisipasi secara daring, 45,05% mengakui mengalami penurunan pendapatan, 54,23% mengakui pendapatannya tetap, dan hanya 0,71% responden mengakui mengalami peningkatan pendapatan.

Menariknya, dari responden yang mengakui mengalami penurunan pendapatan, 77,07% dialami oleh rumah tangga dalam kelompok berpendapatan rendah (< 1,8 juta rupiah per bulan).  Pada periode September, dari 1.233 repsonden, 55,80% responden mengakui mengalami peningkatan pengeluaran dibandingkan awal pandemi dan PSBB (April dan Juni).

Dari sisi ketenagakerjaan, tidak sedikit pelaku usaha yang menutup sementara usahanya bahkan secara permanen akibat kebijakan social distancing untuk memutus rantai penularan virus corona. Hasil survei periode April menunjukkan 1,63%  responden mengaku baru saja mendapat PHK dan 20,54% responden mengaku dirumahkan sementara.  Periode September, dari 1.233 responden 0,65% mengaku baru saja di PHK dan 3,65% responden mengaku masih bekerja namun sedang dirumahkan.

Status seseorang bekerja atau tidak bekerja berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga.  Teorinya, pendapatan sangat berpengaruh terhadap perilaku konsumsi.  Oleh sebab itu, jika kita tengok hasil survei di atas, pandemi Covid-19 cukup besar memengaruhi pendapatan rumah tangga saat ini.  Secara umum, masih menurut hasil survei, masyarakat miskin dan rentan miskin yang bekerja pada sektor informal merupakan kelompok yang paling terdampak pandemi Covid-19.

Sejak hebohnya Covid-19, rumah tangga mulai menghindari transportasi umum.  Hasil survei menunjukkan 81,17% responden selalu menghindari transportasi umum (termasuk transportasi online) di tengah pandemi, 4,19% responden kadang-kadang menghindari transportasi umum (termasuk transportasi online), dan 14,64% responden tidak pernah menghindari transportasi umum atau tetap menggunakan transportasi umum seperti biasanya.  Memilih transportasi pribadi untuk aktivitas sehari-hari menjadikan konsumsi BBM di rumah tangga cenderung meningkat.

Sebagai upaya low contact dan penerapan social distancing, sebagian rumah tangga lebih memilih belanjadaring sebagai alternatif ketimbang belanja langsung ke mall, supermarket, atau pasar.  Menurut survei (April), 25,08% responden mengalami peningkatan aktivitas belanja online selama Covid-19. 

Bergesernya pola konsumsi dari face to face ke click to click mengakibatkan pengeluaran pulsa turut membengkak.Di samping itu, kebijakan mengenai school from home (belajar daring) turut memicu pengeluaran pulsa di rumah tangga meningkat.

Cocooning istilah pola perilaku baru di rumah tangga.Tren menarik yang terjadi selama pandemi adalah bahwa jarak sosial telah menghancurkan batas-batas sosial.Rumah --tempat paling pribadi dan terlindungi bagi sebagian besar masyarakat-- tiba-tiba berubah menjadi tempat konferensi dan penyiaran online.Dalam bahasa popular fenomena itu disebut sebagai cocooning.  Lalu bagaimana dampaknya terhadap perilaku konsumsi?  Pengeluaran konsumsi listrik rumah tangga dipastikan akan meningkat dan laju menikmati leisure time tersendat.

Menurut survei periode September, frekuensi responden keluar rumah sebelum dan sesudah adaptasi kebiasaan baru (AKB) mengalami pergeseran.  Sejak ditetapkan AKB oleh pemerintah, sebanyak 42,98% responden mengakui lebih sedikit keluar rumah, 35,60% responden mengakui sama saja, dan 21,41% responden mengakui lebih banyak keluar rumah dengan alasan 17,36% untuk bekerja, 3,24% untuk leisure, dan 0,81% untuk kebutuhan sosial.

Pandemi Covid-19 mengajak rumah tangga lebih perduli kesehatan. Masih berdasarkan survei (periode April), sebanyak 72,22% respondenmengaku mengalami peningkatan pengeluaran barangkesehatan selama masa pandemi Covid-19 seperti pembelian masker, hand sanitizer, sabun cuci tangan, obat, vitamin, dan lain sebagainya. 

Bergesernya perilaku konsumsi rumah tangga di masa pandemi Covid-19 seperti dijelaskan di atas terjadi pada beberapa komoditas.  Berdasarkan hasil survei, himbauan pemerintah “dirumah saja” mendorong peningkatan permintaanbahan makanan (sembako, sayuran, dan lauk mentah) sebesar 51,81%, pengeluaran pulsa/paket data meningkat 17,14%, kesehatan (obat, vitamin, dan sanitasi) meningkat 16,28%, makanan jadi meningkat 7,75%, pengeluaran listrik meningkat 4,34%, belanja BBM meningkat 1,28%, dan transportasi umum (termasuk transportasi online) meningkat 1,14%.  Meningkatnya konsumsi beberapa komoditas utama di atas selama pandemi Covid-19 harus menjadi perhatian khusus pemerintah agar masyarakat tidak semakin tertekan.

Kita harus akui, pandemi Covid-19 telah meluluhlantakan sendi-sendi aktivitas masyarakat dan bermasyarakat.  Keadaan yang serba tiba-tiba ini memang tidak dapat kita pastikan apakah kemudian menjadi perubahan perilaku baru atau hanya sekedar perubahan sesaat.Kita berharap, semoga pandemi ini segera berakhir sehingga aktivitas dapat kembali normal berjalan.  Semoga saja.

Gun Gun Nugraha - Kasi Analisis Statistik Lintas Sektor, Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, BPS Provinsi Lampung dan Pemerhati Isu Ekonomi dan Sosial Kependudukan.



Leave a Comment