Pengayuh Becak Tergerus Zaman

img
Armaja, duduk santai di atas becaknya sembari menunggu penumpang. Foto: Vino AW

MOMENTUM, Bandarlampung--Terik matahari seakan menyengat, tat kala sang surya seakan berada tepat di atas kepala.

Peluh mulai membasahi wajah hingga tangan Armaja, pengayuh becak yang kesehariannya mangkal di antara Jalan Raden Fatah dan RA Kartini, Kecamatan Tanjungkarang Pusat.

Sesekali, Armaja mengambil handuk kecil yang diselipkan di saku belakang celananya guna mengelap peluh yang sedari tadi membasahi wajahnya.

Pria berusia 70 tahun itu, mulutnya seakan tak henti menawarkan jasa antar bagi setiap pejalan kaki hingga penumpang yang baru saja turun dari angkutan kota (angkot) di kawasan tersebut.

Baca Juga: Pandai Besi, Riwayatmu Kini

Namun, tak satu pun pejalan kaki hingga penumpang yang baru saja turun itu tertarik memakai jasanya alias berminat diantar menggunakan becak.

Kini, keberadaan Armaja dan rekan-rekannya seakan termakan perkembangan zaman, lantaran mayoritas masyarakat telah menggunakan kendaraan sendiri atau menggunakan jasa ojek online. 

Alhasil, bapak sembilan anak itu kini mengaku sepi penumpang. Tak ayal, pengakuannya tersebut langsung diamini dua rekannya yang sedang mangkal.

"Sepi, kadang ada penumpang kadang enggak. Kadang seharian cuma mangkal aja disini," ujar Armaja saat ditemui di Jalan Kartini, Selasa (16-8-2022).

Sembari mengipas topinya ke arah wajah, pria yang telah menggeluti pekerjaannya sejak 1975 itu menuturkan, hal lain yang memicu sepinya penumpang lantaran para pelangganya rata-rata sudah meninggal dunia.

"Langganan saya orangnya udah gak ada (meninggal dunia, red). Dulu ya mereka itu minta diantar dari Bambu Kuning ke rumah masing-masing di sekitar Kaliawi hingga Kampungsawah. Sehari ya bisa dapat Rp50 ribu," tuturnya.

Sedangkan untuk saat ini, dalam sehari terkadang hanya mampu membawa uang Rp10 ribu hasil mengayuh becak. Berbeda jauh dari beberapa tahun silam.

"Dapat Rp10 ribu ya disyukuri aja. Kalau bersyukur, uang segitu juga bisa buat dapur tetap ngebul," ujarnya sembari diselingi tawa.

Dia meyakini, hal terpenting dalam hidupnya berupa diberikan kesehatan oleh Tuhan. Sehingga, tetap dapat mencari pundi-pundi rezeki.

"Kalau sehat Insya Allah masih bisa usaha, walaupun hasil sedikit yang penting ada hasil. Itu yang saya pegang selama ini. Satu lagi, jangan lupa bersyukur kepada Allah dari semua yang kita dapat," tuturnya. (**)


Editor: Vino Anggi Wijaya


Leave a Comment