Pandai Besi, Riwayatmu Kini

img
Uep Saepudin, saat mengamplas sarung golok di pandai besi miliknya di Gang Haji Ratam, Jalan Pajajaran, Jagabaya II. Foto: Vino AW

MOMENTUM, Bandarlampung--Deru suara mesin amplas gerinda mendengung, tat kala Uep Saepudin menghaluskan sarung golok pesanan pelanggannya.

Ditemani lagu lawas yang diputar melalui tape deck alias alat pemutar musik jadul. Pria kelahiran 1967 itu, tampak serius menghaluskan sarung golok kayu.

Di tempat berukuran sekitar 2x8 meter, tangan legam berurat itu tampak cekatan mengerjakan senjata tradisional khas nusantara tersebut.

Tidak ada peralatan istimewa yang digunakan Uep guna merubah besi menjadi senjata tradisional, hanya mesin tempa, tungku, landasan besi, palu godam dan gergaji serta gerinda amplas.

Uep yang telah menekuni usaha pandai besi kurang lebih selama 40 tahun itu, kini dalam sehari hanya ada pesanan sekitar tiga bilah.

"Jauh menurun drastis, dulu satu hari bisa 12 pesanan. Baik itu golok, badik dan pedang," ujar Uep, sesekali menghisap tembakau yang terselip di antara jemarinya itu.

Menurut dia, semakin tahun peminat senjata tradisional karya pandai besi kian menurun. Tak digandrungi lagi seperti dahulu.

"Mungkin perkembangan zaman, senjata tradisonal semakin tidak dilirik lagi," ujarnya saat ditemui di pandai besi miliknya, di Gang Haji Ratam, Jalan Pajajaran, Jagabaya II, Kota Bandarlampung, Senin (15-8-2022).

Meski demikian, Uep tak patah semangat guna melanjutkan usaha warisan orang tuanya itu. Tetap ditekuni walau sepi.

"Ikhtiar saja. Rezeki sudah ada yang mengatur. Yang penting berusaha, jangan diam saja," tuturnya.

Sedangkan, untuk mendapatkan senjata tradisional hasil karyanya, tak butuh biaya besar. Jasa pembuatan sebilah golok hanya dibanderol Rp250 ribu.

Sementara untuk jasa pembuatan badik yang merupakan senjata tradisional khas Lampung, pelanggan hanya perlu merogoh kocek senilai Rp200 ribu.

"Pedang samurai, jasa pembuatannya Rp400 ribu. Itu semua sudah sama sarungnya," kata Uep.

Dia memastikan, untuk satu bilah senjata tradisonal dapat selesai dalam tiga hari. Mulai dari menempa besi hingga membuat gagang dan sarung dari kayu.

"Rata-rata, tiga hari selesai satu pesanan. Tidak perlu menunggu lama-lama. Beres," sebutnya.

Menurut dia, bahan yang digunakan untuk membuat sebilah senjata tradisonal mayoritas dari besi per. Lantaran memiliki ketebalan hingga lima mili.

"Kalu besi per, bagus untuk dijadikan senjata karena tebalnya hingga lima mili," terangnya.

Kendati demikian, dia hanya menerima jasa pembuatan saja. Tidak menyediakan sejumlah bahan baku pembuatan senjata tradisional.

"Kita hanya jasa saja. Tidak menyediakan bahan karena mencarinya susah, kalau bahan konsumen yang bawa sendiri. Ya hitung-hitung yang saya lakukan ini untuk menjaga tradisi," jelasnya. (**)


Editor: Vino Anggi Wijaya


Leave a Comment