Tahun Baru di Jalan yang Sama

img
Ilustrasi. Foto: Ist.

TAHUN baru kembali datang. Kalender diganti, pidato disetel ulang, dan rakyat kembali diminta optimistis. Setelah hitung mundur usai, hidup berjalan seperti biasa. Tanggal tetap sama, bulan tetap sama, dan beban hidup setia menunggu—tak pernah ikut merayakan pergantian waktu.

Tahun berganti, tetapi posisi sosial nyaris tak bergerak. Petani tetap menjadi buruh di lahannya sendiri. Nelayan terus terjerat utang pada tengkulak. Pedagang kecil hidup di bawah bayang-bayang rentenir. Angka tahun boleh berubah, namun rantai kehidupan mereka tetap sama panjangnya.

Negara sibuk memamerkan angka pertumbuhan dan grafik yang katanya menanjak. Di sisi lain, rakyat sibuk menghitung sisa uang agar cukup hingga akhir bulan. Dua perhitungan yang berjalan beriringan, tetapi tak pernah benar-benar bertemu.

Infrastruktur yang digadang-gadang sebagai bukti kemajuan pun tak banyak berubah. Jalan-jalan jarang benar-benar baru—lebih sering sekadar dipoles di sana-sini. Tak heran jika usianya pendek. Bertahan mulus setahun saja sudah dianggap prestasi, bahkan keajaiban. Setelah itu, aspal retak, lubang bermunculan, dan tambalan menjadi pemandangan harian. Anehnya, kerusakan ini kerap dianggap lumrah, seolah jalan memang diciptakan untuk cepat rusak agar alasan pembangunan tak pernah habis.

Di rumah, terutama di dapur, hidup berjalan lebih jujur. Menu makan kembali diulang. Sayur kemarin dihangatkan lagi dan diguyoni sebagai menu siaran ulang. Ironisnya, kebijakan publik sering kali lebih basi dari itu. Program lama dipoles dengan nama baru, jargon diganti, substansi tetap sama. Yang berubah hanya baliho, seremoni, dan wajah-wajah tersenyum di spanduk peresmian.

Tahun baru juga datang bersama kabar lama: korupsi yang terasa seperti rutinitas. Dari suap, sogok, hingga ijon proyek—polanya berulang dan mudah ditebak. Istilah boleh berganti, tetapi intinya tetap sama: uang rakyat dipreteli sedikit demi sedikit, lalu menguap tanpa rasa bersalah.

Tahun baru terus dijual sebagai awal segalanya. Padahal bagi banyak orang, ia hanyalah jeda singkat untuk menarik napas sebelum kembali berlari di lintasan yang sama—bahkan dari posisi minus. 

Tidak semua orang punya kemewahan untuk memulai dengan awal yang lebih baik. Sebagian besar hanya diberi dua pilihan: bertahan atau tersingkir.

Tahunnya memang baru, tetapi hidup rakyat tetap lama. Mereka diminta terus kuat dan terus sabar, sambil melangkah di jalan kehidupan yang berat dan berliku. Beruntung, rakyat masih memiliki satu pegangan terakhir: rasa syukur—meski sering dipeluk dalam senyum yang getir.

Selamat Tahun Baru 2026.

Tabik.

Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum






Editor: Muhammad Furqon





Berita Terkait

Leave a Comment