MOMENTUM--Satu bingkai foto kadang berbicara lebih nyaring dari ribuan orasi. Foto udara yang viral pada Selasa (6/1/2026) pagi di Bondowoso adalah buktinya. Dalam tangkapan lensa itu, terlihat hamparan ribuan manusia berbaju putih memadati jalan protokol hingga ke ujung cakrawala, berdiri rapat di bawah terik matahari menghadap pusat pemerintahan Kabupaten Bondowoso. Bagi mata awam, ini mungkin sekadar dokumentasi demonstrasi biasa. Namun, bagi mereka yang paham gejolak sosial di kawasan Tapal Kuda, foto ini adalah alarm tanda bahaya.
Kerumunan padat tersebut bukan sekadar mobilisasi massa, melainkan bukti visual dari krisis kemanusiaan yang sedang menggerogoti tubuh PTPN I Regional 5. Setiap kepala yang terekam di sana mewakili satu nasib. Di balik seragam putih itu, ada ribuan "periuk nasi" yang sedang dipertaruhkan. Mereka adalah tulang punggung keluarga yang dipaksa hidup dalam ketidakpastian karena tempat mereka mengais rezeki—khususnya di Kebun Java Coffee Estate (JCE) dan Blawan—kini berubah menjadi zona perang yang tak lagi ramah manusia.
Konflik agraria yang berlarut sejak September 2023 ini telah bermetamorfosis menjadi teror. Namun, jika ditelisik lebih dalam, pola kerusakannya terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Eskalasi yang begitu terorganisir—mulai dari penebangan ratusan ribu pohon kopi, pembakaran rumah dinas cagar budaya, perusakan Posyandu, hingga blokade jalan—mustahil bergerak tanpa komando. Aroma keterlibatan aktor intelektual yang menunggangi konflik ini demi kepentingan politik dan bisnis sesaat mulai tercium menyengat. Patut diduga, ada "tangan-tangan tak terlihat" yang memelihara keruh ini, memanfaatkan warga demi keuntungan segelintir elite, membuat hukum tumpul dan aparat gamang bertindak.
Di sinilah letak ironinya. Saat para perusak—yang diduga kuat dibekingi kekuatan politik—bermain api dan kekerasan, ribuan pekerja PTPN justru membalasnya dengan adab. Tidak ada ban bekas yang dibakar, tak ada pagar gedung pemerintah yang dirobohkan. Mobil komando di tengah lautan manusia itu tidak memuntahkan ujaran kebencian, melainkan melantunkan selawat. Mereka menjawab intrik politik kotor dan premanisme dengan etika tinggi: membagikan bunga dan memungut sampah.
Namun, kesantunan ini jangan sampai disalahartikan sebagai kelemahan. Kehadiran fisik ribuan manusia di pusat pemerintahan adalah pesan tegas bahwa solidaritas mereka tak bisa digoyahkan. Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Pemerintah daerah harus membuka mata lebar-lebar, karena ancamannya bukan hanya soal hukum, tetapi bencana ekologis yang sudah di depan mata.
Pembiaran terhadap perusakan kebun kopi adalah resep menuju kehancuran lingkungan. Kopi adalah tanaman keras, benteng terakhir penahan air dan penjaga kestabilan tanah di lereng Ijen. Jika pohon-pohon ini terus dibabat habis dan digantikan secara ilegal dengan tanaman sayuran musiman demi keuntungan bisnis instan, maka fungsi hidrologis tanah akan hancur. Tanah tak akan mampu lagi menahan air hujan. Artinya, bencana banjir bandang dan tanah longsor tinggal menunggu waktu untuk menenggelamkan wilayah di bawahnya. Apakah demi syahwat politik dan bisnis segelintir oknum, kita rela menumbalkan keselamatan rakyat Bondowoso di masa depan?
Lautan massa putih ini adalah monumen pertanyaan besar: apakah negara akan hadir membela warganya yang sah menjaga aset dan kelestarian alam? Atau justru negara akan kalah, diam, dan membiarkan hukum rimba berkuasa? Jika pembiaran ini berlanjut, dampaknya tak hanya merusak neraca perusahaan dan citra "Republik Kopi", tetapi juga mewariskan bencana alam bagi anak cucu. Negara harus hadir, sekarang juga. Berangus anarki, tangkap aktor intelektualnya, dan selamatkan Bondowoso dari kehancuran sosial maupun ekologis.(**)
Oleh: Andi Firmansyah, penulis adalah Pemerhati Sosial Kemasyarakatan, Alumni Universitas Muhammadiyah Lampung.
Editor: Agus Setyawan
