Lebih Baik dari Nasional, Lampung Alami Deflasi 0,07 Persen di Awal 2026

img
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung.

MOMENTUM, Lampung--Provinsi Lampung mengalami deflasi 0,07 persen di awal 2026. Meski demikian, catatan itu masih lebih baik dibandingkan nasional sebesar 0,15 persen.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Deputi Direktur Achmad P. Subarkah mengatakan, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi 0,07 persen (mtm) pada Januari 2026, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,59 persen (mtm).

Realisasi tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan nasional yang mengalami deflasi 0,15 persen (mtm) dan rata-rata tingkat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Lampung pada bulan Januari dalam 3 (tiga) tahun terakhir yang mengalami deflasi 0,11 persen (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi Provinsi Lampung secara tahunan sebesar 1,90 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,55 persen (yoy).

Dilihat dari sumbernya, deflasi pada Januari 2026 utamanya disebabkan oleh penurunan harga komoditas yang tergabung dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok transportasi, yaitu cabai merah, bawang merah, cabai rawit, bensin, dan jeruk dengan andil masing-masing sebesar -0,25 persen; -0,12 persen, -0,06 persen, -0,03 persen, dan -0,03 persen (mtm).

Penurunan harga cabai merah dan cabai rawit sejalan dengan peningkatan pasokan yang didukung oleh mulai masuknya masa panen pada sentra produksi utama, khsususnya Kabupaten Pringsewu dan Kabupaten Lampung Timur. Sementara itu, penurunan harga bawang merah selain dipengaruhi oleh peningkatan pasokan selama masa panen, juga didukung oleh realisasi kerja sama KAD B2B antara BUMD Jawa Tengah dengan Lampung.

Dari sisi nonpangan, penurunan harga bensin dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh Pertamina.

Sisi lain, deflasi yang lebih dalam pada Januari 2026 tertahan oleh kenaikan harga komoditas yang tergabung dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok jasa pelayanan makanan dan minuman, yaitu emas perhiasan, tomat, kangkung, bayam, dan nasi dengan lauk dengan andil masing- masing sebesar 0,08 persen, 0,05 persen, 0,04 persen, 0,03 persen, dan 0,03 persen (mtm).

Kenaikan harga emas perhiasan seiring berlanjutnya tren peningkatan harga emas dunia di tengah tingginya ketidakpastian global.

Selanjutnya, kenaikan harga tomat, kangkung, dan bayam disebabkan oleh penurunan produksi di daerah sentra akibat tingginya curah hujan.

Ke depan, KPw BI Provinsi Lampung memprakirakan bahwa inflasi di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy) pada akhir tahun 2026.(**)






Editor: Agus Setyawan





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos