MOMENTUM, Jakarta -- Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan pentingnya semangat inovasi di kalangan pekerja guna menghadapi dinamika geopolitik, geoekonomi global, serta pesatnya perkembangan teknologi.
Pesan itu disampaikan Yassierli saat menghadiri Apel Pegawai PT Panasonic Gobel Indonesia di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Menurut Yassierli, pekerja perlu terus membangun budaya inovasi meskipun tingkat produktivitas perusahaan telah berjalan baik. Sebab, selalu terdapat ruang untuk melakukan perbaikan dalam setiap proses kerja.
“Produktivitas kita mungkin sudah baik, tetapi filosofi seorang pekerja yang inovatif adalah selalu ada ruang untuk melakukan perbaikan dan inovasi,” kata Yassierli.
Ia mengatakan perkembangan teknologi, mulai dari komputer, kecerdasan buatan (AI), hingga sensor digital, harus dipandang sebagai alat pendukung untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja, bukan ancaman bagi pekerja.
Yassierli mengaku banyak belajar dari budaya kerja Jepang, khususnya mengenai konsep continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan.
“Saya belajar cukup lama di bidang teknik industri dan banyak belajar dari budaya kerja Jepang tentang continuous improvement. Selalu ada pertanyaan, bulan depan apa cara yang lebih baik yang bisa dilakukan agar pekerjaan menjadi lebih produktif dan berkualitas,” ujarnya.
Ia meyakini semangat inovasi di lingkungan PT Panasonic Gobel Indonesia telah tumbuh dengan baik. Namun, menurutnya, budaya tersebut perlu diperkuat secara lebih luas dengan melibatkan seluruh unsur perusahaan, termasuk serikat pekerja.
“Ada budaya dan semangat untuk tumbuh bersama menuju tujuan bersama. Kombinasi disiplin ala Jepang dan kekeluargaan ala Indonesia ini sangat bagus dan melahirkan berbagai inovasi secara kultural,” katanya.
Selain mendorong inovasi, Yassierli juga mengingatkan pentingnya pekerja tetap relevan di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Menurut dia, inovasi dan produktivitas membutuhkan kompetensi baru sehingga semangat belajar harus terus dijaga.
“Inovasi dan produktivitas membutuhkan kompetensi baru. Karena itu, semangat untuk terus belajar harus selalu dijaga,” ucapnya.
Di tengah perubahan global, ia menekankan prinsip no one left behind atau tidak ada pekerja yang tertinggal harus menjadi perhatian bersama. Seluruh pekerja, kata dia, harus memiliki kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan beradaptasi terhadap perubahan.
“Jangan sampai ada satu pun karyawan yang tertinggal. Semua berhak mendapatkan upskilling dan reskilling,” ujarnya. (**)
Editor: Muhammad Furqon
