Seruit: Rasa yang Menyatukan Lampung Sejak Berabad-abad

img

Oleh: Majid Lintang 

DI LAMPUNG, ada satu hidangan yang tak pernah kehilangan tempat di meja makan maupun di hati masyarakatnya. Namanya seruit. Bagi orang luar, ia mungkin hanya ikan bakar yang dipadukan sambal dan lalapan. Namun bagi orang Lampung, seruit adalah cerita tentang sungai, kebun durian, adat, dan persaudaraan yang diwariskan lintas generasi.

Dari Sungai Menuju Meja Makan

Jauh sebelum jalan raya menghubungkan pesisir dan pedalaman, masyarakat Lampung menggantungkan hidup pada sungai-sungai besar seperti Way Seputih, Way Sekampung, Way Tulangbawang, Way Semangka, dan Way Mesuji. Sungai-sungai itu menghadirkan ikan baung, belida, layis, patin, gabus, hingga nila yang menjadi sumber protein utama.

Ikan hasil tangkapan dibakar di atas bara kayu atau digoreng sederhana. Lalu lahirlah kebiasaan mencampurkan daging ikan dengan sambal terasi, jeruk sambal, dan tempoyak. Dari kebiasaan sederhana itulah seruit tumbuh menjadi identitas kuliner Lampung.

Tradisi makan bersama yang disebut nyeruit kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat Lampung Pepadun maupun Saibatin. Seusai panen, setelah musyawarah adat, ketika menerima tamu, atau sekadar berkumpul pada sore hari, seruit selalu hadir di tengah lingkaran keluarga.

Tempoyak: Warisan dari Musim Durian

Di balik kelezatan seruit, ada sosok yang sering luput dari perhatian: para pembuat tempoyak.

Saat musim durian tiba, terutama di wilayah Tanggamus, Lampung Barat, Way Kanan, Pesawaran, dan Lampung Utara, aroma durian memenuhi kebun dan halaman rumah. Sebagian buah dijual segar, tetapi sebagian lagi diolah menjadi tempoyak agar dapat dinikmati sepanjang tahun.

Para ibu biasanya mengeluarkan daging durian dari bijinya, mencampurnya dengan sedikit garam, lalu memasukkannya ke dalam tempayan tanah liat atau stoples kaca. Beberapa hari kemudian, fermentasi alami menghadirkan rasa asam yang khas.

"Tempoyak yang baik tidak terlalu asam, masih menyimpan manis durian, dan aromanya lembut," demikian petuah yang kerap diwariskan para orang tua kepada anak-anak mereka.

Membuat tempoyak bukan sekadar mengawetkan durian. Ia adalah pengetahuan kuliner yang diwariskan dari dapur ke dapur, dari ibu kepada anak perempuan, dari nenek kepada cucunya.

Nyeruit: Makan yang Menyatukan

Dalam budaya Lampung, nyeruit lebih dari sekadar makan bersama. Semua orang duduk melingkar tanpa sekat. Sambal berada di tengah. Ikan dibagi rata. Tak ada piring yang lebih istimewa dari yang lain.

Di sinilah anak-anak belajar menghormati orang tua, kaum muda mendengar petuah tetua adat, dan keluarga besar mempererat hubungan.

Seruit menjadi ruang dialog yang hangat. Banyak persoalan keluarga diselesaikan di sela-sela suapan nasi dan gurihnya ikan bakar.

Seruit Hari Ini

Meski Lampung telah dipenuhi restoran modern, seruit tetap bertahan. Banyak rumah makan mempertahankan resep turun-temurun, menggunakan ikan segar dari sungai atau tambak, sambal yang diulek di cobek batu, dan tempoyak buatan sendiri.

Setiap daerah memiliki sentuhan rasa yang berbeda. Ada yang lebih dominan tempoyaknya, ada yang mengandalkan terasi bakar, ada pula yang memberi tambahan mangga muda untuk rasa segar.

Jejak Seruit di Berbagai Daerah Lampung

Bagi para pelancong, berburu seruit menjadi cara terbaik mengenal budaya Lampung. Sejumlah tempat yang dikenal luas menyajikan seruit antara lain:

- Bandar Lampung, dengan banyak rumah makan khas Lampung di kawasan Jalan ZA Pagar Alam, Jalan Teuku Umar, dan Jalan Pangeran Antasari.

- Metro, yang menawarkan rumah makan keluarga dengan seruit ikan nila dan patin.

- Pringsewu, tempat seruit kerap dipadukan dengan ikan air tawar hasil kolam setempat.

- Kota Agung (Tanggamus), yang terkenal dengan ikan segar dari Teluk Semaka dan tempoyak rumahan.

- Liwa (Lampung Barat), yang menghadirkan seruit dengan suasana pegunungan serta durian lokal saat musim panen.

- Menggala (Tulang Bawang), daerah yang kaya ikan sungai seperti baung dan patin.

- Kotabumi (Lampung Utara), dengan banyak rumah makan yang mempertahankan resep seruit tradisional.

Selain rumah makan, pengalaman paling berkesan justru sering ditemukan di rumah-rumah warga saat ada hajatan atau syukuran. Di sanalah tradisi nyeruit masih hidup dalam bentuknya yang paling asli.

Kuliner yang Menjadi Identitas

Seruit adalah bukti bahwa sebuah makanan mampu menjadi penanda jati diri suatu daerah. Di dalamnya tersimpan kekayaan sungai, hasil kebun, kearifan mengolah fermentasi, dan semangat kebersamaan masyarakat Lampung.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Sai Bumi Ruwa Jurai, menikmati seruit bukan hanya soal memuaskan selera. Setiap suapan adalah perjalanan menyusuri sejarah, menyentuh tradisi, dan merasakan hangatnya persaudaraan yang telah bertahan selama berabad-abad.

Karena itulah, orang Lampung percaya, seruit akan selalu lebih dari sekadar makanan. Ia adalah rasa yang menjaga ingatan tentang rumah.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos