Oleh: Majid Lintang
ASAP tipis mengepul dari semangkuk pindang patin yang baru saja diangkat dari tungku. Aromanya datang lebih dahulu daripada suaranya. Harum serai, kunyit, kemangi, dan belimbing wuluh berkelindan memenuhi ruang, seolah memanggil siapa saja untuk segera duduk di depan meja. Kuahnya bening kekuningan, tidak menyembunyikan potongan ikan patin yang gemuk dan lembut. Dalam semangkuk hidangan itu, Sungai Way Sekampung, Way Tulangbawang, hingga Way Seputih seperti ikut mengalir.
Di Lampung, pindang patin bukan sekadar masakan. Ia adalah cerita tentang tanah yang dipeluk sungai, tentang nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit, dan tentang ibu-ibu yang percaya bahwa masakan terbaik selalu dimulai dari kesabaran.
Setiap pagi, ikan patin segar datang dari keramba atau hasil tangkapan sungai. Dagingnya yang putih, lembut, dan sedikit berlemak menjadikannya pilihan utama untuk dipindang. Kesegarannya adalah syarat mutlak. Sebab, bumbu hanya bertugas mengangkat cita rasa, bukan menyembunyikan kualitas ikan.
Keajaiban pindang Lampung justru terletak pada kesederhanaannya. Bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, serai, lengkuas, daun salam, cabai, tomat, dan belimbing wuluh direbus perlahan hingga melahirkan kuah yang jernih. Tidak ada santan yang mengaburkan rasa. Tidak ada rempah yang saling berebut panggung. Semua bekerja dalam harmoni.
Begitu potongan patin dimasukkan ke dalam rebusan, kuah perlahan menyerap sari ikan. Sesaat sebelum api dimatikan, segenggam daun kemangi ditaburkan. Aroma segarnya seketika mengubah dapur menjadi ruang yang penuh kenangan.
Rasa pertama yang menyentuh lidah adalah asam yang lembut. Lalu gurih ikan muncul perlahan, disusul pedas yang tidak tergesa-gesa. Hangat jahe dan kunyit tinggal paling lama, membuat setiap suapan terasa menenangkan. Inilah rasa yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirindukan.
Di banyak rumah di Lampung, pindang patin hampir selalu hadir ketika keluarga besar berkumpul. Saat Lebaran, syukuran panen, atau sekadar makan siang pada hari Minggu, semangkuk pindang menjadi pusat perhatian. Sendok-sendok bergerak cepat, nasi hangat ditambah berkali-kali, sementara percakapan mengalir tanpa terasa.
Setiap daerah memiliki sentuhan yang berbeda. Ada yang lebih menyukai rasa asam dari belimbing wuluh, ada pula yang menggunakan tempoyak, fermentasi durian yang memberi karakter asam dan aroma khas. Sebagian keluarga menambahkan cabai rawit utuh agar pedasnya muncul perlahan, sementara yang lain memilih kuah yang lebih ringan agar rasa asli ikan tetap mendominasi.
Meski sering dibandingkan dengan pindang Palembang, versi Lampung memiliki watak sendiri. Kuahnya lebih ringan, rasa segarnya lebih menonjol, dan rempah-rempahnya tidak berusaha mendominasi. Di sinilah identitas kuliner Lampung berbicara: sederhana, jujur, tetapi meninggalkan kesan yang panjang.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan sajian modern yang penuh keju atau saus instan, pindang patin tetap bertahan. Ia tidak membutuhkan kemasan mewah atau promosi berlebihan. Cukup semangkuk kuah hangat, seekor patin segar, dan sepiring nasi putih, maka sebuah perjalanan rasa telah dimulai.
Mungkin itulah sebabnya banyak perantau Lampung selalu menyebut pindang patin sebagai masakan yang paling mereka rindukan. Bukan semata karena rasanya, melainkan karena setiap suapan membawa pulang suara dapur ibu, aroma kayu bakar, dan gemericik sungai yang pernah menjadi bagian dari masa kecil.
Di Lampung, pindang patin mengajarkan satu hal sederhana: makanan terbaik bukanlah yang paling mahal atau paling rumit, melainkan yang mampu membuat seseorang merasa pulang, bahkan ketika rumah tinggal sejauh ratusan kilometer.(*)
Editor: Muhammad Furqon
