Oleh: Emma Haryani - Praktisi Pendidikan di Lampung Barat, Alumni FKIP Universitas Lampung
ADA satu pertanyaan sederhana yang semestinya mengawali pembicaraan tentang Pemilihan Rektor Universitas Lampung periode 2027–2031:
Apakah Unila sedang membutuhkan sekadar pergantian rektor, atau membutuhkan perubahan arah?
Pertanyaan ini penting karena perguruan tinggi hari ini tidak hidup dalam situasi yang sama seperti satu atau dua dekade lalu. Dunia berubah jauh lebih cepat daripada birokrasi kampus.
Teknologi kecerdasan buatan mulai mengubah jenis pekerjaan. Dunia industri membutuhkan kompetensi baru. Mahasiswa tidak lagi hanya mencari ijazah, tetapi juga memastikan apakah pendidikan yang mereka tempuh benar-benar memberi jalan menuju masa depan.
Di sisi lain, perguruan tinggi menghadapi tantangan lain: persaingan mendapatkan mahasiswa semakin ketat, tuntutan akreditasi semakin kompleks, biaya pendidikan menjadi perhatian masyarakat, sementara dosen harus berhadapan dengan berbagai kewajiban administratif yang tidak sedikit.
Dalam situasi seperti ini, pertanyaan tentang siapa yang akan memimpin Unila selama lima tahun ke depan menjadi sangat strategis.
Bagi saya sebagai alumni FKIP Universitas Lampung dan praktisi pendidikan di Lampung Barat, Pilrek Unila bukan sekadar urusan internal kampus.
Ini menyangkut masa depan pendidikan tinggi di Lampung.
Ini menyangkut masa depan ribuan mahasiswa.
Dan pada akhirnya, ini menyangkut apakah Unila akan menjadi universitas yang semakin relevan atau justru perlahan tertinggal oleh perubahan zaman.
Jangan Terjebak Keberhasilan Masa Lalu
Unila tentu telah mencapai berbagai kemajuan.
Namun, keberhasilan masa lalu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berbenah.
Justru semakin besar sebuah universitas, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk berani melakukan evaluasi.
Jangan sampai kita terjebak dalam kebanggaan terhadap akreditasi, peringkat, jumlah publikasi, jumlah mahasiswa atau banyaknya kegiatan, tetapi lupa mengukur dampaknya.
Pertanyaan paling sederhana sebenarnya sangat menentukan:
Apa yang terjadi pada mahasiswa setelah mereka meninggalkan kampus?
Apakah mereka mendapatkan pekerjaan?
Apakah pekerjaan itu sesuai dengan kompetensinya?
Berapa lama mereka menunggu pekerjaan?
Apakah ilmu yang mereka dapatkan benar-benar digunakan?
Apakah mereka mampu menciptakan pekerjaan?
Pertanyaan tersebut harus dijawab dengan data, bukan asumsi.
Karena itu, tracer study harus ditempatkan sebagai instrumen penting untuk mengukur kualitas pendidikan, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Kampus perlu mengetahui perjalanan lulusannya enam bulan, satu tahun, bahkan tiga tahun setelah wisuda.
Jika data menunjukkan adanya persoalan, maka universitas harus berani bertindak.
Berani Bertanya: Apakah Semua Program Studi Masih Relevan?
Ini adalah pertanyaan yang mungkin tidak nyaman.
Tetapi universitas yang sehat harus berani bertanya kepada dirinya sendiri.
Apakah semua program studi yang ada hari ini masih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja?
Pertanyaan ini bukan berarti semua program studi yang peminatnya turun harus ditutup.
Sama sekali tidak.
Ilmu pengetahuan tidak boleh diukur hanya dari jumlah peminat.
Ilmu dasar, pendidikan, hukum, sosial, humaniora dan berbagai disiplin lainnya memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat.
Namun, program studi yang mengalami persoalan harus dievaluasi.
Kurikulumnya diperbarui.
Model pembelajarannya diperbaiki.
Kompetensi lulusannya disesuaikan.
Dan jika diperlukan, program studi lama harus berani bertransformasi menjadi bidang keilmuan baru.
Jangan sampai universitas menghasilkan lulusan untuk pekerjaan yang sudah berubah, sementara kampus masih menggunakan pendekatan pendidikan yang sama.
Jangan Biarkan Dosen Tenggelam dalam Administrasi
Ada persoalan lain yang juga perlu mendapat perhatian serius: beban administratif dosen.
Dosen adalah jantung akademik universitas.
Tetapi semakin banyak tuntutan administrasi yang harus dipenuhi, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk melakukan pekerjaan utama: mengajar, membimbing, meneliti dan mengembangkan ilmu.
Akreditasi memang penting.
Pelaporan memang penting.
Dokumentasi memang penting.
Tetapi kita harus bertanya: apakah semua dokumen tersebut benar-benar memberikan nilai tambah terhadap mutu pendidikan?
Jangan sampai dosen menjadi sangat sibuk membuktikan bahwa mereka bekerja, tetapi justru kehilangan waktu untuk benar-benar bekerja.
Rektor berikutnya perlu berani melakukan audit birokrasi.
Mana administrasi yang wajib?
Mana yang bisa disederhanakan?
Mana yang bisa diintegrasikan?
Mana yang bisa dikerjakan secara otomatis melalui sistem digital?
Digitalisasi seharusnya mengurangi pekerjaan manusia, bukan menciptakan pekerjaan baru.
Unila Harus Turun dari Menara Gading
Lampung membutuhkan universitas yang hadir untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Kita memiliki persoalan pertanian, perkebunan, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, lingkungan, pesisir, energi, UMKM, ekonomi digital dan ketenagakerjaan.
Mengapa Unila tidak menjadikan persoalan-persoalan tersebut sebagai laboratorium besar untuk menghasilkan solusi?
Bayangkan jika penelitian kampus benar-benar diarahkan untuk menjawab kebutuhan Lampung.
Dosen meneliti persoalan petani.
Mahasiswa mengembangkan inovasi untuk UMKM.
Fakultas teknik membantu persoalan infrastruktur.
Fakultas pertanian mengembangkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Fakultas pendidikan memperkuat kualitas guru di daerah.
Fakultas hukum membantu memberikan perspektif terhadap persoalan regulasi dan tata kelola.
Fakultas ekonomi membantu masyarakat mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan.
Inilah kampus yang bekerja.
Bukan sekadar kampus yang sibuk menghasilkan seminar, laporan dan dokumen.
Jangan Takut pada AI
Kecerdasan buatan bukan lagi isu masa depan. Ia sudah hadir di ruang kelas, dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Unila tidak boleh hanya mengajarkan mahasiswa bagaimana menggunakan AI.
Yang jauh lebih penting adalah mengajarkan bagaimana berpikir ketika mesin semakin pintar.
Mahasiswa harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, etika dan integritas.
Sebab ketika mesin dapat menghasilkan tulisan, menghitung data, membuat desain bahkan membantu menyelesaikan persoalan hukum dan bisnis, manusia harus memiliki kemampuan yang lebih tinggi: menentukan tujuan, mempertimbangkan nilai, memahami konteks dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Rektor berikutnya harus memastikan bahwa transformasi digital bukan sekadar membeli perangkat atau membangun aplikasi.
Transformasi harus masuk ke jantung pendidikan.
Kampus Harus Aman dan Berintegritas
Tidak ada universitas unggul tanpa lingkungan akademik yang sehat.
Mahasiswa harus merasa aman.
Dosen harus merasa dihargai.
Tenaga kependidikan harus diperlakukan secara adil.
Dan siapa pun yang berada di dalam kampus harus terlindungi dari kekerasan seksual, perundungan, intimidasi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Satgas PPKS tidak boleh hanya menjadi nama dalam struktur organisasi.
Harus ada mekanisme yang jelas.
Harus ada perlindungan terhadap korban.
Harus ada kepastian penanganan.
Dan yang tidak kalah penting, harus ada keberanian untuk memastikan bahwa relasi kekuasaan tidak menghalangi proses penyelesaian masalah.
Reputasi universitas tidak hanya dibangun dari gedung megah dan prestasi akademik.
Reputasi juga dibangun dari bagaimana universitas memperlakukan manusia di dalamnya.
Jangan Membebani Mahasiswa atas Nama Kemandirian
Universitas membutuhkan pembiayaan yang kuat.
Tetapi kemandirian keuangan jangan diterjemahkan secara sederhana sebagai menaikkan beban mahasiswa.
Rektor harus kreatif mencari sumber pendanaan lain.
Kerja sama riset.
Hilirisasi inovasi.
Kerja sama industri.
Pengembangan unit usaha yang sehat.
Penguatan jejaring alumni.
Filantropi pendidikan.
Dan berbagai bentuk kerja sama lain yang transparan serta dapat dipertanggungjawabkan.
Anak-anak Lampung dari keluarga kurang mampu harus tetap memiliki kesempatan untuk masuk perguruan tinggi.
Universitas negeri harus menjadi tempat bertemunya keunggulan akademik dan keadilan sosial.
Sepuluh Pertanyaan yang Harus Dijawab
Karena itu, saya kira para bakal calon Rektor Unila perlu diuji dengan pertanyaan sederhana tetapi fundamental.
Pertama, apa tiga persoalan terbesar Unila yang akan diselesaikan dalam 100 hari pertama?
Kedua, berapa target lulusan yang memperoleh pekerjaan sesuai kompetensi dalam enam bulan setelah wisuda?
Ketiga, apakah bersedia mengevaluasi program studi yang terus mengalami penurunan peminat?
Keempat, berapa persen beban administrasi dosen yang dapat dipangkas?
Kelima, apa lima agenda penelitian yang benar-benar menjadi prioritas?
Keenam, berapa banyak hasil penelitian yang ditargetkan digunakan pemerintah, industri atau masyarakat?
Ketujuh, bagaimana strategi menghadapi dampak AI terhadap pendidikan dan dunia kerja?
Kedelapan, bagaimana meningkatkan pendapatan universitas tanpa menjadikan mahasiswa sebagai sumber pembiayaan utama?
Kesembilan, bagaimana memastikan kasus kekerasan seksual dan penyalahgunaan kekuasaan ditangani secara profesional dan adil?
Kesepuluh, ketika masa jabatan berakhir pada 2031, perubahan apa yang secara konkret dapat dirasakan mahasiswa, dosen, alumni dan masyarakat?
Saya kira, jawaban atas sepuluh pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada panjangnya dokumen visi-misi.
Rektor Bukan Penguasa Kampus
Ada satu hal yang juga perlu diingat.
Rektor bukan penguasa kampus.
Rektor adalah pemimpin akademik dan organisatoris yang mendapatkan mandat untuk membawa institusi mencapai tujuan bersama.
Karena itu, kepemimpinan universitas membutuhkan keterbukaan.
Kritik tidak boleh dianggap sebagai ancaman.
Perbedaan pendapat tidak boleh dianggap sebagai pembangkangan.
Mahasiswa bukan sekadar angka dalam laporan penerimaan.
Dosen bukan sekadar objek penilaian.
Tenaga kependidikan bukan sekadar pelaksana administrasi.
Dan alumni bukan hanya diminta hadir ketika kampus membutuhkan dukungan.
Universitas yang sehat adalah universitas yang mampu membangun budaya dialog.
Jangan Pilih yang Sekadar Aman
Pada akhirnya, saya tidak sedang mencari sosok rektor yang sempurna.
Saya juga tidak percaya ada pemimpin yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan dalam waktu singkat.
Yang saya harapkan adalah pemimpin yang berani.
Berani mengevaluasi.
Berani mendengar kritik.
Berani mengakui kekurangan.
Berani menyederhanakan birokrasi.
Berani mengubah program yang tidak lagi relevan.
Berani memprioritaskan penelitian yang berdampak.
Berani menghadapi perubahan teknologi.
Dan yang paling penting, berani mengambil keputusan yang benar meskipun keputusan itu tidak selalu populer.
Sebab universitas yang hanya memilih pemimpin untuk menjaga keadaan tetap aman mungkin akan terlihat tenang.
Tetapi dunia di luar kampus tidak pernah berhenti bergerak.
Jika Unila terlalu lama berada di zona nyaman, justru ketenangan itulah yang dapat menjadi masalah.
Karena itu, Pilrek Unila 2027–2031 harus menjadi momentum untuk memilih pemimpin yang mampu membawa kampus keluar dari zona nyaman.
Bukan sekadar mempertahankan apa yang sudah ada, tetapi memperbaiki apa yang belum baik.
Bukan sekadar mengejar peringkat, tetapi meningkatkan dampak.
Bukan sekadar menghasilkan lulusan, tetapi memastikan lulusan memiliki masa depan.
Sebagai alumni FKIP Unila dan praktisi pendidikan di Lampung Barat, saya ingin melihat Unila menjadi universitas yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Lampung.
Saya ingin anak-anak dari Lampung Barat, Pesisir Barat, Way Kanan, Tulang Bawang, Mesuji, Lampung Timur, Lampung Selatan, Bandar Lampung dan seluruh wilayah Lampung melihat Unila sebagai rumah masa depan yang terbuka bagi mereka.
Saya ingin penelitian Unila tidak berhenti di perpustakaan.
Saya ingin inovasi Unila tidak berhenti di laboratorium.
Saya ingin mahasiswa Unila tidak hanya lulus dengan ijazah, tetapi dengan kemampuan yang membuat mereka dibutuhkan.
Dan saya ingin dosen Unila memiliki lebih banyak waktu untuk mendidik, meneliti dan mencerdaskan bangsa.
Karena itu, mari kita jadikan Pilrek Unila 2027–2031 bukan sekadar pertarungan nama.
Jadikan ia pertarungan gagasan.
Bukan sekadar mencari siapa yang paling aman.
Tetapi mencari siapa yang paling siap menghadapi perubahan.
Sebab yang dipilih bukan hanya seorang rektor.
Yang sedang ditentukan adalah arah Universitas Lampung sampai 2031 dan masa depan generasi yang akan datang.
Unila tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai menjaga zona nyaman.
Unila membutuhkan pemimpin yang berani membuka pintu masa depan.(*)
Editor: Muhammad Furqon
