Yuk, Kenali Gejala Pernapasan Akibat Paparan Debu Vulkanik

img
Ilustrasi. Ist.

MOMENTUM, Gedongtataan -- Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Pesawaran mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Pesawaran, Sabtu (5-9-2026).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Pesawaran, Trio Pranoto, mengatakan paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.

“Dampak yang dirasakan biasanya dapat menyebabkan gangguan pernapasan disertai batuk. Maka kami menganjurkan masyarakat wajib menggunakan masker jika akan beraktivitas di luar rumah,” kata Trio.

Selain batuk, paparan abu vulkanik pada orang dewasa dapat menyebabkan tenggorokan gatal atau nyeri, pilek, hidung tersumbat, tenggorokan kering, sesak napas hingga napas berbunyi.

Paparan abu juga dapat menyebabkan mata merah, berair, dan terasa perih seperti kemasukan benda asing.

Pada sebagian orang, abu vulkanik dapat menimbulkan kulit gatal atau kemerahan, terutama pada kulit sensitif. Paparan yang cukup berat juga dapat memicu sakit kepala atau rasa tidak nyaman.

Menurut Trio, masyarakat yang memiliki riwayat asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau penyakit paru lainnya perlu lebih mewaspadai kondisi tersebut karena abu vulkanik dapat memperburuk keluhan pernapasan.

Perhatian lebih juga perlu diberikan kepada anak-anak. Saluran pernapasan anak masih berkembang dan mereka cenderung lebih aktif berada di luar rumah.

“Anak perlu mendapat perhatian lebih. Dampaknya bisa berupa batuk, pilek, tenggorokan terasa gatal atau sakit, sesak, napas berbunyi, mata merah dan berair, serta dapat memperburuk asma atau alergi,” ujarnya.

Trio mengimbau orang tua tidak membiarkan anak bermain di area yang banyak terdapat abu vulkanik. Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dikurangi ketika kondisi abu sedang pekat.

Jika harus keluar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker yang sesuai dan terpasang rapat. Kacamata pelindung juga dianjurkan untuk mengurangi paparan abu pada mata.

Selain perlindungan diri, warga diminta menutup pintu dan jendela rumah agar abu tidak mudah masuk. Makanan dan sumber air juga perlu dilindungi dari paparan abu vulkanik.

Untuk membersihkan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan cara yang tidak membuat abu kembali beterbangan. Permukaan yang dipenuhi abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan.

Trio juga meminta masyarakat tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang semakin berat, terutama sesak napas, napas cepat, atau kondisi yang terus memburuk.

“Segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan yang berat atau kondisi kesehatan semakin memburuk,” katanya.

Diskes Pesawaran mengimbau masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta instansi terkait mengenai perkembangan sebaran abu vulkanik.

Sementara itu, Rifat Arif, warga Desa Bernung, Kecamatan Gedongtataan, mengkhawatirkan kondisi tersebut karena memiliki anak yang masih balita. Kekhawatiran terutama muncul karena abu vulkanik dapat masuk ke dalam rumah.

“Sangat mengkhawatirkan, terutama karena saya punya anak balita. Abunya juga masuk ke rumah,” kata Rifat.

Ia berharap kondisi tersebut segera membaik sehingga aktivitas masyarakat, terutama anak-anak, tidak terganggu akibat paparan abu vulkanik.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos