MOMENTUM, Balikbukit — Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menyoroti lemahnya penguasaan bahasa daerah peserta dan praktik titipan juri saat membuka Lomba Cepat Tepat (LCT) di Lamban Pancasila, Kecamatan Balikbukit, Kamis, 17 September 2026.
Lomba yang digelar selama dua hari, 16-17 September 2026, tersebut diikuti perwakilan dari 15 kecamatan dengan tiga kategori, yakni SD, SMP, dan PKK.
Parosil mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, LCT bukan sekadar lomba tahunan, tetapi juga menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan di Lampung Barat serta wadah bagi sekolah menunjukkan kemampuan peserta didiknya.
Namun, berdasarkan pantauannya saat menyaksikan LCT tingkat SD, kemampuan peserta dalam penguasaan bahasa daerah masih lemah. Karena itu, ia meminta Dinas Pendidikan memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut.
"Ini jadi catatan. Bahasa daerah harus diperkuat lagi ke depan," ujar Parosil.
Selain itu, Parosil menegaskan pelaksanaan lomba harus berlangsung transparan. Ia meminta dewan juri menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas serta tidak melakukan praktik titipan dalam penilaian.
"Kepada dewan juri harus netral, tidak ada kata-kata titipan atau saudara. Semua peserta sama," tegasnya.
Parosil berharap kegiatan tersebut terus dilaksanakan setiap tahun dengan penyelenggaraan yang lebih baik.
"Kegiatan LCT ini jangan cukup berhenti sampai dengan tahun ini saja, untuk tahun 2027 harus dikemas dengan lebih apik lagi," ujarnya.
Ia juga meminta seluruh sekolah di Lampung Barat mengikuti LCT tahun depan, termasuk sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.
"Untuk tahun depan harus semua sekolah yang berada di Lampung Barat diundang mengikuti LCT, baik yang di bawah naungan Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama," tuturnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Lampung Barat Partinia Parosil Mabsus mengatakan, LCT kategori PKK menjadi salah satu alat ukur untuk melihat seberapa aktif PKK kecamatan turun ke pekon dalam melakukan pembinaan kader.
Menurut Partinia, lomba tersebut bukan sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan bagi kader posyandu.
"Anggap saja hari ini kita arisan ilmu. Apa yang belum diketahui selama ini, insya Allah hari ini akan mendapat transfer ilmu," kata Partinia.
Ia menekankan kader PKK dan posyandu tidak boleh hanya menyandang jabatan. Para kader harus memiliki pengetahuan dan memahami persoalan mendasar di masyarakat, termasuk stunting. (*)
Editor: Muhammad Furqon
