Gibran dan Ujian Kejujuran Pemimpin

img
Muhammad Furqon

PERSOALAN Gibran Rakabuming Raka bukan lagi semata soal ijazah. Ia telah berkembang menjadi pertanyaan tentang kejujuran dan integritas seorang pemimpin.

Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak menemukan bukti bahwa Gibran memiliki ijazah atau dokumen yang membuktikan kelulusan pendidikan setingkat SMA atau sederajat. Namun, MK tidak membatalkan kedudukan Gibran sebagai Wakil Presiden karena perkara tersebut bukan lagi berada dalam kewenangan MK setelah pelantikan. Persoalan pemenuhan syarat itu dinilai menjadi ranah lembaga lain.

Di tengah putusan tersebut, jawaban yang muncul justru berkutat pada pertanyaan: kalau tidak memiliki ijazah SMA, bagaimana mungkin bisa kuliah?

Ini logika yang meleset dari pokok persoalan.

Yang dipersoalkan bukan apakah Gibran pernah kuliah. Bukan pula apakah sistem pendidikan di tempat ia belajar berbeda dengan Indonesia. Pertanyaannya sederhana: ketika mendaftar sebagai calon Wakil Presiden, apakah persyaratan pendidikan minimal yang diwajibkan telah dipenuhi dan dapat dibuktikan dengan dokumen yang sah?

Kalau memang ada, tunjukkan.

Sederhana.

Baca Juga: Gara-Gara Suket

Pemimpin semestinya tidak berkelit ketika berhadapan dengan pertanyaan yang menyangkut integritas dirinya. Justru dalam situasi seperti ini, keterbukaan menjadi cara paling efektif untuk mengakhiri polemik.

Sebab jabatan publik bukan sekadar soal kemenangan politik. Ada standar moral yang melekat di dalamnya.

Rakyat berhak berharap pemimpinnya tidak hanya taat pada aturan, tetapi juga memberi teladan dalam kejujuran.

Jika dokumennya sah, buka dan jelaskan. Jika ada persoalan administratif, terangkan. Jika terdapat kekeliruan, akui dan perbaiki.

Jangan menganggap pertanyaan publik sebagai gangguan.

Sebab semakin tinggi jabatan seseorang, semakin tinggi pula tuntutan pertanggungjawabannya.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang pandai mencari alasan.

Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani berkata: "Ini buktinya!"

Itulah integritas.

Tabik.

Muhammad Furqon - Pemimpin Redaksi Harian Momentum






Editor: Muhammad Furqon





Berita Terkait

Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos