Tanggul Way Kambas Jadi Rekreasi Baru, Konstruksi Disorot

img
Tanggul pembatas di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Foto: Muhammd Furqon

MOMENTUM, Brajaselebah--Tanggul pembatas kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan lahan warga di Lampung Timur mulai dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga dan rekreasi. Setiap akhir pekan, banyak warga datang untuk bersepeda, jogging, atau sekadar berfoto.

Tanggul tersebut dibangun untuk membatasi kawasan hutan dengan lahan masyarakat guna mencegah konflik antara gajah liar dan warga yang telah berlangsung bertahun-tahun. Badan tanggul memiliki lebar dan tinggi sekitar empat meter.

Namun, tanggul sepanjang sekitar 138 kilometer dengan nilai pembangunan Rp850 miliar itu menyisakan pertanyaan mengenai ketahanan konstruksi, mulai dari badan tanggul berbahan lumpur rawa, pemasangan panel beton, hingga konstruksi jembatan dan saluran air.

Di sebagian lokasi, material utama badan tanggul berupa lumpur rawa atau endut dalam bahasa Jawa. Material tersebut untuk timbunan badan tanggul hingga ketinggian sekitar 3,5 meter sebelum dilapisi tanah liat. Hal ini menjadi perhatian, terutama terkait ketahanan tanggul saat hujan dan ketika debit air meningkat hingga mendekati bibir tanggul.Tanggul pembatas di Way Kambas yang menggunakan material lumpur kering atau endut. Foto: Muhammad Furqon.

Panel Beton Ditahan Patok Kayu

Pada sisi tanggul yang menghadap kawasan hutan, panel beton berukuran sekitar 4 x 1 meter dengan bobot diperkirakan 1,4 ton dipasang miring sekitar 60 derajat. Panel tersebut ditahan dua patok kayu gelam yang ditanam pada badan tanggul.

Bagian bawah panel bertumpu pada tanah sekitar 50 sentimeter dari dasar sungai. Berdasarkan pengamatan lapangan pada awal Oktober 2026, dasar sungai yang menjadi tempat bertumpunya panel terlihat berupa lumpur yang mengering akibat kemarau.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kestabilan panel ketika debit air meningkat, karena tanah yang menjadi tumpuan panel tersebut akan menjadi lunak. 

Jembatan dengan konstruksi drum raksasa berdiameter sekitar empat meter dengan karung plastik berisi tanah. Foto: Ist.

Jembatan dengan Karung Plastik Berisi Tanah

Jalur tanggul dilengkapi sejumlah jembatan dengan konstruksi berbeda. Di wilayah Spontan, Brajaharjosari, Kecamatan Brajaselebah, Lampung Timur, terdapat jembatan yang menggunakan tiga struktur baja berbentuk bulat seperti drum dengan diameter sekitar empat meter.

Berbeda dengan jembatan yang berstruktur beton. Sisi kiri dan kanan jembatan di tanggul Way Kambas tersebut, menggunakan karung plastik berisi tanah yang disusun bertumpuk.

Selain itu, terdapat jembatan berbentuk melengkung. Berdasarkan bentuk dan dimensinya, kedua jenis jembatan tersebut memiliki ruang lintas terbatas. Sepertinya, memang bukan untuk dilintasi mobil atau roda empat.

Jembatan dan saluran air tersebut merupakan bagian dari infrastruktur tanggul yang berfungsi menjaga aliran air sungai tetap terhubung melintasi jalur pembatas kawasan hutan.Tanggul pembatas di Way Kambas dipasang panel beton berkuran sekitar 4x1 meter yang dipatok pada badan tanggul dengan kayu. Foto: Muhammad Furqon.

Pagar Kawat Melengkapi Tanggul

Tanggul juga dilengkapi pagar pembatas berupa empat jalur kawat seling berukuran kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa. Kawat dipasang memanjang dengan jarak vertikal sekitar 50 sentimeter dan ditopang tiang besi setinggi sekitar dua meter. 

Pagar tersebut berfungsi sebagai penghalang tambahan agar gajah liar di TNWK tidak bisa melintasi tanggul untuk menyeberang keluar dari kawasan hutan.

Bagi masyarakat sekitar, tanggul diharapkan dapat menghentikan ganguan gajah liar, yang telah berlangsung bertahun-tahun sering memicu konflik dengan manusia. Tidak hanya merusak tanaman petani, tetapi juga menelan korban jiwa.

Dengan nilai pembangunan Rp850 miliar, diharapkan tanggul tersebut memiliki konstruksi yang kuat dan aman untuk jangka panjang. (*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos