Maaf

img
Andi Panjaitan, Pemred Harian Momentum.

MOMENTUM-- M. Alzier Dianis Thabranie telah meminta maaf. Begitu pesan whatsapp (WA) yang kuterima semalam. 

Dalam pesan itu disertakan pula gambar surat dari kantor hukum Wiliyus Prayietno (kuasa hukum Alzier) dengan nomor: 378/WPA-LPG/XI/2020. 

Setidaknya ada lima poin yang termuat dalam surat balasan atas somasi kedua yang dilayangkan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung. 

Intinya, melalui surat itu Alzier meminta maaf jika pernyataannya telah menyinggung pribadi Supriyadi Alfian maupun selaku Ketua PWI Provinsi Lampung. 

Pernyataan itu imbas dari ancaman yang disampaikan pengurus PWI Lampung untuk melaporkan Alzier ke Polda, sehari sebelumnya. Juga hasil mediasi sejumlah penasehat PWI tentunya.

Organisasi profesi wartawan tertua di Indonesia itu seharusnya tidak perlu bergejolak, jika sejak awal Alzier mau meminta maaf. Tapi sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi. Toh Alzier sudah memenuhi tuntutan PWI. Dia sudah meminta maaf.

Lantas bagaimana dengan Supriyadi Alfian. Apakah dia sudah memaafkan? 

Saya memang belum menanyakannya secara langsung. Tapi saya yakin, Bang Yadi—begitu saya memanggil Supriyadi Alfian, telah memaafkan.

Saya paham betul sifatnya. Meski terkadang sedikit emosional, tetapi sangat mudah memaafkan jika hatinya berhasil kita sentuh.

Lebih dari tiga belas tahun saya berguru kepadanya di dunia jurnalistik, tentu kami tidak selalu akur. Ada kalanya berbeda pandangan. Bahkan bertengkar. Baik yang menyangkut hal pribadi maupun soal perusahaan media yang kami rintis.   

Ketika dia marah, saya akan datang ke rumahnya. Meski dia cuek, saya tetap diam di tempat. Sampai dia menegur. Jika belum ditegur juga, besoknya saya akan kembali datang. 

Jika sudah menegur, berarti dia tidak marah lagi. Sudah memaafkan. Bagaimana dengan Alzier? 

Kita lihat saja nanti. Jika Bang Yadi sudah menegurnya, berarti saat itu juga dia telah ikhlas memaafkan. 

Memaafkan tentu bukan perkara mudah. Apalagi jika sudah terlanjur sakit hati. Tentu runyam urusannya.

Ibarat sehelai kertas. Bentuknya tidak akan pernah kembali seperti semula, setelah diremas. 

Begitu pun dengan hati manusia. Goresan menyakitkan itu tentu masih ada, meski orang yang berbuat salah telah meminta maaf.

Meminta maaf itu memang mulia. Tapi memberi maaf itu jauh lebih mulia dan membahagiakan. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah atas perselisihan yang sempat terjadi antara Bang Alzier dan Bang Yadi.

Suatu hari Rasulullah SAW berkata kepada seorang sahabat, "Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memuliakan dan meninggikan derajatmu?"

Sahabat itu lalu menjawab, "Tentu, ya, Rasul."

Rasul pun melanjutkan, "Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang menzalimimu, dan tetap menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu."(HR. Thabrani)

Bicara tentang memaafkan, sungguh di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Tidak seorang pun yang luput dari kesalahan. Termasuk saya. Tabikpun. (**)



Berita Terkait

Leave a Comment