Isra Miraj dan Metafora Politik Kebangsaan

img
Suwanto

MOMENTUM, Yogyakarta--Isra Miraj merupakan tonggak sejarah umat Islam yang sepatutnya tidak hanya kita peringati, akan tetapi juga meneladani nilai-nilai didalamnya.

Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh sentral kala itu memperjuangkan nasib kaum supaya menjadi kaum yang lebih beradab. Bahkan, Rasulullah SAW rela meminta keringanan shalat yang awalnya 50 waktu hingga 5 waktu, demi kemudahan kaumnya kelak saat menjalankan ibadah. 

Dari sini kita bisa lihat bahwa Nabi SAW lebih mementingkan dimensi keumatan-kebangsaan, bukan dimensi individual untuk ambisi pribadi ataupun untuk identitas kelompok tertentu.

Ketika makna Isra’ Mi’raj tersebut kita tarik pada tatanan iklim perpolitikan Indonesia saat ini, maka sejatinya para pejabat publik ataupun elite politik harus berusaha meneladani laku nabi pada peristiwa Isra Miraj. 

Mereka sudah seharusnya bisa melebur egoisitas individual, melebur seluruh identitas partai politik demi persatuan bangsa dan demokrasi yang damai. Namun, akhir-akhir ini yang terjadi justru bertolak belakang dengan spirit Isra’ Mi’raj. Bangsa kita kerap kali disuguhi tensi panas suhu politik yang tak sehat. Polemik Partai Demokrat adalah salah satu contoh nyata.

Terlepas dari siapa yang sah menjadi ketua umum partai berlogo Mercy tersebut, polemik Partai Demokrat adalah salah satu contoh, krisis kedewasaan politik. Kita lihat tiap-tiap kubu saling sikut demi ambisi individual tanpa mempedulikan solidaritas persatuan. 

Prinsip individual yang mengatasnamakan partai tertentu tersebut sudah seharusnya dilenyapkan untuk menata kembali iklim demokrasi damai dan persatuan bangsa. Bukankah Islam melalui peristiwa Isra Miraj mengajarkan untuk menghilangkan egoisme individual dan memprioritaskan kepentingan umat atau bangsa.

Di samping itu, peristiwa Isra Miraj juga mengajarkan kepada kita betapa pentingnya pembinaan mental. Sebagaimana disebutkan Abudin Nata (2017) bahwa di antara ajaran yang tercermin dalam peristiwa Isra Miraj adalah tentang pembinaan mental, mulai dari pembersihan hati serta meluruskan sikap dan akhlak manusia. 

Sejarah Islam mencatat bahwa sebelum melakukan perjalanan Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW dibersihkan terlebih dahulu batinnya dengan dibelah dadanya, dibersihkan dari sifat-sifat yang buruk, dan diisi dengan dengan keimanan, keislaman dan kesalehan yang paripurna.

Isra Miraj mengajarkan kita agar memiliki wawasan tauhid, keseimbangan, universalitas dan akhlak mulia. Contoh Islam mengajarkan bahwa bersikap mementingkan jangka panjang lebih utama daripada mementingkan jangka pendek. Mementingkan kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia. 

Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT, “Wa al-akhiratu khairun wa abqa; (Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal)” (Q.S. al-A’la [87]: 17). 

Kemudian, “Wa lal akhiratu khairun laka min al-Uulaa” (dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan) (Q.S. al-Dhuha [94]:4). 

Orang yang demikian tidak akan bersifat aji mumpung, menghalalkan segala cara untuk ambisi politik, memeras, menebar hoax dan fitnah keji yang semuanya itu dilakukan semata-mata nafsu duniawi. 

Sebaliknya, orang yang bersikap mementingkan jangka panjang yakni akhirat akan mengumatakan kepentingan bangsa, memperbanyak amal, menyenangkan orang, memberikan pertolongan banyak orang tanpa pandang bulu membeda-bedakan (diskriminasi). Semua laku politiknya tetap mengedepankan keutuhan dan persatuan bangsa. 

Relasi Spiritual Sosial

Rasa-rasanya pejabat publik dan elite politik negeri perlu menyelami makna Isra’ Mi’raj untuk diteladani. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita kontekstualisasikan dalam perpolitikan tanah air. Pertama, isra yang merupakan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di al-Quds Palestina. 

Peristiwa Isra’ ini merupakan simbol yang melambangkan dimensi horizontal, yakni relasi manusia dengan sesama manusia lainnya (hablu minannas). 

Dalam diri manusia sejatinya ada kesadaran nurani bahwa manusia itu memiliki diri sebagai diri sosial. Untuk itu, sangatlah penting manusia mengembangkan sikap dan membangun sosialnya. 

Kata isra ini melambangkan nilai-nilai sosial yang harus dimiliki oleh manusia.

Hal inilah yang menjadi nilai penting dalam peristiwa Isra. Bagaimana Rasulullah SAW sangat peduli dengan aspek sosial. Ini juga selaras dengan tujuan Rasulullah SAW diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Kedua, kata miraj yaitu melambangkan dimensi vertikal berkaitan dengan relasi masusia dengan Tuhannya (hablu minallah). Selain dituntut untuk baik dalam segi sosialnya, setiap manusia juga harus menyeimbangkan dengan baik secara vertikal, hubungan dengan Tuhannya. 

Pastinya dengan beribadah kepada Allah SWT. Kata miraj ini mengandung nilai-nilai ke-spiritual-an manusia. Kalau kita tarik ke konteks perpolitikan Indonesia, kegaduhan di internal Partai Demokrat tentu tak sejalan dengan nilai ini. 

Mereka hanya mementingkan ambisi politiknya semata tanpa mempedulikan persatuan dan kesatuan bangsa. Orang yang segala tindakannya semata-mata untuk mencari ridho Allah SWT, mana mungkin melakukan tindakan politic war seperti itu. 

Mereka harusnya sadar bahwa segala sesuatu gerak-gerik kita diawasi oleh Allah SWT dan para berpolitik dengan segala cara adalah contoh orang-orang yang keropos hablu minallah-nya.

Ketiga, bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh atau manusianya. Artinya, ini penting mengingat pada peristiwa Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW adalah subjek dari dua aspek di atas. Nabi SAW adalah figur teladan, sosok manusia ideal yang mampu menyeimbangkan aspek isra (sosial) dan miraj (spiritual). 

Hal inilah yang patut diteladani juga oleh elite politik bangsa ini.  Karena itulah, Isra Miraj bagi bangsa ini harus dimaknai sebagai momentum penguatan relasi spiritual-sosial menuju bangsa yang berkeadaban. Isra Miraj berarti penguatan dimensi spiritual dan kebangsaan sebagai pondasi memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa .(**)

Penulis: Suwanto Peneliti Hukum dan Politik Islam, Alumnus UIN Sunan Kalijaga



Leave a Comment