MOMENTUM, Gedongtataan--Dinas Kesehatan (Dinkes) Pesawaran mencatat 62 kasus penderita HIV yang terjadi selama kurun waktu lima tahun terakhir.
Berdasarkan data Dinkes Pesawaran, pada tahun 2021 terdapat 14 kasus, kemudian menurun menjadi lima kasus pada tahun 2022. Namun, pada tahun 2023, kasus meningkat menjadi 17, dan terus naik menjadi 25 kasus pada tahun 2024 dan 27 kasus pada tahun 2025.
Total, terdapat 62 kasus HIV yang terjadi di beberapa kecamatan di Pesawaran, yaitu Gedongtataan, Kedondong, Negerikaton, serta Kecamatan Telukpandan.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pesawaran, Chris Manurung mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat dan menjauhi kebiasaan seks yang berisiko.
"Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan, serta melakukan tes HIV secara rutin jika memiliki faktor risiko," katanya.
Chris Manurung juga menerangkan, penyebab utama peningkatan kasus HIV adalah hubungan seksual berisiko, termasuk di antaranya adalah orientasi seks menyimpang, dan homoseksual.
Chris Manurung menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan upaya pencegahan dan penanganan HIV, namun masih diperlukan kerja sama yang lebih luas dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini.
"Data kami menunjukkan bahwa kasus HIV di Pesawaran didominasi oleh penderita pribumi, dan hubungan seksual berisiko menjadi penyebab utama," kata Chris Manurung, Selasa (24-2-2026).
Dinkes Pesawaran mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV/AIDS dengan melakukan tes HIV secara rutin jika memiliki faktor risiko.
Selain itu, edukasi publik tentang hubungan seksual aman juga sangat penting untuk mencegah penyebaran HIV.
"Program pencegahan yang dilakukan Dinkes sepanjang 2025 meliputi penyuluhan bahaya perilaku menyimpang dan sex bebas ke remaja dan usia produktif melalui Puskesmas, skrining populasi kunci, serta pendampingan konseling untuk pengobatan ARV guna mencapai Three Zero 2030," terangnya.
Meski begitu, Dinkes Pesawaran masih menghadapi sejumlah kendala, seperti tingginya stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), kurangnya pengetahuan masyarakat, serta rendahnya kesadaran kelompok berisiko untuk melakukan skrining.
Selain itu, keterbatasan prasarana, mobilitas penduduk yang tinggi, dan kendala operasional dalam menjangkau seluruh populasi sasaran menjadi tantangan teknis yang signifikan.
Peningkatan kasus HIV ini juga menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. "Kami akan terus meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan HIV, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan reproduksi," katanya.
Dinkes Pesawaran juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam mencegah penyebaran HIV dengan melakukan tes HIV secara rutin dan menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual. (**)
Editor: Muhammad Furqon
