Hening di Padang Arafah

img
Muhammad Furqon

MOMENTUM -- Ada satu pemandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata ketika Hari Arafah tiba. Jutaan manusia berkumpul di Padang Arafah. Lautan manusia bergerak perlahan dalam kekhusyukan dan menggetarkan hati.

Manusia datang bergelombang dari berbagai penjuru. Gema talbiyah dan takbir terdengar bersahutan tanpa henti. Namun, di tengah jutaan suara itu, suasana justru terasa hening. Hening yang lahir dari kepasrahan.

Di tempat itu, tak ada orang besar. Tak ada orang kaya, raja, pejabat, ataupun rakyat biasa. Semua dalam posisi yang sama: manusia yang membawa dosa, harapan, dan kerinduannya pada ampunan Tuhan. Jabatan, gelar, kekuasaan, bahkan kemegahan dunia mendadak kehilangan makna.

Seluruh laki-laki mengenakan dua lembar kain putih tak berjahit. Seolah menjadi pengingat bahwa pada akhirnya manusia akan dibungkus kain kafan. Seluruh atribut dunia ditinggalkan. 

Baca Juga: Warisan Era Jokowi: Caci Maki Jadi Profesi


Mereka datang dengan doa-doa terbaik. Memohon ampunan. Mengharap ridha-Nya. Berharap pulang sebagai manusia yang bersih, seperti dilahirkan kembali.

Di tengah dunia yang semakin bising—dipenuhi caci maki, kesombongan, fitnah, dan kegemaran menghakimi—Hari Arafah terasa seperti jeda yang menenangkan. Sebuah momentum untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, menundukkan kepala, lalu bercermin pada diri sendiri.

Terlalu sering manusia sibuk mengoreksi orang lain, tetapi lalai memperbaiki dirinya. Terlalu mudah menilai salah orang lain, tetapi enggan mengakui kekurangan sendiri.

Karena itu, Hari Arafah layak dimaknai sebagai gerakan refleksi. Bukan hanya bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, melainkan juga bagi kita semua. 

Ini bukan sekadar ritual tahunan atau momen spiritual sesaat, tetapi kesempatan untuk jujur pada diri sendiri: mengingat kesalahan yang pernah dibuat, kesombongan yang sempat dipelihara, serta luka yang mungkin pernah ditinggalkan pada orang lain.

Refleksi itu semestinya tidak berhenti pada rasa haru atau penyesalan. Ia harus berujung pada sesuatu yang nyata: komitmen untuk menjadi lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih rendah hati, lebih berhati-hati dalam berkata, lebih ringan meminta maaf, dan lebih tulus menebar kebaikan.

Sebab boleh jadi, makna terbesar Arafah bukan sekadar memohon ampunan. Melainkan keberanian untuk berubah—menjadi manusia yang lebih baik, lalu memulai kembali dengan hati yang lebih bersih.

Tabik.

Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum






Editor: Muhammad Furqon





Berita Terkait

Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos