Warisan Era Jokowi: Caci Maki Jadi Profesi

img
Muhammad Fuqon - Dewan Redaksi Harian Momentum

MOMENTUM -- Belum lama ini, saya bertemu kawan seperjuangan saat sama-sama menjalani kehidupan di ibu kota. Obrolan ringan sambil menyeruput kopi di teras rumah mendadak berubah serius ketika ia mengungkapkan kegelisahannya tentang kondisi masyarakat hari ini.

“Sekarang ghibah dan caci maki seperti sudah jadi profesi,” katanya.

Kalimat itu awalnya terdengar berlebihan. Namun, melihat kondisi di masyarakat, ungkapan tersebut rasanya sulit dibantah. Kini, betapa mudahnya orang menghina, mencaci, dan menjatuhkan sesama. Perbedaan pendapat bukan lagi sesuatu yang wajar, melainkan menjadi alasan untuk mempermalukan orang lain di ruang publik.

Masyarakat menjadi semakin mudah marah, mudah membenci, dan sulit menerima perbedaan. Ruang percakapan publik terasa makin bising oleh kemarahan, prasangka, dan saling curiga.

Suasana seperti itu terasa tumbuh semakin kuat dalam satu dekade terakhir. Sepuluh tahun pemerintahan, bukan waktu yang singkat. Dalam rentang itu, sebuah bangsa tidak hanya membangun jalan tol, bendungan, bandara, atau gedung-gedung megah. Lebih dari itu, sebuah rezim juga meninggalkan jejak budaya sosial. Dan salah satu hal yang terasa menguat selama era pemerintahan Joko Widoso alias Jokowi adalah budaya ghibah, caci maki, serta kebiasaan menjatuhkan orang lain.

Setiap hari ruang digital di media sosial dipenuhi hinaan, fitnah, olok-olok, hingga hujatan tanpa batas. Fenomena serupa juga merambah layar kaca. Tidak sedikit acara dialog di televisi nasional yang lebih sering mempertontonkan pertengkaran dan saling serang--bahkan menggunakan kata-kata yang tak pantas dan merendahkan--, ketimbang adu gagasan. 

Perbedaan pilihan politik seolah berubah menjadi alasan untuk saling memusuhi. Mereka yang berbeda pandangan kerap diserang secara personal, dipermalukan, dan reputasinya dihancurkan dengan berbagai cara. Termasuk menggunakan perangkat negara.

Yang lebih menyedihkan, bagi sekelompok orang, ghibah dan caci maki justru berubah menjadi komoditas sekaligus sumber penghidupan. Ada yang memproduksi dan menyebarkan konten kebencian, menggiring opini, bahkan fitnah demi menarik perhatian dan meraup keuntungan materi. 

Lebih menyedihkan lagi, sesuatu yang dahulu dianggap memalukan kini justru dipertontonkan dengan kebanggaan. Narasi kebencian, permusuhan, dan fitnah disebarkan tanpa rasa bersalah. Tak ada lagi moral dan etika. Sebagian orang, dengan penuh percaya diri, menganggap apa yang dilakukan sebagai perjuangan menegakkan kebenaran. Padahal akal sehat publik dapat menilai bahwa yang dipertontonkan tidak lebih dari membuka kualitas diri mereka sendiri.

Ini benar-benar mengerikan sekaligus menyedihkan. Selama bertahun-tahun, masyarakat seperti dibiasakan hidup dalam suasana saling membenci, saling mencaci, dan saling menghina. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi kekayaan demokrasi berubah menjadi permusuhan berkepanjangan.

Ketika kebiasaan buruk ini tumbuh dan berbiak terlalu lama, dampaknya tidak berhenti di ruang publik atau media sosial. Ia merembes ke kehidupan sehari-hari, membentuk watak sosial yang keras, mudah marah, gemar menghakimi, dan semakin sulit menghargai orang lain. Dan mungkin, itulah warisan sosial yang paling sulit diperbaiki. 

Tabik!

Muhammad Fuqon - Dewan Redaksi Harian Momentum






Editor: Muhammad Furqon





Berita Terkait

Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos