Arus Peti Kemas Internasional Tumbuh 11 Persen, Sinyal Positif Ekonomi RI

img

MOMENTUM, Jakarta -- Aktivitas ekonomi nasional pada awal 2026 menunjukkan tren positif. Salah satu indikatornya terlihat dari pertumbuhan arus peti kemas internasional yang mencapai 11 persen hingga April 2026, mencerminkan tetap kuatnya aktivitas perdagangan dan distribusi barang di tengah dinamika ekonomi global.

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatat total arus peti kemas yang dilayani mencapai 6,42 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs) hingga April 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 5,99 juta TEUs.

Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar mengatakan pertumbuhan tersebut terutama ditopang peningkatan segmen internasional, baik ekspor maupun impor.

“Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11 persen, dengan ekspor tumbuh 10 persen dan impor naik 12 persen. Sementara itu, arus peti kemas domestik tumbuh sekitar 4 persen, dengan aktivitas bongkar meningkat 5 persen dan muat naik 4 persen,” ujar Achmad dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, pertumbuhan arus peti kemas menunjukkan aktivitas logistik nasional tetap bergerak positif di tengah tantangan ekonomi global. Pelabuhan memegang peran strategis sebagai simpul utama rantai pasok nasional, mulai dari distribusi bahan baku, barang konsumsi, komoditas ekspor, hingga barang modal industri.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan perdagangan luar negeri Indonesia masih berjalan baik, sementara distribusi barang antarpulau tetap kuat menopang konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Di tengah ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara, struktur perdagangan Indonesia dinilai masih cukup tangguh. Hal itu ditopang kuatnya perdagangan intra-Asia, khususnya dengan kawasan Tiongkok dan ASEAN.

Berdasarkan data perdagangan nasional, kawasan Tiongkok dan ASEAN menyumbang sekitar 46,2 persen ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor nasional, sehingga menjadi bantalan penting bagi stabilitas arus perdagangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas mencatat pertumbuhan positif. Di antaranya lemak dan minyak hewan atau nabati tumbuh 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis 9,26 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 4,9 persen, serta produk kimia sebesar 12,27 persen.

Sementara dari sisi impor, pertumbuhan terutama terjadi pada mesin dan peralatan mekanis sebesar 22,1 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 17,91 persen, instrumen optik 20,8 persen, serta produk kimia 36,31 persen. Peningkatan tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap barang modal, komponen industri, dan bahan baku manufaktur masih tinggi seiring aktivitas investasi dan hilirisasi nasional.

Pertumbuhan arus peti kemas juga tercermin di sejumlah pelabuhan utama. Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta mencatat pertumbuhan domestik sekitar 8 persen, sedangkan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tumbuh sekitar 2 persen, didorong peningkatan layanan menuju kawasan timur Indonesia seperti Makassar, Kendari, dan Berau.

Pelabuhan Makassar juga mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen yang ditopang meningkatnya distribusi komoditas pertanian, seperti beras, jagung, dan palawija di kawasan Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Masyhud mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas dan layanan terminal peti kemas melalui penetapan terminal khusus dari fasilitas multipurpose.

“Pemerintah juga telah menetapkan standar kinerja pelayanan operasional, termasuk bongkar muat peti kemas dan kinerja peralatan yang digunakan. Evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga,” kata Masyhud.

Pada periode 2025 hingga April 2026, sebanyak 12 lokasi terminal telah ditetapkan sebagai terminal peti kemas, termasuk Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Selain itu, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan pemerintah juga dilakukan di 74 lokasi di seluruh Indonesia sepanjang 2025–2026 guna memperkuat konektivitas logistik nasional serta mendukung pertumbuhan perdagangan dan investasi.(**)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos