MOMENTUM, Telukpandan-- Kelestarian hutan mangrove di Pesawaran memberikan dampak positif terhadap pencegahan malaria. Karenanya kerusakan hutan mangrove juga berdampak pada tingginya kasus malaria di kawasan pesisir.
Pelestari konservasi hutan mangrove di Kabupaten Pesawaran, Toni Yunizar menilai kerusakan hutan mangrove yang terjadi sejak belasan tahun lalu menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya kasus malaria di wilayah pesisir Kabupaten Pesawaran.
Menurutnya, alih fungsi hutan mangrove menjadi tambak yang kemudian banyak ditinggalkan telah menciptakan genangan air yang menjadi habitat nyamuk penyebab malaria.
Toni mengatakan kerusakan mangrove mulai terjadi sejak sekitar 2007 dan semakin masif pada 2009, ketika kawasan pesisir mengalami perubahan tata ruang yang membuka peluang pembukaan tambak di kawasan hutan mangrove.
“Awalnya terjadi karena adanya program tata ruang yang menjadikan kawasan itu sebagai zona tambak. Hutan mangrove dirusak dengan alasan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui tambak, tetapi kenyataannya banyak tambak yang akhirnya tidak berfungsi dan justru menyisakan genangan air,” kata Toni, (4-7-2026).
Menurutnya, genangan air pada tambak-tambak yang tidak lagi dimanfaatkan kemudian menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab malaria.
Kondisi itu diperparah dengan aktivitas para pekerja tambak yang berinteraksi langsung di kawasan tersebut sehingga penularan malaria semakin meluas.
“Ketika itu pekerja tambak banyak yang terpapar malaria. Setelah pulang ke rumah, penyakit itu ikut terbawa dan penularannya semakin luas di masyarakat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, tingginya kasus malaria di wilayah pesisir Pesawaran pada masa itu bahkan menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk mahasiswa kedokteran dari Universitas Indonesia yang melakukan kajian lapangan.
Selain itu, bantuan obat-obatan juga pernah disalurkan melalui Puskesmas Hanura sebagai bagian dari penanganan daerah endemis malaria.
“Tingginya kasus malaria saat itu memang menjadi perhatian banyak pihak. Ada mahasiswa kedokteran yang datang melakukan penelitian dan bantuan obat-obatan dari luar negeri juga pernah masuk melalui Puskesmas Hanura karena daerah ini merupakan wilayah endemis malaria,” katanya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, Toni menilai malaria akan sulit dihilangkan apabila masih ada anggapan bahwa mangrove merupakan tanaman pengganggu yang harus ditebang.
“Selama kita masih berpikir bahwa mangrove adalah tanaman benalu yang harus dibersihkan, malaria akan sulit hilang. Kasusnya memang naik turun, tetapi persoalannya tidak pernah benar-benar selesai,” ujarnya.
Menurut Toni, keberadaan hutan mangrove justru memiliki fungsi ekologis yang penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.
Ekosistem mangrove menjadi habitat berbagai jenis ikan yang memangsa jentik nyamuk sehingga secara alami dapat membantu mengendalikan populasi nyamuk.
“Kalau ekosistem mangrove terjaga, jentik-jentik nyamuk akan dimakan oleh ikan-ikan kecil yang hidup di kawasan mangrove. Itu salah satu fungsi penting mangrove yang sering tidak dipahami masyarakat,” katanya. (*)
Editor: Muhammad Furqon
