Bag 4 (Tamat)
Oleh: Majid Lintang
PAGI terakhir di Pulau Pahawang datang tanpa banyak suara.
Matahari perlahan muncul dari balik perbukitan di seberang Teluk Lampung. Cahayanya jatuh lembut di permukaan laut, memantulkan ribuan kilau yang membuat air tampak seperti hamparan sutra. Di kejauhan, seorang nelayan mendayung perahunya dengan tenang. Burung-burung laut berputar rendah, lalu melesat menuju cakrawala.
Kampung mulai terbangun.
Dari dapur-dapur rumah warga, asap tipis mengepul membawa aroma kopi hitam dan ikan yang baru dibakar. Anak-anak berlarian di dermaga kecil, melambaikan tangan kepada perahu-perahu yang akan mengantar wisatawan kembali ke daratan. Tak ada perpisahan yang dibuat-buat. Bagi warga Pahawang, tamu datang dan pergi adalah bagian dari kehidupan, sebagaimana ombak yang tak pernah berhenti menyapa pantai.
Perahu yang membawa kami perlahan meninggalkan pulau.
Semakin jauh melaju, semakin kecil rumah-rumah yang semalam terasa begitu akrab. Pohon-pohon kelapa berubah menjadi garis hijau di kejauhan. Lalu perlahan, Pulau Pahawang hanya tampak sebagai sebidang daratan yang terapung di tengah birunya Teluk Lampung.
Baca Juga: Kampung di Tepi Laut: Penjaga Sunyi Surga Bernama Pahawang (3)
Namun ada sesuatu yang tidak ikut tertinggal.
Perjalanan selalu meninggalkan jejak. Bukan hanya dalam album foto atau rekaman video, melainkan dalam cara kita memandang dunia.
Pulau Pahawang mengajarkan bahwa laut bukan sekadar bentangan air yang indah dipotret. Di bawah permukaannya hidup jutaan organisme yang saling bergantung. Terumbu karang, padang lamun, mangrove, ikan-ikan kecil, hingga plankton yang tak kasatmata adalah mata rantai kehidupan yang tidak boleh diputus hanya demi kesenangan sesaat.
Keindahan yang kita nikmati hari ini adalah hasil kesabaran alam selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebatang karang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh beberapa sentimeter. Sebuah hutan mangrove memerlukan waktu lama untuk menjadi benteng yang kokoh bagi pantai. Seekor ikan badut hanya akan tetap berenang di antara anemon jika rumahnya tidak dirusak.
Karena itu, setiap wisatawan sesungguhnya memegang pilihan.
Datang sebagai penikmat yang hanya mengambil gambar.
Atau datang sebagai sahabat alam yang ikut menjaga keindahan agar tetap hidup.
Pilihan itu tampak sederhana. Tidak membuang sampah ke laut. Tidak menginjak terumbu karang. Tidak mengambil bintang laut atau karang sebagai oleh-oleh. Memilih menggunakan jasa pemandu lokal. Menginap di homestay milik warga. Membeli hasil kerajinan masyarakat setempat.
Langkah-langkah kecil itu mungkin tidak langsung mengubah dunia.
Tetapi bagi pulau kecil seperti Pahawang, ia berarti masa depan.
Sebab pariwisata yang baik bukanlah tentang mendatangkan sebanyak mungkin orang. Melainkan memastikan bahwa setelah ribuan orang datang, laut tetap jernih, ikan tetap berenang, mangrove tetap tumbuh, dan anak-anak kampung masih dapat menyaksikan matahari terbit dari pantai yang sama seperti yang dinikmati orang tua mereka puluhan tahun lalu.
Ketika Dermaga Ketapang kembali terlihat di depan mata, perjalanan seolah telah selesai.
Padahal sesungguhnya, ia baru dimulai.
Sebab setiap tempat yang benar-benar menyentuh hati selalu mengubah cara kita pulang.
Pulau Pahawang bukan hanya menghadiahkan pemandangan yang memanjakan mata. Ia memperlihatkan bahwa Indonesia masih menyimpan bentangan alam yang luar biasa indah, sekaligus rapuh. Surga-surga kecil itu tidak membutuhkan pujian berlebihan. Yang mereka perlukan adalah tangan-tangan yang bersedia menjaga.
Mungkin suatu hari, kita akan kembali menjejakkan kaki di pasir putihnya. Menyelam lagi di antara taman karang yang dipenuhi ikan-ikan berwarna. Menyusuri hutan mangrove yang teduh. Menikmati secangkir kopi di beranda rumah warga sambil menunggu senja turun perlahan di ufuk barat.
Dan ketika hari itu tiba, semoga Pulau Pahawang masih tetap sama.
Masih sebening hari ini.
Masih seramah orang-orangnya.
Masih menjadi rumah bagi laut yang mengajari manusia bahwa keindahan bukanlah sesuatu yang diwariskan begitu saja, melainkan sesuatu yang harus dirawat bersama.
Sebab pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang membuat kita kagum.
Melainkan perjalanan yang membuat kita pulang dengan hati yang lebih rendah, mata yang lebih peka, dan tekad untuk menjaga apa yang telah kita cintai.
Di tengah luasnya Nusantara, Pulau Pahawang adalah pengingat bahwa surga tidak selalu berada di tempat yang sulit dijangkau. Kadang ia hanya berjarak satu perjalanan perahu—lalu menetap selamanya di dalam ingatan.(*)
Editor: Muhammad Furqon
