Kebaikan Bukan Barang Dagangan

img
Muhammad Furqon

ADA seorang tokoh agama yang disegani di sebuah kampung. Ia sering menjadi tempat warga bertanya, bukan hanya soal agama, tetapi juga urusan kehidupan sehari-hari.

Suatu hari, seorang pemuda tetangganya mengundang tokoh tersebut datang ke rumah. Sesuai waktu yang disepakati, sang tokoh datang. Namun, sesampainya di sana, pemuda itu membatalkan undangan dan memintanya datang lain waktu.

Sang tokoh pulang tanpa marah.

Beberapa waktu kemudian, ia kembali diundang. Ia datang lagi. Tetapi kejadian serupa terulang. Undangan kembali ditunda.

Anehnya, sang tokoh tetap tenang.

Pada kesempatan berikutnya, pemuda itu akhirnya bertanya, “Kenapa Bapak tidak marah kepada saya? Saya sudah beberapa kali mempermainkan Bapak.”

Sang tokoh tersenyum.

“Kenapa saya harus marah? Saya datang ke rumahmu bukan karena mengharapkan perlakuan tertentu. Saya datang karena kewajiban saya menghormati dan menghargai tetangga. Bagaimana kamu memperlakukan saya, itu urusanmu. Bagaimana saya bersikap kepadamu, itu tanggung jawab saya.”

Pemuda itu terdiam dan meminta maaf.

Jawaban sederhana itu sebenarnya menyimpan pelajaran besar. Kita sering berbuat baik dengan harapan diperlakukan baik pula. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kebaikan berubah menjadi kekecewaan.

Kita menghormati karena ingin dihormati. Membantu karena berharap dibantu. Menyapa karena ingin disapa.

Padahal, kalau semua kebaikan harus menunggu balasan, kita sebenarnya sedang berdagang, bukan berbuat baik.

Maka, berbuat baiklah karena memang itu yang benar. Jangan biarkan buruknya sikap orang lain menentukan buruknya sikap kita.

Sebab akhlak kita adalah tanggung jawab kita, bukan cermin dari perilaku orang lain.

Tabik.

Muhammad Furqon - Pemimpin Redaksi Harian Momentum

Sumber: Ceramah Gus Baha






Editor: Muhammad Furqon





Berita Terkait

Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos