Jelang Ramadhan, Harga Sembako di Pesawaran Merambat Naik

img
Pedagang sembako di salah satu pasar tradisional di Kabupaten Pessawaran

MOMENTUM, Gedongtataan--Sepekan menjelang bulan Ramadhan, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di pasar tradisional, Kabupaten Pesawaran mulai merambat naik.

Suwarmi (30) salah satu pedagang di Pasar Kedondong mengatakan, kenaikan harga mulai terjadi sejak pekan lalu, namun masih dalam batas wajar.

“Dari pekan lalu harga sembako sudah naik, tapi masih wajar sekitar Rp2 ribu sampai Rp4 ribu kenaikannya,” kata dia pada Harianmomentum.com, Rabu (7-4-2021).

Komoditi sembako yang mengalami kenaikan harga, antara lain: cabai, bawang, telur, minyak, dan gula. Sedangkan untuk sayuran dan bumbu dapur lainnya tidak mengalami kenaikan harga.

“Kalau cabai merah dan cabai kecil biasanya Rp40 ribu sekilo, tapi sempat naik Rp3 ribu. Kalau bawang merah sekarang bisa Rp25 ribu. Biasanya kita jual Rp23 ribu. Sedangkan untuk bawang merah sekarang Rp28 sekilo biasanya cuma Rp24 ribu,” ungkapnya. 

Kemudian, telur ayam yang semula Rp22 ribu/Kg, sekarang menjadi Rp24 ribu.  Minyak ukuran dua liter, perdusnya naik Rp4 ribu. Gula pasir dari Rp12 ribu perkilogram naik menjadi Rp14 ribu. "Kalau untuk harga beras saat ini masih tetap Rp9 ribu perkilonya,” terangnya.

Hal senada disampikan Sarah pedagang sembako di Pasar Gedongtataan.

"Ya kalau beras masih normal, yang naik itu minyak goreng yang tadinya Rp24 ribu sekarang Rp27 ribu. Untuk telur ayam, naik sampai Rp24 ribu," ungkapnya.

Harga komoditi sayuran juga mengalami peningkatan. "Sekarang yanhg lagi naik itu kentang, kol. Untuk cabai setan tadinya Rp100 ribu sekarang Rp80 ribu sekilonya,"  kata Siti, pedagang Sayur di Pasar Gedongtataan.

Sebelumnya, Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pesawaran Dahsyatia mengatakan, kenaikan harga tersebut tidak terlalu signifikan.

"Secara umum, harga masih stabil, walupun ada kenaikan tapi tidak signifikan. Kita akan terus memantau, harga kebutuhan pokok di pasar-pasara tradisional," katanya. (**)

Laporan: Rifat Arif

Editor: Munizar



Leave a Comment