Memelihara Posisi Dominasi Dolar dalam Perang AS-Israel Versus Iran

img
Ilustrasi. AI.

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto

MOMENTUM -- Perang Modern Tak Hanya Konflik Senjata. Tesis besar dalam buku Super Imperialism (1972) karya Michael Hudson menegaskan bahwa dominasi global Amerika Serikat (AS) ditopang oleh kekuatan militer dan arsitektur moneter internasional berbasis dolar. Posisi dolar sebagai mata uang cadangan dunia dan mata uang pinjaman global memberi kuasa AS membiayai defisit anggaran dan ekspansi militernya dengan cara yang tidak dimiliki negara lain. Yaitu:

"Ketika banyak negara menyimpan dolar dan membeli obligasi AS, secara tidak langsung justru ikut menopang hegemoninya".

Dalam kerangka itu, perang modern adalah militer dan non milter. Perang militer berarti konflik senjata, dan perang non militer salah satunya menyangkut bertarungnya struktur ekonomi. Dalam kekerasan simbolik, perang non militer berarti pertarungan pada pembuatan dan pelaksanaan peraturan global, reputasi, standarisasi, dan kontrol kepatuhan pada sistem. Ketika masuk dalam sebutan perang totalitas, maka perang ialah kemampuan tertinggi bertahan di semua lini kehidupan. Karenanya di balik dentuman rudal, ada upaya mempertahankan dominasi greenback (nama lain US Dollar); menjaga arus petrodolar dan sistem pembayaran; serta memastikan negara-negara strategis tetap berada dalam orbit sistem keuangan Washington yang bergandeng erat dengan City of London.

Peringatan Presiden Dwight Eisenhower tentang bahaya military-industrial complex menjadi relevan, bahwa perang adalah ekosistem bisnis dan kekuasaan yang saling menopang. Sejak Nixon shock, hal itu bertambah menjadi financial-military industrial complex. Dan mulai saat itu, bankir bayangan mengendalikan the Fed dan tokoh-tokoh korporasi yang memengaruhi the White House menebar persepsi: uang cetak atau fiat money dolar sebagai alat tukar global, pengukur besar kecilnya simpanan, penakar besar kecilnya pinjaman dan pengukur kekayaan. Permainan persepsi ini yang kemudian menjadi persenjataan ekonomi.

Baca Juga: Liarnya Perang Iran vs Amerika

Deindustrialisasi dan Ketergantungan pada Sektor Finansial-Militer

Sejak bangkitnya manufaktur China dan krisis 2008, AS bergeser menjadi ekonomi pasca-industri. Sektor manufaktur menyusut relatif dibanding sektor keuangan dan industri pertahanan. Dalam perspektif kritis, ia melahirkan apa yang disebut financial-military industry complex. Yakni dominasi keuangan global melalui penggunaan dolar serta sistem pembayaran berpadu dengan superioritas militer. AS menganggap, manufakturnya dapat dilakukan dengan offshore ke negara lain, sementara produk inti yang memengaruhi dunia tetap dalam genggamannya.

Ketika basis produksi melemah, dominasi dolar dan kekuatan militer menjadi jangkar utama hegemoni. Caranya, AS mengekspor obligasi dan mata uangnya. Sedang kekuatan militernya menjamin stabilitas di kawasan strategis, utamanya wilayah yang terkait energi. Ada yang diabaikan banyak kalangan. Ekspor obligasi berdenominasi dolar dan penggunaan mata uang dolar AS untuk makro ekonomi -- pada hakikatnya juga mengekspor inflasi. Sehingga setiap otoritas keuangan perbankan harus mengendalikan suku bunga. Ini pun berkiblat pada suku bunga the Fed. Hasilnya adalah ketergantungan struktural. Kebijakan finansialisasi ini justru membuat negara terperangkap dalam pemiskinan struktural. Orang kaya makin kaya, orang miskin sulit mengatasi laparnya. 

Sejak 2015, ketika AS berubah menjadi eksportir energi berkat revolusi shale oil, peta kepentingannya pun berubah. Di era Trump, AS keluar dari Paris Agreement dan sekitar 60-an forum multilateral, sembari menegaskan ulang prioritas energi domestik dan keamanan nasional. Dalam logika klasik Henry Kissinger (control oil and you control nations), energi tetap menjadi tuas kendali geopolitik.

Selat Hormuz dan Politik Harga Minyak

Dalam konteks konflik Iran-AS, posisi Selat Hormuz amat krusial. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur ini. Ancaman penutupan atau gangguan militer di Hormuz niscaya mendongkrak harga minyak. Bagi negara pengimpor besar semacam China, misalnya, stabilitas jalur ini adalah kepentingan vital. Sebaliknya, bagi eksportir energi ---termasuk AS--- lonjakan harga justru diharap karena menjadi keuntungan strategis. "Mendapat durian jatuh". Di sinilah konflik regional bisa dibaca sebagai instrumen tekanan terhadap struktur ekonomi global. Contoh, terguncangnya pasokan minyak, atau mengatur psikologi pasar, bahkan memukul ketahanan energi pihak lawan (rival), dan lain-lain. Ini berdampak pada ekonomi global.

Dalam perspektif super imperialism, hal itu bukan sekadar konflik bilateral, melainkan perang ekonomi struktural, seperti pengendalian produksi, distribusi, harga, dan transaksi energi yang tetap berbasis dolar. Minyak dan dolar adalah amunisi. Senjatanya ialah lembaga-lembaga yang dikendalikannya. Orang-orang yang duduk di posisi strategis adalah pemantiknya. Sistem, peraturan, standarisasi, kontrol kepatuhan dan alasan reputasi diorkestrasi dan difabrikasi. Model ini juga terjadi pada sistem politik yang lingkupnya antara lain soal demokrasi liberal, hak asasi manusia, kebebasan pers dan sebagainya.  

Serangan ke Aramco: False Flag

Poin paling sensitif ialah serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco kemarin. Tentu, serangan tersebut melumpuhkan produksi dan mengguncang pasar energi global. Tuduhan langsung diarahkan kepada Israel atas "suruhan" AS terkait perang ekonomi struktural melawan China. Tapi dituduhkan pula ke Iran karena Arab Saudi adalah aliansi AS. Di sinilah muncul narasi false flag operation -- operasi terselubung untuk menyalahkan pihak lain. Beberapa media regional, termasuk yang dekat dengan lingkaran Iran, menuding ada skenario untuk memicu konflik lebih luas. Selain berpotensi menghancurkan solidaritas kawasan terhadap Iran, juga menguatkan skenario kenaikan harga minyak pasca-Hormuz ditutup.

Isu berikutnya adalah bakal diserang fasilitas publik dan instalasi desalinasi air. Intinya, fasilitas dan sarana publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak (barang dan jasa), menjadi sasaran perang. Maka semua negara di TimTeng gelisah. Kemampuan keuangan mereka pasti terganggu. Dan gangguan ini akan menghentikan negara-negara Arab bermain di pasar modal untuk membiayai industri artificial intelligence. Siapa yang disalahkan? Tentu AS dan Israel karena mereka pemicu perang.

Sedangkan secara geopolitik, serangan terhadap Aramco -- simbol kekuatan energi Arab Saudi dan pemain utama minyak dunia, bisa dibaca dalam berbagai kemungkinan. Misalnya, sebagai tekanan langsung terhadap Iran untuk sanksi dan isolasi; sebagai pesan kepada pasar energi global bahwa stabilitas Kawasan Teluk tetap rapuh; sebagai skenario bendera palsu ---jika benar--- guna membentuk opini publik tentang keganasan Iran, dan lain-lain. Tapi di balik pesan-pesan ini, tergambar pesan terselubungnya: AS tetap menyasar pada posisi dominasi dalam teknologi informasi, keuangan dan minyak. Dalam kondisi seperti sekarang, tiga sasaran dominasi itu membutuhkan kalkulasi yang tepat agar tidak menimbulkan kerugian yang besar.   

Memang harus ditegaskan, bahwa tuduhan false flag tetap berada pada ranah spekulasi politik dan belum terbukti secara konklusif. Namun, dalam sejarah konflik modern, operasi semacam itu bukanlah konsep asing. Karenanya, narasi itu tak boleh diabaikan dalam membaca dinamika kekuasaan. Lagi pula, konsep ini sudah dilakukan selama berabad dalam pola yang berbeda. Desepsi politik lewat penghancuran lawan melalui serangan dari dalam dan pengecohan kekuatan selalu menjadi pokok strategi perang.

Hegemoni, Aliansi, dan Realitas Politik

Hubungan erat AS-Israel, termasuk kedekatan antara Trump dan Netanyahu, sering menjadi lensa tambahan dalam membaca eskalasi Timur Tengah. Namun analisis geopolitik perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada simplifikasi atau generalisasi berlebihan. Walau harus diakui, setiap tahunnya, APBN-AS “menyumbang” Israel karena dahsyatnya lobi AIPAC di Kongres dan Gedung Putih.

Yang lebih relevan ialah melihat struktur kepentingan. Keamanan energi, misalnya, atau dominasi dolar, kontrol jalur distribusi, serta pembentukan tatanan kawasan yang sejalan dengan kepentingan strategis Washington dan lain-lain. Ini sesuai dengan tesa, keamanan energi adalah keamanan ekonomi nasional.

Penutup: Ada Perang yang Tak Terlihat

Konflik Iran-AS tidak bisa dibaca semata sebagai pertikaian ideologi atau keamanan regional. Ia adalah simpul dari pertarungan lebih besar: siapa mengendalikan energi, siapa menentukan harga, siapa memegang mata uang transaksi, dan siapa yang akhirnya membayar biaya konflik.

Dalam kerangka tesis Michael Hudson, perang militer hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya terdapat perang ekonomi struktural yang jauh lebih menentukan. Nah, dalam konteks ini, isu “bendera palsu" dalam kasus Aramco menjadi bagian dari kemungkinan skenario para pihak ---bukan kepastian, hanya variabel penting--- dalam permainan besar mempertahankan atau menggoyang hegemoni global.

Tatkala perang adalah bisnis besar dengan keuntungan menggiurkan, maka pertanyaan utamanya bukan siapa menyerang apa dan di mana. Tapi pihak mana mengatur pasar, siapa menguasai narasi, dan menuai keuntungan di balik konflik. Bukti, pasar tidak akan pernah netral karena tergantung pada siapa yang berkuasa.(**)

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto









Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos