Memprediksi Berakhirnya Perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel

img
Ilustrasi. Ist.

Oleh : Erlangga Pratama

MOMENTUM -- Perang Iran melawan agressor Amerika Serikat dan zionis Israel pecah 28 Februari 20026 padahal di tengah negosiasi soal nuklir Iran. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmedinejjad, kepala keamanan Iran, Ali Larijani; Ali Shamkhani (Kepala Dewan Pertahanan Nasional); Mohammad Pakphour (Panglima IRGC); Amir Nadzirzadeh (Menteri Pertahanan); Abdolrahim Mousavi (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) termasuk Menteri Intelijen Iran, Esmail Khatib dilaporkan dibunuh Israel, Esmail Khatib telah tewas dalam "serangan terarah" pasukan Israel di Teheran dan komandan pasukan Basij Iran, Gholamreza Soleimani, telah tewas.

Sebelumnya IDF mengatakan Khatib diangkat ke posisinya pada tahun 2021 oleh mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan yang ditujukan kepada pejabat tinggi Iran pada awal perang pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan menyerang negara-negara tetangganya di Teluk dan menargetkan kapal-kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis.

Merespons semuanya, Iran melancarkan gelombang terhadap pangkalan-pangkalan militer yang digunakan Amerika Serikat di Timur Tengah menimbulkan kerusakan sekitar US$800 juta (Rp13,5 triliun) selama dua minggu pertama perang, menurut laporan lembaga kajian Center for Strategic & International Studies (CSIS) dan analisis BBC menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan terjadi saat Iran melakukan serangan balasan awal, tepat pada pekan pertama setelah AS dan Israel melancarkan operasi militernya.

Pejabat Departemen Pertahanan dilaporkan memberi penjelasan kepada para anggota Kongres bahwa enam hari pertama perang menelan biaya US$11,3 miliar (Rp191,6 triliun). Adapun 12 hari pertama mencapai US$16,5 miliar (Rp279,7 triliun), menurut data CSIS. Pentagon kini meminta tambahan pendanaan sebesar US$200 miliar (Rp3.391 triliun) untuk perang itu.

Hal ini karena estimasi kerugian sebesar US$800 juta pada infrastruktur militer AS, angka yang lebih tinggi dibanding laporan sebelumnya memberikan gambaran mengenai besarnya biaya yang harus ditanggung Washington seiring berlarutnya konflik. Serangan balasan Iran menargetkan sistem pertahanan udara serta fasilitas komunikasi satelit milik AS, termasuk di Yordania, Uni Emirat Arab, dan sejumlah negara lain di Timur Tengah.

Sebagian besar kerusakan ditimbulkan oleh serangan terhadap radar AS yang menjadi bagian dari sistem pertahanan rudal Thaad di sebuah pangkalan udara di Yordania. Sistem radar AN/TPY 2 bernilai sekitar US$485 juta (Rp8,2 triliun), menurut telaah CSIS atas dokumen anggaran Departemen Pertahanan AS. Sistem pertahanan udara itu digunakan untuk mencegat rudal balistik jarak jauh.

Serangan Iran juga menimbulkan tambahan kerusakan yang diperkirakan mencapai US$310 juta (Rp5,2 triliun) pada gedung, fasilitas, dan infrastruktur lain di pangkalan AS maupun pangkalan militer yang digunakan pasukan Amerika di kawasan tersebut. Menurut analisis citra satelit oleh BBC Verify, Iran juga telah menyerang sedikitnya tiga pangkalan udara lebih dari satu kali. Citra satelit menunjukkan tiga pangkalan udara  yaitu Pangkalan Ali Al Salim di Kuwait, Al Udeid di Qatar, dan Pangkalan Prince Sultan di Arab Saudi mengalami kerusakan baru pada berbagai fase konflik.

Kerusakan yang lebih besar pada sistem Thaad terlihat di pangkalan AS di UEA dan Yordania. Besarnya kerugian belum diketahui. Penurunan kemampuan sistem-sistem tersebut dilaporkan membuat AS harus memindahkan komponen Thaad dari Korea Selatan ke Timur Tengah.Kerusakan akibat serangan balasan Iran hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan biaya yang harus ditanggung AS untuk perang tersebut.

Serangan presisi Teheran membidik aset-aset spesifik milik AS, disebabkan Rusia konon berbagi intelijen dengan Teheran mengenai keberadaan pasukan Amerika di kawasan.

AS juga telah kehilangan 13 personel militer sejak Presiden Donald Trump bergabung dengan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Lembaga Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS memperkirakan total korban tewas telah mendekati 3.200 orang, termasuk 1.400 warga sipil.

Memprovokasi negara Teluk untuk terlibat perang

Sebagaimana sifat AS yang selalu “main keroyokan” maka Donald Trump dan kolega juga memprovokasi beberapa negara  untuk membantu AS dan Israel memerangi Iran. Upaya AS ini banyak kandasnya setelah Spanyol, Jerman, Perancis, Inggris dan Italia menolak bergabung mendukung sikap selfish Trump, sehingga AS akhirnya membujuk atau memprovokasi beberapa negara Kawasan Teluk untuk bergabung dalam aliansi melawan Iran yang dibantu Hezbollah, Houthi dan Barisan Penjaga Darah Irak dalam menghadapi AS dan Israel.

Salah satu bentuk provokasi AS adalah terlihat salah satunya ketika sebuah baterai pertahanan udara Patriot yang dioperasikan Amerika kemungkinan besar menembakkan rudal pencegat yang terlibat dalam ledakan dini hari yang melukai puluhan warga sipil dan merusak rumah-rumah di Bahrain, sekutu AS, 10 hari setelah perang melawan Iran dimulai. Hal tersebut terungkap menurut analisis para peneliti akademik yang ditinjau Reuters, Minggu (22/3/2026). Pada hari kejadian, Komando Pusat AS mengatakan di platform X bahwa sebuah drone Iran menghantam kawasan permukiman di Bahrain.

Sebelumnya, baik Bahrain maupun Washington menyalahkan serangan drone Iran atas ledakan pada 9 Maret 2026, yang menurut kerajaan Teluk itu melukai 32 orang termasuk anak-anak, beberapa di antaranya serius. Bahrain sendiri merupakan negara kecil namun strategis di Selat Hormuz, jalur vital yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.

Sistem Patriot, diproduksi oleh Raytheon (bagian dari RTX Corp), merupakan sistem utama pencegat rudal dan pesawat jarak menengah milik Angkatan Darat AS dan menjadi tulang punggung pertahanan udara AS dan sekutunya.

Pemerintah Bahrain tidak menjelaskan apakah rudal tersebut ditembakkan oleh pasukannya sendiri atau oleh AS. Namun, peneliti dari Middlebury Institute, Sam Lair, Michael Duitsman, dan Profesor Jeffrey Lewis, menyimpulkan dengan tingkat keyakinan menengah hingga tinggi bahwa rudal tersebut kemungkinan diluncurkan dari baterai Patriot AS sekitar 7 km barat daya Mahazza. Kesimpulan ini berdasarkan analisis gambar visual terbuka dan citra satelit komersial, dan tidak dibantah oleh para ahli lain yang meninjaunya.

Sementara, analisis Middlebury juga menggunakan video yang menunjukkan rudal Patriot melintas rendah di langit sebelum menukik dan meledak sekitar 1,3 detik kemudian. Seorang ahli forensik digital memastikan tidak ada indikasi video tersebut palsu. 

Peneliti melacak lokasi video ke kota Riffa dan jalur rudal hingga ke baterai Patriot AS. Mereka juga menemukan bahwa lokasi tersebut telah digunakan sejak setidaknya 2009. Mereka menyimpulkan rudal kemungkinan meledak di udara. Kemungkinan penyebabnya upaya mencegat drone yang terbang rendah atau ledakan dari hulu ledak dan bahan bakar rudal itu sendiri. Jika upaya pencegatan dilakukan di area permukiman, analisis menyebutnya sebagai tindakan yang berisiko tinggi bagi warga sipil. Meski pemerintah Bahrain menyatakan rudal berhasil mencegat drone, para peneliti menilai kemungkinan itu lebih kecil karena kurangnya bukti keberadaan drone.

Kerusakan terkonsentrasi di beberapa jalan di Mahazza, dengan pecahan rudal menyebar hingga sekitar 120 meter. Analisis audio video juga menunjukkan lokasi ledakan sesuai dengan jarak sekitar 7,4 km dari titik perekaman. Meski kegagalan rudal Patriot jarang terjadi, kasus serupa pernah terjadi, termasuk pada 2007 di Qatar.

Contoh lainnya provokasi adalah Qatar menetapkan ‘persona non grata’ bagi atase militer dan keamanan di Kedutaan Besar Iran. Mereka diminta untuk meninggalkan Doha dalam waktu 24 jam.

Melansir pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Qatar, Kamis (19/3), keputusan itu diambil karena Qatar berulang kali menjadi target serangan udara Iran, yang dianggap melanggar prinsip-prinsip hukum internasional, Resolusi Dewan Keamanan No. 2817 hingga aturan bertetangga baik. Keputusan diumumkan setelah serangan rudal Iran terhadap lokasi produksi gas Ras Laffan di Qatar. 

Dalam daftar negara-negara Teluk, Arab Saudi menjadi yang paling menonjol. Negara ini menempati peringkat 25 dunia dengan power index 0,4473. Posisi tersebut membuat Arab Saudi unggul cukup jauh dibanding negara Teluk lainnya. Uni Emirat Arab berada di posisi berikutnya dengan peringkat 54 dunia dan power index 1,0188. Setelah itu ada Qatar di peringkat 71 dengan power index 1,4096. Bahrain menempati posisi 75 dengan power index 1,6731, disusul Kuwait di peringkat 76 dengan power index 1,7161. Sementara Oman berada di posisi 86 dunia dengan power index 1,8823.

Uni Emirat Arab berada di posisi kedua terkuat di antara negara Teluk dalam data ini. Negara ini menempati peringkat 54 dunia dengan power index 1,0188. Secara jumlah, kekuatan militernya memang masih di bawah Arab Saudi. Namun UEA tetap menonjol dengan 65.000 tentara aktif dan anggaran militer US$23,48 miliar. Dari sisi alutsista pertahannya, UEA memiliki 99 pesawat tempur, 30 helikopter serang, 354 tank, 8.982 kendaraan lapis baja, 165 self-propelled artillery, dan 49 mobile rocket projectors. Data ini menunjukkan UEA memiliki kekuatan militer yang cukup besar dengan basis modernisasi alutsista yang kuat, terutama di matra udara dan darat.

Qatar menempati peringkat 71 dunia dengan power index 1,4096. Meski jumlah tentaranya tidak sebesar beberapa negara Teluk lain, Qatar tetap menarik karena anggaran militernya cukup besar. Qatar memiliki 26.550 tentara aktif dengan anggaran militer mencapai US$11,95 miliar. Dari sisi alutsista, Qatar memiliki 115 pesawat tempur, 24 helikopter serang, 62 tank, 5.576 kendaraan lapis baja, 46 self-propelled artillery, dan 16 mobile rocket projectors. Yang paling menonjol dari Qatar adalah kekuatan udaranya. Jumlah pesawat tempurnya bahkan lebih banyak daripada UEA.

Kuwait berada di peringkat 76 dunia dengan power index 1,7161. Posisi ini menempatkan Kuwait di kelompok bawah dalam perbandingan sesama negara Teluk, meski kapasitas militernya tetap tidak bisa dianggap kecil. Kuwait memiliki 78.000 tentara aktif dengan anggaran militer US$7,98 miliar. Negara ini juga memiliki 47 pesawat tempur, 16 helikopter serang, 367 tank, 7.472 kendaraan lapis baja, 51 self-propelled artillery, dan 27 mobile rocket projectors.

Oman menempati peringkat 86 dunia dengan power index 1,8823, sehingga menjadi negara dengan posisi terendah dalam data ini di antara enam negara Teluk yang dibandingkan. Oman mempunyai jumlah personel yang cukup besar, yakni 100.000 tentara aktif. Anggaran militernya tercatat US$8,36 miliar. Dari sisi alutsista, Oman memiliki 29 pesawat tempur, tidak memiliki helikopter serang dalam data ini, 264 tank, 11.380 kendaraan lapis baja, dan 24 self-propelled artillery.

Bahrain menjadi negara dengan skala militer paling kecil di antara enam negara Teluk dalam data ini. Bahrain berada di peringkat 75 dunia dengan power index 1,6731. Negara ini memiliki 18.400 tentara aktif dengan anggaran militer US$0,99 miliar. Dari sisi perlengkapan, Bahrain memiliki 28 pesawat tempur, 34 helikopter serang, 150 tank, 5.196 kendaraan lapis baja, 38 self-propelled artillery, dan 18 mobile rocket projectors.

Tampaknya Arab Saudi, UAE dan Qatar yang mulai terpengaruh provokasi AS sehingga kemungkinan akan terlibat perang.

Perang masih lama dan krisis global akan terjadi

Iran terus melakukan serangan balasan dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. 

Berbeda dengan Israel yang secara terbuka menerima bantuan dari sekutu seperti Amerika Serikat, Iran memiliki cara yang lebih tertutup dan kompleks. Salah satu jawabannya pernah diungkap oleh laporan investigasi Reuters pada 2013. Dalam laporan tersebut, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei disebut memimpin sebuah jaringan bisnis besar melalui organisasi bernama Setad (Execution of Imam Khomeini's Order). Nilai kerajaan bisnis ini diperkirakan mencapai US$95 miliar atau sekitar Rp1.530 triliun.

Setad sendiri didirikan atas wasiat pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Khomeini, menjelang wafatnya pada 1989. Awalnya, organisasi ini bertujuan mengelola properti yang kemudian hasilnya disalurkan untuk membantu masyarakat miskin dan para veteran perang.

menurut laporan Reuters, fungsi tersebut berubah seiring waktu. Di bawah kepemimpinan Khamenei, Setad berkembang menjadi raksasa bisnis yang memiliki investasi di berbagai sektor strategis. Mulai dari keuangan, minyak, telekomunikasi, hingga industri farmasi dan peternakan.

Keunikan Setad terletak pada operasinya yang cenderung tertutup dan minim pengawasan. Seorang pengacara Iran yang kemudian meninggalkan negaranya, Naghi Mahmoudi, mengatakan kepada Reuters bahwa tidak ada lembaga yang benar-benar bisa mengaudit atau mempertanyakan aktivitas bisnis organisasi tersebut.

Meski tidak ada bukti langsung Khamenei menggunakan Setad untuk kepentingan pribadi, Reuters mencatat bahwa keberadaan organisasi ini telah memperkuat posisi dan kekuasaan sang pemimpin tertinggi. Bahkan, otoritas di Amerika Serikat sempat memperkirakan total kekayaan yang terkait dengannya bisa mencapai US$200 miliar, meski klaim ini dibantah oleh pemerintah Iran.

Dari sisi pemerintah Iran, Setad tetap diposisikan sebagai lembaga yang berfokus pada kesejahteraan publik. Media lokal Iran pada 2014 bahkan melaporkan bahwa sekitar 90% keuntungan organisasi tersebut dialokasikan untuk program sosial.

Iran sendiri sudah mengklaim akan siap meladeni AS dan Israel dalam perang yang Panjang, sementara dalam perkembangan terakhir AS sudah mulai bermanuver dan membuat framing narasi akan segera menang perang namun disisi yang lain ingin bernegosiasi dengan Iran. Iran sudah menutup pintu negosiasi. (**)

Penulis adalah pemerhati masalah internasional. Kontributor IBP dan alumni Fisipol Universitas Jember dan pasca sarjana Universitas Indonesia






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos