Menatap Tiga “Panggung” Dunia: Biar Tak Ikut Gaduh

img
Ma'ruf Abidin, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung

MOMENTUM -- Dunia hari ini mirip panggung teater yang riuh. Layarnya lebar, aktornya banyak, tetapi ada tiga nama yang paling sering membuat penonton menahan napas: Benjamin Netanyahu, Donald Trump, dan Joko Widodo.

Membahas ketiganya dalam satu tarikan napas tentu menarik. Perspektif ini sempat diulas tajam oleh sahabat saya, M. Furqon, di Harian Momentum, tempat ia bernaung sebagai redaktur. Sebuah catatan kritis yang mengajak kita melihat para pemimpin ini bukan sekadar dari sisi hitam-putih, melainkan dari wilayah abu-abu kepribadian dan kekuasaan mereka.

Mari melihat Netanyahu dan Trump lebih dulu. Dua nama ini merupakan definisi nyata dari ambisi politik yang menyala-nyala. Di Timur Tengah, Benjamin Netanyahu bergerak dengan kalkulasi kekuasaan yang keras dan memicu konflik regional berkepanjangan. Sementara di Barat, Donald Trump mengguncang panggung global lewat doktrin politik dan perdagangan yang serba transaksional. Bagi keduanya, politik tampak lebih sebagai arena penaklukan daripada sekadar ruang kepemimpinan.

Lalu, bagaimana dengan Joko Widodo? Di sinilah letak paradoksnya. Jika Trump dan Netanyahu bermain dengan kartu yang terbuka dan agresif, Jokowi justru tampil sebagai teka-teki. Ia memulai perjalanan politiknya sebagai simbol harapan baru demokrasi. Namun, menjelang akhir masa jabatan hingga masa transisi kekuasaan, publik justru disuguhi dinamika politik dinasti dan berbagai kontroversi yang memunculkan tanda tanya besar. Gaya politiknya yang tampak santun justru memperlihatkan daya cengkeram kekuasaan yang mengejutkan banyak pengamat.

Ketiga tokoh ini, dengan caranya masing-masing, telah mengguncang tatanan yang ada. Kontroversi di sekitar mereka membelah masyarakat ke dalam dua kutub ekstrem: pendukung fanatik atau pengkritik abadi.

Dari Washington ke Meja Makan Kita

Namun, jangan dikira guncangan di panggung dunia itu jauh dari teras rumah kita. Gajah bertarung di atas, rumput di bawah ikut terinjak. Ketika Trump mengetuk palu kebijakan dagang global atau tensi geopolitik Timur Tengah akibat langkah Netanyahu memanas, efek dominonya langsung menjalar ke ekonomi lokal.

Kebijakan tarif dagang dan fluktuasi nilai tukar berdampak langsung pada komoditas ekspor andalan daerah. Saat pasar global bergejolak, harga karet dan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani ikut terombang-ambing. Pada akhirnya, keputusan di Washington atau Tel Aviv ikut menentukan tebal-tipisnya dompet petani dan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.

Eksperimen Kekuasaan di Daerah

Dampak politiknya tidak kalah nyata. Riuhnya manuver politik pusat bukan sekadar tontonan di layar kaca. Pola komunikasi, trik pencitraan, hingga strategi membangun jaringan kekuasaan keluarga dengan cepat diadopsi dalam konstelasi politik daerah.

Eksperimen kekuasaan di Jakarta kerap menjadi cetak biru bagi politisi lokal dalam menghadapi kontestasi seperti Pilkada. Kita melihat bagaimana tarik-ulur koalisi elite, rekomendasi partai dari pusat, hingga fenomena “borong partai” yang nyaris melahirkan kotak kosong ditiru mentah-mentah di tingkat daerah. Akibatnya, pendidikan politik masyarakat mengalami degradasi karena kompetisi tidak lagi bertumpu pada adu gagasan dan program, melainkan pada pragmatisme kekuasaan.

Lantas, apa pelajaran bagi kita sebagai masyarakat di akar rumput?

Kita harus berani menggeser sudut pandang.

Menilai politik hari ini tidak bisa lagi hanya memakai kacamata emosi. Jika kita sekadar ikut menyoraki, memaki, atau terjebak dalam fanatisme buta tanpa memahami kepentingan di baliknya, kita hanya akan menjadi bahan bakar dari kegaduhan yang mereka ciptakan.

Politik pada akhirnya adalah seni mengelola kepentingan, bukan panggung suci para malaikat. Dengan melihat dari sudut yang lebih tenang, objektif, dan berjarak, kita bisa menjaga kewarasan pikiran sekaligus tetap waspada terhadap dampak nyata di sekitar kita. Menonton riuhnya dunia itu perlu sebagai bentuk mitigasi diri. Tetapi ikut larut dalam kegaduhan yang melelahkan? Nanti dulu. (**)

Oleh Ma'ruf AbidinSekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos