Pesona Rumah Bosscha: Healing Bernuansa Kolonial di Tengah Kebun Teh Pangalengan

img

MOMENTUM, Pengalengan -- Bagi saya yang sehari-hari akrab dengan kepungan beton dan deru mesin Jakarta, menginjakkan kaki di kawasan Malabar, Pangalengan, terasa seperti menemukan “paru-paru” baru.

Pagi itu, 28 Maret 2026, kabut tipis masih menyelimuti pucuk-pucuk teh yang menghampar hijau layaknya permadani tak berujung. Di tengah keheningan yang hanya dipecah kicau burung, berdiri bangunan kolonial yang kokoh dan berwibawa: Rumah Bosscha.

Langkah terhenti sejenak di depan cerobong asap ikonik yang menjulang di sisi bangunan. Ada kesan magis yang sulit dijelaskan—rumah ini seolah menyimpan cerita tentang Karel Albert Rudolf Bosscha, yang dikenal sebagai “Raja Teh Priangan”. Namun, tempat ini bukan sekadar monumen sejarah, melainkan jejak panjang kecintaan seorang perantau terhadap tanah Pasundan sejak akhir abad ke-19.

Memasuki bagian dalam, aroma kayu tua langsung terasa. Interiornya tetap terjaga autentik: kursi antik, lampu gantung klasik, hingga lemari-lemari besar peninggalan masa lalu masih tertata rapi. Pengelolaan yang dilakukan PTPN I Regional 2 dinilai berhasil menjaga karakter asli bangunan tanpa menghilangkan nilai historisnya.

Suasana di dalam rumah menghadirkan kesan seolah pemiliknya hanya sedang pergi sejenak. Di kamar utama, penataan ruang yang sederhana namun elegan memperkuat nuansa tersebut. Sementara di ruang bawah tanah, terdapat meja biliar asli milik Bosscha yang masih terawat, menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Pengalaman berbeda terasa saat memutuskan untuk menginap. Menjelang malam, kawasan Malabar berubah menjadi hening dan syahdu. Suara serangga dan angin pegunungan yang menyapu kebun teh menciptakan suasana alami yang jarang ditemukan di perkotaan. Pagi harinya, pemandangan kabut tebal yang menyelimuti perbukitan menjadi daya tarik utama yang menawarkan ketenangan bagi wisatawan.

Selain keindahan alam dan arsitektur, kunjungan ini juga membuka wawasan tentang kontribusi besar Bosscha. Ia dikenal memiliki peran penting dalam pengembangan perkebunan, termasuk tanaman kina sebagai bahan obat malaria, serta kontribusinya terhadap pendirian Institut Teknologi Bandung dan Observatorium Bosscha.

Rumah Bosscha kini tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga ruang refleksi yang memadukan edukasi, estetika, dan ketenangan alam. Kawasan Malabar pun semakin dikenal sebagai alternatif destinasi “healing” bagi masyarakat yang ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kota.

Informasi Kunjungan dan Akomodasi

Bagi pengunjung, tiket masuk ke kawasan ini dipatok sekitar Rp20.000 per orang, termasuk akses ke kebun teh dan layanan pemandu. Area wisata dibuka setiap hari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Untuk akomodasi, tersedia pilihan vila dan guest house dengan tarif mulai dari Rp500.000 hingga Rp1.500.000 per malam. Lokasinya berada di kawasan Perkebunan Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Disarankan membawa jaket tebal karena suhu malam hari cukup dingin. Namun, udara sejuk inilah yang menjadi daya tarik utama, terutama saat menikmati secangkir teh hangat di pagi hari. (**)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos