Oleh: Ma’ruf Abidin - Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung
MOMENTUM -- Sepak bola kerap menghadirkan drama yang kejam. Selama 32 pekan, Borneo FC Samarinda tampil bak monster di BRI Super League 2025/2026. Mereka bermain penuh determinasi, menyuguhkan sepak bola menyerang yang atraktif, serta konsisten menempel ketat sang petahana di papan atas klasemen. Namun, hanya karena satu hasil imbang pada pekan ke-33, mimpi Pesut Etam mengangkat trofi juara mendadak berada di ujung tanduk.
Melihat klasemen menjelang pekan pamungkas, hati para pendukung Borneo FC tentu mencelos. Bertengger di posisi kedua dengan koleksi 76 poin dan tertinggal dua angka dari Persib Bandung membuat nasib mereka tak lagi berada di tangan sendiri.
Bagi publik Samarinda, situasi ini menghadirkan dejavu yang pahit. Borneo FC justru kehilangan momentum emas pada fase paling menentukan. Kegagalan meraih poin penuh saat ditahan imbang Persijap Jepara akhir pekan lalu menjadi antiklimaks dari perjalanan impresif mereka sepanjang musim.
Ketika kesempurnaan dibutuhkan, lini depan Pesut Etam mendadak buntu, sementara lini belakang kehilangan fokus yang selama ini menjadi kekuatan utama. Kehilangan dua poin di laga krusial itu terasa seperti menyerahkan trofi juara secara perlahan kepada Maung Bandung yang pada hari yang sama justru memetik kemenangan dramatis.
Yang membuat situasi semakin getir, regulasi kompetisi seolah tak berpihak kepada mereka. Aturan head-to-head menjadi lawan tak kasatmata bagi Borneo FC. Kekalahan 1-3 dari Persib pada putaran pertama kini menjelma hantu yang membatasi peluang mereka. Seandainya penentuan klasemen mengacu pada selisih gol, produktivitas luar biasa Borneo FC musim ini mungkin masih memberi ruang napas lebih panjang.
Jangan Sebut Ini Kegagalan, Ini Soal Kehormatan
Namun, akan sangat tidak adil jika musim luar biasa Borneo FC langsung dicap sebagai kegagalan total. Di bawah manajemen yang sehat dan struktur tim yang solid, Pesut Etam telah bertransformasi menjadi kekuatan baru yang mampu mengganggu dominasi klub-klub besar sepak bola Indonesia.
Mereka memaksa juara bertahan sekelas Persib Bandung bekerja keras hingga penghujung kompetisi. Borneo FC telah membuktikan diri bukan sekadar penghuni papan atas, melainkan penantang gelar yang sah dan layak diperhitungkan.
Skenario “Mukjizat Samarinda” di Pekan Terakhir
Peluang Borneo FC memang sangat tipis—nyaris hanya tersisa secercah harapan. Pada laga pamungkas, Sabtu, 23 Mei 2026, mereka wajib mengamankan kemenangan saat menghadapi Malut United FC.
Setelah itu, satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah berharap keajaiban terjadi di Bandung: Persijap Jepara mampu menjegal Persib di Stadion GBLA. Skenario yang terdengar nyaris mustahil. Namun, sepak bola selalu menyimpan ruang bagi kejutan. Seperti pepatah lama yang terus hidup di dunia si kulit bundar: bola itu bundar, dan sebelum peluit panjang berbunyi, segalanya masih mungkin terjadi.
Jika pada akhirnya trofi tetap terbang ke Bandung, skuad Borneo FC tak perlu menundukkan kepala saat kembali ke Samarinda. Mereka bukan kalah kualitas; mereka hanya kehilangan momentum di tikungan terakhir. Musim ini mungkin berakhir pahit, tetapi fondasi yang dibangun membuktikan satu hal: cepat atau lambat, giliran Pesut Etam akan tiba. (**)
Editor: Muhammad Furqon
