MOMENTUM, Pekalongan – Sejumlah organisasi kepemudaan, aktivis lingkungan, pegiat literasi, dan aktivis sosial menggelar diskusi serta nonton bareng (nobar) film dokumenter Menolak Punah karya Dandhy Dwi Laksono dan Aji Yahuti di Kedai SIIP, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (30/5/2026) malam.
Kegiatan yang dihadiri kader PMII, GP Ansor, dan komunitas peduli lingkungan itu menjadikan film dokumenter tersebut sebagai pintu masuk untuk membahas berbagai persoalan ekologis, mulai dari pencemaran lingkungan hingga ketimpangan relasi kuasa dalam pengelolaan sumber daya alam.
Pemantik pertama, Kiai Zakfaron, menyoroti paradoks yang kerap muncul dalam persoalan lingkungan. Menurutnya, tingginya tingkat pencemaran di suatu wilayah tidak selalu berbanding lurus dengan indikator kesejahteraan yang ditampilkan dalam data statistik.
Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan sering kali tidak langsung terlihat dampaknya, sehingga masyarakat perlu lebih kritis dalam membaca berbagai indikator pembangunan.

Dalam kesempatan itu, Zakfaron juga mengajak masyarakat menerapkan pola hidup yang lebih sederhana dan berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara itu, pemantik kedua, Muhammad Burhan, mengkritisi dominasi kepentingan ekonomi dalam berbagai kebijakan pembangunan. Mantan jurnalis tersebut menilai isu lingkungan kerap dikesampingkan dengan alasan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
"Narasi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja sejak lama sering dijadikan alasan untuk meredam kritik terhadap kerusakan lingkungan," ujarnya.
Burhan juga menyoroti ketimpangan relasi kuasa antara masyarakat dan pemilik modal. Menurutnya, kelompok masyarakat kecil sering kali menanggung dampak pencemaran, sementara pihak yang memiliki kekuatan ekonomi lebih besar relatif tidak tersentuh.
Ia turut mendorong para tokoh agama untuk mengambil peran lebih aktif dalam menyuarakan keadilan ekologis dan keberpihakan kepada masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan.
Pandangan tersebut kemudian ditanggapi pemantik ketiga, Yoga Rifai Hamzah. Founder Smestech myCodes Indonesia sekaligus Ketua Forum TBM Kota Pekalongan itu menyoroti pengaruh teknologi digital terhadap pola konsumsi masyarakat.
Menurut Yoga, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial telah membentuk perilaku konsumtif melalui budaya takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO).
Ia juga mengingatkan adanya dampak lingkungan dari aktivitas digital yang terus meningkat, termasuk tingginya kebutuhan energi pusat data serta praktik greenwashing yang dilakukan sebagian korporasi melalui klaim ramah lingkungan yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Diskusi ditutup oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, Achmad Fawaid. Ia mengingatkan peserta tentang bahaya fenomena echo chamber atau ruang gema di media digital yang dapat membatasi perspektif dan daya kritis masyarakat.
Menurutnya, nilai-nilai kesantrian harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan keberpihakan pada upaya menjaga kelestarian alam.
"Kesantrian tidak boleh berhenti pada aspek ritual semata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjaga lingkungan dan mengawal kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan ekologi," ujarnya.(**)
Editor: Muhammad Furqon
