MOMENTUM, Sukau – Proyek rekonstruksi Jalan Liwa di Pekon Bandarbaru, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, menuai keluhan warga dan pengguna jalan.
Meski baru berjalan beberapa hari, proyek senilai lebih dari Rp3,5 miliar itu dinilai menimbulkan debu tebal yang mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.
Setiap kendaraan yang melintas memicu kepulan debu hingga mengurangi jarak pandang dan mengganggu pernapasan. Warga juga mengeluhkan debu masuk ke dalam rumah sehingga mengotori perabotan.
Salah seorang warga, Ibu Untung, mengaku rumahnya selalu dipenuhi debu sejak proyek dimulai.
"Bisa dilihat kondisi rumah saya. Mau duduk saja bingung karena kotor semua oleh debu," katanya.
Proyek rekonstruksi Jalan Liwa di Pekon Bandarbaru, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. Foto: Sulemy.
Ia menegaskan warga mendukung pembangunan jalan tersebut, namun meminta kontraktor memperhatikan dampak yang ditimbulkan, terutama dengan melakukan penyiraman secara rutin.
"Kami mendukung pembangunan ini. Tapi kami berharap ada penyiraman rutin agar debu tidak sampai masuk ke rumah-rumah warga," ujarnya.
Menurutnya, selama tiga hari terakhir belum terlihat adanya penyiraman di lokasi proyek. Akibatnya, debu semakin tebal dan beterbangan setiap kali kendaraan melintas.
"Baru disapu sebentar sudah kotor lagi. Jadi percuma membersihkan rumah," katanya.
Keluhan serupa disampaikan pengguna jalan, Roni, yang kerap melintas dari Kecamatan Balikbukit menuju Kecamatan Sukau. Ia menilai debu di lokasi proyek cukup mengganggu keselamatan dan kesehatan pengguna jalan.
"Debunya mengganggu, jadi susah bernapas dan mata sering kemasukan debu saat melintas," ujarnya.
Roni berharap kontraktor segera melakukan penyiraman secara berkala agar debu dapat diminimalkan, terlebih saat musim kemarau.
"Proyek ini anggarannya miliaran rupiah. Harusnya ada penanganan debu karena sangat mengganggu," katanya.
Menanggapi keluhan tersebut, pelaksana proyek dari CV Mandiri Indotama, Ariski, mengatakan pihaknya telah menjadwalkan penyiraman rutin untuk mengurangi debu di lokasi pekerjaan.
"Kami rutin melakukan penyiraman setiap hari," katanya.
Namun, ia mengakui hingga siang hari penyiraman belum dilakukan.
"Untuk hari ini memang belum, nanti siang akan kami siram," ujarnya.
Ariski menjelaskan, proyek rekonstruksi Jalan Liwa memiliki nilai kontrak lebih dari Rp3,5 miliar dengan total panjang pekerjaan sekitar 400 meter yang terbagi dalam tiga titik, masing-masing sepanjang 125 meter, 125 meter, dan 150 meter.
Saat ini pekerjaan masih difokuskan pada pemasangan batu mortar sebagai persiapan sebelum pengecoran jalan menggunakan konstruksi rigid beton dengan total ketebalan 40 sentimeter.
"Untuk saat ini masih tahap pemasangan batu mortar sebelum pengecoran rigid beton," katanya. (*)
Editor: Muhammad Furqon
