MOMENTUM, Bandarlampung--Produksi hormon tiroid berlebihan dapat memengaruhi jantung, metabolisme, hingga kesehatan mental. Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah komplikasi.
Hipertiroid merupakan salah satu gangguan pada kelenjar tiroid yang masih sering tidak disadari oleh masyarakat. Penyakit ini terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) secara berlebihan, sehingga mempercepat proses metabolisme tubuh. Akibatnya, penderita dapat mengalami berbagai keluhan, mulai dari jantung berdebar, berat badan turun drastis, hingga gangguan tidur dan kecemasan.
Kelenjar tiroid sendiri merupakan organ kecil berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher. Meski ukurannya kecil, organ ini memiliki peran penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti metabolisme, suhu tubuh, pertumbuhan, serta kerja jantung dan sistem saraf. Ketika produksi hormon tiroid tidak seimbang, berbagai organ tubuh ikut terdampak.
Hipertiroid dapat menyerang siapa saja, tetapi lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Salah satu penyebab tersering adalah penyakit Graves, yaitu gangguan autoimun yang membuat sistem kekebalan tubuh merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon secara berlebihan. Selain itu, hipertiroid juga dapat disebabkan oleh benjolan tiroid (nodul), peradangan kelenjar tiroid, atau penggunaan obat-obatan tertentu.
Gejala hipertiroid sering berkembang secara perlahan sehingga banyak penderita menganggapnya sebagai kelelahan biasa. Tanda-tanda yang umum meliputi penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, nafsu makan meningkat, jantung berdebar, tangan gemetar, mudah berkeringat, tidak tahan terhadap cuaca panas, sulit tidur, mudah marah, serta sering merasa cemas. Pada beberapa kasus, kelenjar tiroid dapat membesar sehingga tampak sebagai benjolan di leher. Pada penderita penyakit Graves, mata juga dapat terlihat lebih menonjol dari biasanya.
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium guna mengukur kadar hormon TSH, T3, dan T4 dalam darah. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan penunjang seperti USG tiroid atau pemindaian dengan radioisotop juga diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan tersebut.
Penanganan hipertiroid disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Terapi yang umum diberikan meliputi obat antitiroid untuk menghambat produksi hormon, obat penghambat beta (beta blocker) untuk mengurangi gejala seperti jantung berdebar, terapi radioiodin untuk menghancurkan sebagian jaringan tiroid yang terlalu aktif, hingga tindakan operasi pada kasus tertentu.
Apabila tidak ditangani dengan baik, hipertiroid dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti gangguan irama jantung, gagal jantung, osteoporosis, hingga krisis tiroid (thyroid storm), yaitu kondisi darurat medis yang dapat mengancam nyawa.
Selain menjalani pengobatan, penderita juga dianjurkan menerapkan pola hidup sehat. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, cukup beristirahat, mengelola stres, serta rutin memeriksakan kondisi ke dokter merupakan langkah penting dalam mendukung keberhasilan terapi. Pasien juga tidak dianjurkan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter karena dapat menyebabkan penyakit kambuh atau memburuk.
Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai hipertiroid menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi dampak penyakit ini. Mengenali gejala sejak awal, segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan, serta mengikuti anjuran tenaga kesehatan dapat membantu mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Hipertiroid memang bukan penyakit yang selalu dapat dicegah, namun dengan diagnosis yang cepat, pengobatan yang tepat, dan kepatuhan pasien terhadap terapi, sebagian besar penderita dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal. Oleh karena itu, edukasi mengenai kesehatan tiroid perlu terus ditingkatkan agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga fungsi kelenjar kecil yang memiliki peran besar bagi kesehatan tubuh.(**)
Oleh: dr. Muhammad Aditya Utomo, penulis adalah dokter yang bertugas di Provinsi Lampung.

Editor: Agus Setyawan
