SEORANG pria di Tabanan, Bali, tewas dikeroyok massa karena diduga mencuri seekor ayam. Kasus ini langsung menyita perhatian. Pejabat angkat bicara, wakil rakyat mengecam, dan polisi bergerak cepat menangkap para pelaku pengeroyokan. Secara hukum, tidak ada pembenaran. Main hakim sendiri adalah kejahatan.
Namun, ada pertanyaan yang lebih penting: mengapa masyarakat begitu mudah berubah menjadi hakim?
Boleh jadi karena sebagian orang mulai kehilangan kepercayaan bahwa hukum mampu memberi rasa aman. Mereka lelah menjadi korban, sementara pelaku kejahatan seolah selalu kembali.
Lihat saja kenyataan hari ini. Parkir sepeda motor tak lagi benar-benar aman. Kotak amal di musala dan masjid pun dibobol. Di Tulangbawang dan Mesuji, buah kelapa sawit serta getah karet yang masih di kebun ikut menjadi sasaran pencurian. Ada petani yang memilih membabat habis tanamannya karena tak sanggup lagi menghadapi ulah maling.
Baca Juga: Menunggu Giliran Ditangkap
Aparat tentu bekerja. Namun di mata masyarakat, hasilnya belum sepenuhnya terasa. Pencurian terus berulang, sasaran makin beragam, sementara pelaku kerap lolos atau tidak menimbulkan efek jera. Kekecewaan itu menumpuk menjadi kemarahan, meski tetap tidak dapat membenarkan aksi main hakim sendiri.
Ironinya, saat pencuri ayam atau pencuri motor nyaris kehilangan nyawa, masyarakat juga menyaksikan para "perampok kelas atas" yang menguras uang rakyat dalam jumlah fantastis. Mereka tampil rapi, berbicara tentang integritas, lalu ketika tersandung hukum, hukumannya kerap terasa tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan.
Di situlah rasa keadilan publik mulai retak. Hukum terasa belum cukup tegas terhadap mereka yang merampas uang rakyat dan masa depan jutaan orang. Sebaliknya, terhadap pelaku kejahatan kecil, penegakan hukum kerap terlihat lebih cepat dan lebih keras di mata masyarakat.
Negara tak boleh membiarkan massa menjadi hakim. Tetapi negara juga tak boleh membiarkan rakyat kehilangan kepercayaan kepada hukum. Sebab ketika kepercayaan itu hilang, yang tersisa hanyalah amarah yang menunggu sasaran berikutnya.
Tabik!
Muhammad Furqon - Dewan Redaksi Harian Momentum.
Editor: Muhammad Furqon
