APA yang kita temukan sering kali bukan semata-mata karena memang ada di depan mata, melainkan karena itulah yang kita cari.
Dalam sebuah majelis, seorang jemaah bercerita tentang pengalamannya menjalankan ibadah umrah. Dengan nada heran, ia mengaku menemukan wanita penghibur di Tanah Suci.
Sang peceramah di majelis itu kemudian menanggapi dengan menceritakan pengalamannya berdakwah ke Amerika Serikat. Ia berkeliling ke berbagai tempat, tetapi tidak pernah menemukan wanita penghibur.
Jemaah itu tentu heran. Mengapa di Tanah Suci ia justru menemukan wanita penghibur, sementara di Amerika Serikat, yang dikenal lebih terbuka, sang penceramah tidak menemukannya?
Jawaban sederhana: manusia sering dipertemukan dengan apa yang ia cari.
Jika yang dicari aib orang, aib pula yang terlihat. Jika yang dicari keburukan, keburukan akan mudah ditemukan di mana-mana.
Ia kemudian mengibaratkan manusia seperti lalat dan lebah.
Lalat, meski berada di tempat yang bersih, akan mencari sampah. Sebaliknya, lebah, bahkan di tempat yang kotor, akan mencari bunga.
Begitulah pikiran bekerja. Orang yang dipenuhi prasangka dan pikiran negatif akan selalu menemukan alasan untuk mencela. Dalam istilah Jawa: entek ngamek, ra enek golek. Apa pun yang dilihat, selalu ada yang kurang dan salah.
Sebaliknya, orang yang berpikiran baik akan lebih mudah menemukan sesuatu yang patut dihargai dan disyukuri. Ia tidak sibuk mengorek aib, karena perhatiannya tertuju pada hal-hal yang lebih baik.
Ada ungkapan: orang yang dipenuhi cinta akan merasa berat untuk menemukan satu aib orang lain. Sebaliknya, mata yang dipenuhi kebencian akan membuat keburukan sekecil apa pun terlihat besar.
Karena itu, sebelum mengeluhkan dunia yang terasa penuh keburukan, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: kita sedang menjadi lalat atau lebah?
Sebab, sering kali bukan dunia yang berubah. Kitalah yang menentukan apa yang ingin kita lihat.
Tabik
Muhammad Furqon - Pemimpin Redaksi Harian Momentum
