Agrowisata Rigisjaya, Sebelum Kopi Menjadi Kopi

img
Agrowisata Rigisjaya Lampung Barat. Foto: Ist.

Oleh: Majid Lintang 

MENYUSURI Kampung Kopi Rigisjaya, dari buah merah di lereng Bukit Rigis hingga secangkir robusta yang menyimpan cerita tentang tanah, petani, dan waktu

Pagi di Rigisjaya tidak datang dengan tergesa-gesa.

Kabut masih menggantung di antara bukit-bukit ketika jalan mulai menanjak menuju Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat. Udara menjadi lebih dingin. Pepohonan semakin rapat. Di kejauhan, lereng-lereng hijau seperti gelombang yang membeku.

Kemudian aroma itu datang.

Bukan aroma kopi yang baru diseduh, melainkan aroma tanah basah, daun, rumput dan udara pegunungan yang entah bagaimana membuat kita teringat pada kopi.

Di sinilah Kampung Kopi Rigisjaya berada.

Sebuah desa yang menemukan cara sederhana untuk bercerita kepada dunia: jangan hanya minum kopi kami. Datanglah dan lihat dari mana kopi itu berasal.

Rigisjaya bukan kedai kopi yang kebetulan memiliki kebun.

Ia adalah kebun yang belajar menjadi cerita.

Di mana kopi tumbuh

Jalan membawa perjalanan semakin dekat ke perkebunan.

Tanaman kopi tumbuh di lereng-lereng. Batangnya tidak selalu tampak gagah. Daunnya sederhana. Tetapi dari tanaman yang tampak biasa itulah lahir sesuatu yang kelak begitu akrab dengan manusia: secangkir kopi.

Di bawah naungan pepohonan, buah-buah kopi bergelantungan.

Sebagian masih hijau.

Sebagian mulai menguning.

Dan yang sudah matang berwarna merah, seperti butiran kecil yang menyimpan matahari.

Petani menyebutnya petik merah.

Di tangan petani, buah kopi tidak sekadar buah. Ia adalah hasil dari kesabaran berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Sebab kopi bukan tanaman yang mengenal kata tergesa.

Ia tumbuh dengan waktu.

Ia matang dengan waktu.

Dan akhirnya, ia mengajarkan kepada manusia bahwa sesuatu yang baik memang tidak selalu bisa dipaksa menjadi cepat.

Perjalanan sebuah biji

Di Rigisjaya, wisatawan dapat mengikuti perjalanan kopi dari hulu hingga hilir.

Inilah yang membuat kampung ini berbeda.

Kita tidak langsung duduk di meja dan memesan kopi.

Kita diajak mundur.

Jauh ke belakang.

Ke tempat semuanya bermula.

Dari pembibitan.

Dari tanah.

Dari tangan petani.

Dari biji kecil yang ditanam dan dirawat sampai menjadi pohon.

Kemudian datang musim panen.

Buah-buah merah dipetik.

Dibawa untuk diproses.

Dijemur.

Dipilah.

Diolah.

Disangrai.

Barulah kemudian menjadi sesuatu yang kita kenal sebagai kopi.

Perjalanan itu panjang.

Tetapi biasanya kita tidak pernah memikirkannya.

Di kedai, kita hanya berkata:

“Americano satu.”

Atau:

“Robusta satu.”

Lalu kopi datang.

Selesai.

Padahal sebelum berada di cangkir, kopi telah melewati tangan begitu banyak manusia dan perjalanan begitu panjang.

Rigisjaya mengajak kita mengingat kembali perjalanan itu.

Bukit yang bernama Rigis

Dari kawasan perkebunan, pandangan mengarah ke lanskap Bukit Rigis.

Nama Rigis sendiri memiliki cerita lokal. Dalam penuturan yang berkembang di kawasan ini, bentuk bukit yang bergerigi mengingatkan orang pada gergaji.

Dari kejauhan, barisan perbukitan itu seperti punggung bumi yang tidak pernah selesai ditulis.

Hijau.

Bergelombang.

Diam.

Tetapi sebenarnya penuh kehidupan.

Ada suara burung.

Ada langkah petani.

Ada daun yang bergesekan ditiup angin.

Ada buah kopi yang dipetik satu demi satu.

Dan ada hutan yang menyimpan udara dingin sebelum pagi benar-benar menjadi siang.

Bagi wisatawan kota, pemandangan seperti itu mungkin terasa sederhana.

Bagi orang desa, itulah halaman rumah.

Belajar mencium kopi

Perjalanan kemudian berpindah dari kebun menuju pengolahan.

Di sinilah kopi mulai berubah wajah.

Biji kopi yang sebelumnya belum memiliki banyak cerita perlahan menemukan karakter.

Ada proses pengeringan.

Ada pemilahan.

Ada penyangraian.

Ketika biji mulai dipanaskan, aroma perlahan memenuhi udara.

Aroma itu seperti pintu yang dibuka.

Kita masuk ke dunia yang berbeda.

Kopi mulai berbicara.

Warna biji berubah.

Aroma muncul.

Rasa kelak ditentukan.

Di sini wisatawan dapat mengenal proses roasting dan memahami bahwa cita rasa kopi tidak semata-mata ditentukan oleh jenis tanamannya.

Tanah berperan.

Ketinggian berperan.

Cuaca berperan.

Cara panen berperan.

Pascapanen berperan.

Dan manusia—dengan segala ketelitian atau kelalaiannya—juga ikut menentukan.

Secangkir kopi ternyata adalah pertemuan banyak hal.

Ketika air bertemu kopi

Kemudian tibalah bagian yang paling akrab sekaligus paling sakral: menyeduh.

Air panas dituangkan perlahan.

Kopi yang telah digiling mulai mengeluarkan aroma.

Uap naik.

Tangan bergerak dengan hati-hati.

Di Rigisjaya, wisatawan dapat belajar manual brewing.

Ada sesuatu yang menarik dalam proses ini.

Kita dipaksa melambat.

Tidak bisa tergesa.

Tidak bisa sekadar menekan tombol.

Air harus dituangkan dengan sabar.

Kopi harus diberi waktu.

Dan mungkin di situlah pelajaran paling sederhana dari perjalanan ini:

kopi mengajarkan manusia untuk menunggu.

Kita menunggu air.

Menunggu ekstraksi.

Menunggu aroma.

Menunggu rasa.

Seperti petani yang menunggu pohon berbunga.

Menunggu buah menjadi merah.

Menunggu panen.

Menunggu hasil.

Secangkir kopi yang berbeda

Akhirnya secangkir kopi berada di depan mata.

Warnanya gelap.

Uapnya tipis.

Aromanya perlahan memenuhi ruang.

Kita menyeruput.

Dan tiba-tiba kopi terasa berbeda.

Bukan karena rasanya berubah.

Melainkan karena kita sudah tahu ceritanya.

Kita telah melihat pohonnya.

Menyentuh tanahnya.

Melihat buahnya.

Mengenal petaninya.

Menyaksikan prosesnya.

Maka kopi tidak lagi sekadar minuman.

Ia menjadi perjalanan.

Seteguk kopi terasa seperti meneguk sebagian kecil dari lereng Rigis.

Sebagian kecil dari hujan.

Sebagian kecil dari matahari.

Sebagian kecil dari kerja tangan manusia.

Desa yang menjual pengalaman

Kekuatan Rigisjaya sesungguhnya bukan semata-mata pada kopi.

Kopi adalah pintu.

Di balik pintu itu ada kehidupan desa.

Ada homestay.

Ada kuliner.

Ada seni.

Ada Tari Nyambai.

Ada Gamolan Pekhing.

Ada tradisi makan bersama.

Ada kerajinan.

Ada trekking.

Ada kawasan untuk berkemah.

Ada hutan dan perbukitan yang menawarkan perjalanan lain bagi mereka yang ingin berjalan lebih jauh.

Dengan demikian, wisatawan tidak datang hanya untuk membeli produk.

Mereka datang untuk mengalami kehidupan.

Inilah yang membuat konsep desa wisata menjadi menarik.

Masyarakat tidak perlu mengubah kampungnya menjadi kota kecil untuk menarik wisatawan.

Mereka justru menunjukkan apa yang selama ini mereka miliki.

Kebun.

Rumah.

Tradisi.

Makanan.

Hutan.

Dan kopi.

Dari kebun menjadi kesejahteraan

Ada persoalan penting dalam pariwisata desa: jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Rigisjaya mempunyai peluang untuk menghindari jebakan itu.

Ketika wisatawan datang, uang tidak hanya berhenti di loket.

Ia bisa mengalir kepada petani.

Pemilik homestay.

Pengelola paket wisata.

Perajin.

Warung makan.

Pemandu.

Penjual kopi.

Pengemudi.

Anak-anak muda desa.

Kopi yang dahulu hanya dijual sebagai komoditas dapat memperoleh nilai tambahan ketika menjadi pengalaman.

Secangkir kopi memiliki harga.

Tetapi cerita di balik secangkir kopi dapat menciptakan nilai yang lebih panjang.

Itulah ekonomi kreatif dalam bentuk yang paling sederhana.

Tanah menghasilkan kopi.

Kopi menghasilkan cerita.

Cerita menghasilkan kunjungan.

Kunjungan menghidupkan ekonomi.

Dan ekonomi kembali kepada masyarakat.

Pulang dengan aroma kopi

Menjelang sore, cahaya matahari mulai miring di balik bukit.

Kabut yang pagi tadi menggantung telah menghilang.

Jalan pulang menunggu.

Tetapi ada sesuatu yang tertinggal.

Bukan hanya sebungkus kopi.

Melainkan cara pandang baru terhadap minuman yang selama ini mungkin kita teguk tanpa berpikir.

Kita pulang dengan kesadaran bahwa secangkir kopi tidak pernah benar-benar hanya secangkir kopi.

Di dalamnya ada tanah.

Ada hujan.

Ada matahari.

Ada bukit.

Ada petani.

Ada tangan.

Ada kesabaran.

Ada kegagalan.

Ada harapan.

Dan ada waktu yang tidak bisa dipercepat.

Mungkin itulah alasan perjalanan ke Rigisjaya terasa lebih panjang daripada jarak yang ditempuh.

Sebab yang kita tempuh sebenarnya bukan sekadar jalan menuju sebuah desa.

Kita sedang berjalan mundur—dari cangkir menuju biji, dari biji menuju buah, dari buah menuju pohon, dari pohon menuju tanah.

Dan ketika akhirnya kembali menyeruput kopi, kita tahu:

sebelum kopi menjadi kopi, ia lebih dahulu menjadi cerita.

Cerita tentang manusia yang menanam.

Tentang alam yang menjaga.

Tentang waktu yang bekerja diam-diam.

Dan tentang sebuah desa di lereng Bukit Rigis yang memilih untuk berkata kepada dunia:

“Mari. Jangan hanya minum kopi kami. Lihatlah bagaimana ia dilahirkan.”(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos