Tiga Nama Mengerucut di Bursa Ketum PBNU: Gus Yahya, Imam Jazuli, dan Gus Kikin

img
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli, dan Ketua Umum PBNU petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Foto: Ist.

MOMENTUM, Jombang--Memasuki hari ketiga Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, persaingan memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengerucut pada tiga nama.

Persaingan memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai mengerucut pada tiga nama.

Ketiganya adalah Ketua Umum PBNU petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli, serta Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Pemetaan terhadap tiga nama tersebut muncul dalam dinamika menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU. Sejumlah media dan lembaga pemantau Muktamar menyebut ketiganya sebagai kandidat yang paling menguat di antara sejumlah nama yang sebelumnya masuk bursa. 

Gus Yahya maju dengan modal sebagai petahana. Ia telah menyatakan kembali mencalonkan diri karena ingin menuntaskan sejumlah agenda yang dibangun selama periode kepemimpinannya. 

Sementara itu, Imam Jazuli muncul sebagai salah satu figur alternatif dari kalangan pesantren. Namanya menguat dalam bursa seiring munculnya gagasan tentang regenerasi dan transformasi NU.

Adapun Gus Kikin memiliki modal struktural yang cukup kuat. PWNU Jawa Timur secara resmi menugaskannya maju sebagai kandidat Ketua Umum PBNU. Penugasan itu disebut merupakan hasil keputusan PWNU dan PCNU se-Jawa Timur, bukan atas permintaan pribadi Gus Kikin. 

Pertarungan tiga nama tersebut mempertemukan tiga jenis modal politik dalam tubuh NU: kekuatan petahana dan jaringan nasional, jaringan pesantren dan gagasan regenerasi, serta kekuatan struktur organisasi dan basis pesantren.

Selain ketiganya, sejumlah nama sebelumnya juga disebut dalam bursa Ketua Umum PBNU, antara lain KH Yusuf Chudlori, KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Abdussalam Shohib dan KH Nasaruddin Umar. 

Namun, menjelang agenda pemilihan, perhatian semakin terkonsentrasi pada Gus Yahya, Imam Jazuli, dan Gus Kikin.

Muktamar ke-35 NU berlangsung di Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026. Pemilihan Ketua Umum PBNU menjadi salah satu agenda penting dalam forum lima tahunan organisasi tersebut.

Siapa yang akan memimpin PBNU untuk periode berikutnya pada akhirnya bergantung pada dinamika Muktamar dan dukungan para pemilik suara, bukan semata-mata popularitas kandidat. (*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos