Bukan Pembangkang

img
Adipati Opie

MOMENTUM, Metro--Sudah beberapa hari, pusat keramaian di sejumlah lokasi Kota Metro sepi dari hiruk-pikuk keramaian. Tak tampak lagi suasana ceria, kumpulan orang duduk santai bercengkerama di taman kota. Ke mana mereka? Ada apa dengan kota berselogan Bumi Sai Wawai itu.

Segudang rasa penasaranku, berserakan di pojok otak sebelah kanan. Aku coba menghampiri seorang lelaki berperawakan kurus dengan rambut beruban (putih).  Usianya kira-kira 50 tahun ke atas. Dia pedagang di salah satu pusat keramaian Kota Metro.

"Ada air mineral botolan pak," tanyaku basa-basi. "Ada, yang kecil apa yang besar," jawabnya balik bertanya. "Kecil aja pak," balasku. Sambil mengelap botol air mineral yang kupesan tadi dengan tisu, dia pun nyeletuk. "Antisipasi penyebaran corona mas," cetusnya memberikan botol air mineral itu padaku.

Mendengar celetukan itu, saya pun mulai mengeluarkan segudang rasa penasaran  tadi. "Apa gara-gara itu (corona) sekarang tempat ini jadi sepi pengunjung pak."  

"Bisa jadi mas. Kan ada imbauan dari pemerintah untuk tidak keluyuran di luar rumah. Katanya untuk membantu mutusin penularan virus. Jadi orang-orang lebih memilih di rumah."  jawabnya.

"Trus, kok bapak masih dagang," tanyaku lagi.

"Kalau saya enggak dagang, nanti saya sama keluarga enggak makan mas. Cuma dagang inilah pendapatan saya untuk makan sekeluarga. Ini aja modalnya masih utang dengan koperasi," ucapnya sambil menyunging senyum penuh makna.

Sesaat aku terdiam. Menghentikan pertanyaan. Merenungi kondisi yang terjadi. Ya, sambil menjaga suasana, supaya pak tua itu tetap optimis berdagang. Padahal, rasa penasaranku belum klimaks.  

Aku membayangkan, seandainya berada dalam posisi dan kondisi pak tua itu. Tentu sangat tidak nyaman.

Sebenarnya, apa yang dirasakan pak tua itu tak jauh berbeda dengan yang kurasakan. Menjalani profesi wartawan dalam kondisi seperti saat ini, tentu juga sangat tidak nyaman.  

Sebagai wartawan, aku dituntut tetap mencari berita yang akurat. Untuk mendapatkan itu, tentu aku tidak bisa lepas dari interaksi dengan banyak orang. Artinya resiko, ancaman bahaya corona pun semakin besar. 

Ya, biarlah kami di luar rumah. Bukan untuk membangkang imbauan pemerintah. Apa lagi untuk cari muka. Biar di bilang loyal. Beehh...tidak sama sekali.

Itu semua bagian dari resiko dan tuntutan profesi yang memaksa kami tetap berinterkasi di luar rumah. Mencari dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Sekali lagi kami, bukan pembangkang. 

Biarlah kami di luar bersama profesi-profesi lainnya. Kalian di rumah saja.  Bantulah pemerintah, ikuti intruksinya. Jangan gegabah. Jangan asal menyebar berita yang tidak jelas sumbernya.

Ayo, bersama kita putus penyebaran corona virus disease (Covid-19) di muka bumi ini.

 Itu saja, Tabik pun....(**)

Adipati Opie wartawan Harian Momentum



Berita Terkait

Leave a Comment