Bukit Silitonga di Pringsewu, Potensi Wisata Sejarah yang Terpendam

img
Wakil Bupati Pringsewu Fauzi dan jajarannya meninjau lokasi Bukit Silitonga. Foto. Lis.

MOMENTUM, Pringsewu--Hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat perkantoran Pemkab Pringsewu. Suatu lokasi yang menyimpan nilai sejarah dan dikenal dengan Bukit Silitonga.

Bukit Silitonga terletak di Pekon/Ddesa Sukoharjo IV Kecamatan Sukoharjo. Sedang Perkantoran Pemkab Pringsewu berada di Pekon Klaten, Kecamatan Gadingrejo. Kedua lokasi ini dipisahkan lahan persawahan, perbukitan, dan aliran Way Sukampung. 

Untuk menjangkau Bukit Silitonga, dibutuhkan waktu tempuh sekitar 15 menit dari perkantoran Pemkab Pringsewu. Namun, jika menggunakan mobil, harus memutar melalui Kecamatan Pringswu menuju Kecamatan Sukoharjo ke arah kanan. 

Menurut sejumlah sumber, sebutan Bukit Silitonga itu terkait dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia mempertahkan Kemerdekaan. Saat pasukan Belanda akan kembali menjajah Indonesia dalam Agresi Militer II. Bukit itu menjadi tempat pertahanan tentara Indonesia dibawah pimpinan Kapten Darius Silitonga.

Bahkan, Bukit Silitonga merupakan satu-satunya wilayah yang ada di sekitar Pringsewu yang berhasil dipertahankan dari pendudukan kembali pasukan Belanda.

Di kawawan bukin yang awalnya bernama Gunung Wungkal,  perjuangan pasukan Kapten Darius Silitonga, dibantu seorang warga Belanda, Francois Van der Linde. Anggota Indische Partij dan ahli senjata ini, berpihak dan mendukung kemerdekaan Indonesia.

"Pasukan Kapten Darius Silitonga berhasil menghalau pesawat tempur Belanda yang akan menyerang Kota Pringsewu," papar Emmalia Johan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten daat menemati Wakil Bupati Pringsewu Fauzi meninjau lokasi, Sabtu (19-9-2020).

Berdasarkan data yang dihimpun, kata dia, untuk menghadapi serangan pesawat tempur Belanda, Kapten Silitonga bersama pasukannya dan Francois Van der Linde, membuat suatu strategi untuk pertahanan dari serangan pasukan Belanda.

Sementara tokoh masyarakat setempat, Suripto mengatakan, di seputar Bukit Silitonga dulu ada sejumlah goa dan lorong menuju goa lainnya yang dipergunakan untuk bersembunyi tentara Indonesia sekaligus untuk mengintai kedatangan tentara Belanda.

Namun, karena perjalanan waktu, kini goa-goa tersebut tertutup gundukan tanah dan semak belukar. "Mungkin jika dilakukan penggalian, kondisi goa akan terlihat lagi," ucap Suripto 

Sementara Wabup Fauzi, sebelum sampai puncak Bukit Silitonga dengan mengendarai kendaraan roda dua, terlebih dulu berdialog dengan masyarakat Pekon Sukoharjo IV di balai pekon membahas potensi Bukit Silitonga sebagai tempat wisata sejarah.

Fauzi mengajak masyarakat menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki pekon tersebut. Kepala pekon, para pemuda dan masyarakat diminta bekerja sama mengangkat potensi yang terpendam ini. Bisa juga dengan memberdayakan badan usaha milik desa.

"Mengingat lokasi Bukit Silitonga milik perseorangan, pemerintah daerah bukan akan mengambil-alih. Namun hanya membantu, membina dan memfasilitasinya saja," ujarnya.

Di tempat yang sama, Richard Van der Linde yang juga salah satu anak Francois Van der Linde. Dia berasal dari Pekon Sukoharjo IV namun kini tinggal di Pekon Kediri, Kecamatan Gadingrejo. Menurut Ricard, lahan Bukit Silitongan merekan milik keluarganya.

Dia bersama keluarga besar Francois Van der Linde menyatakan siap membantu dan mendukung rencana pengembangan Bukit Silitonga menjadi salah satu obyek wisata di Kabupaten Pringsewu.

Richard berharap kepada seluruh masyarakat Sukoharjo IV agar dapat menyatukan persepsi supaya dengan sadar wisata maka rencana tersebut dapat terealisasi.

"Semoga masyarakat pekon Sukoharjo IV akan sadar wisata sehingga semakin maju supaya pekonnya tidak selalu ketinggalan," harapnya.

Sedang Sekdispora dan Pariwisata Pringsewu Suchairi Sibarani mengatakan wilayah itu potensial jadi tempat wisata. Sebab ada bukit dan  sungai (Way Sekampung) dan persawahan yang membentang luas. "Jika dikoneksikan tentu bagus dan dapat menarik wisatawan," ucap Suchairi. (*)

Laporan: Sulistyo.

Editor: M Furqon.




Leave a Comment