MOMENTUM, Bandarlampung--Aksi unjuk rasa dari Aliansi Lampung Melawan kemarin Senin, (23-2-2026), telah usai. Namun, pesan dan kesannya belum selesai untuk direnenungkan.
Aksi yang diikuti sekitar seratus mahasiswa tersebut berlangsung damai. Di rengah aksi, mereka mengajak aparat kepolisian yang berjaga untuk menundukkan kepala sejenak dan mengheningkan cipta.
Koordinator lapangan aksi, M Zakki, mengatakan hening cipta itu bukan hanya untuk pahlawan pejuang kemerdekan. Tapi, ditujukan kepada para korban kekerasan yang meninggal dunia akibat atas tindakan represif aparat.
"Mari, semua rekan-rekan dan bapak-bapak polisi yang ada di depan, kita mengenang para pahlawan tanpa tanda jasa, yang banyak merenggang nyawa, yang banyak dianiaya oleh aparat-aparat yang tidak mengayomi kita. Saya harap, kita semua di sini dapat hening sejenak untuk mengheningkan cipta, mengingat korban-korban yang telah gugur karena kekerasan-kekerasan dari aparat," kata Zakki dalam orasinya.
Baca Juga: Brimob dan Tragedi Arianto Tawakal
Prosesi hening cipta diiringi lagu Gugur Bunga karya Ismail Marzuki. Sejumlah mahasiswa dan aparat kepolisian tampak menundukkan kepala selama beberapa saat.
"Tumbuhkan empati kita, tumbuhkan rasa iba kita terhadap korban-korban yang meregang nyawa, orang-orang yang tidak bersalah yang menjadi korban dari aparat yang seharusnya menjadi pengayom, yang seharusnya bersahabat, yang seharusnya dekat dengan rakyatnya," tuturnya.
"Dengan khidmat, saya harap kita semua termasuk bapak polisi kita tundukan kepala kita. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka adalah rakyat bangsa Indonesia. Yang juga mempunya hak untuk hidup di bangsa ini," imbuhnya.
Dalam orasinya, massa aksi juga menyinggung soal kejadian pada Kamis, 19 Februari 2026 di Kota Tual, Maluku Tenggara. Arianto, siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Maluku, meninggal dunia akibat kekerasan fisik yang diduga dilakukan seorang anggota polisi dari Korps Brigade Mobil. Ia disebut dipukul menggunakan helm baja taktikal (tactical helmet) milik si Brimob.
"Kepada bapak-bapak (Polisi) semua, tinggalkan pangkat-pangkat bapak-bapak semua, semua tundukan kepala untuk mengingat juga anak umur 14 tahun dipukul, dianiaya oleh aparat," terangnya.
Bahkan, sebelum hening cipta itu dimulai, salah seorang orator juga sempat menyinggung atribut polisi pada aksi unjuk rasa kali ini.
"Saya kaget, kok ga ada helm polisi di sini. Apakah mereka menutupi masalah itu?," celetuk orator.
Ia berharap, ke depan tak terjadi kekerasan dari pihak mana pun. Terlebih, aparat kepolisian sudah semestinya menjadi pengayom dan pelindung masyarakat. (**)
Editor: Muhammad Furqon
