Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
MOMENTUM -- Dalam geopolitik, ada satu prinsip sederhana: siapa menguasai jalur sempit perdagangan dunia, ia memegang tuas kekuatan global. Jalur sempit itu dikenal sebagai maritime chokepoint -- titik leher botol yang menentukan kelancaran arus energi, logistik, dan perdagangan internasional. Jalur sempit bagi sirkulasi kapal-kapal terwujud secara alami atau buatan. Di dunia ada 10 jalur sempit, antara lain Selat Hormuz, Selat Bhosforus, Terusan Suez, Terusan Panama, Bab El-Mandab, Selat Gibraltar, dan empat lainnya ada di Indonesia. Pengendalian lalu lintas atas jalur sempit lini menentukan mata rantai pasokan global. Terhambat atau ditutupnya jalur ini akan mempengaruhi perekonomian global.
Iran melakukan itu, yakni menutup Selat Hormuz sebagai bagian dari ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Reaksi global langsung terasa: pasar energi bergejolak, harga minyak berfluktuasi, dan para pemimpin dunia sibuk menghitung risiko. AS pun bersiap mengirim marinir dan pasukan amfibinya ke selat itu dalam rangka mengatasi kebijakan Iran. Minimal ada empat cara untuk menunjukkan kedauatan Iran atas Selat Hormuz. Yakni mengancam meledakkan atau membakar kapal yang melintas, ranjau laut, drone penyerang dan peledak, serta perang proksi. Maka fokus peperangan diperluas serta diperdalam, sekaligus mengajak pihak ketiga terlibat. Rusia puas atas sikap Iran menutup jalur ini karena kenaikan harga energi berarti kenaikan pendapatannya. China bersikap ganda. Pada satu sisi, ia risau karena pasokan energinya terganggu, di sisi lain juga senang karena China menjadi negara yang dibutuhkan oleh berbagai kalangan untuk berdiplomasi dengan Iran.
Kenapa dunia begitu sensitif terhadap penutupan jalur ini.? Jawabannya, sekitar seperlima perdagangan energi berbasis fosil dunia melewati selat tersebut setiap hari. Gangguan kecil saja sudah cukup membuat ekonomi global bergetar dan gemetar. Tetapi, kisah ini sesungguhnya bukan hanya tentang Iran saja. Ini juga tentang Indonesia.
Negeri yang Dilewati Dunia
Dalam literatur geopolitik yang sering dibahas di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Indonesia disebut memiliki empat dari sekitar tujuh selat strategis dunia. Empat jalur itu adalah Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar. Inilah takdir geopolitik sekaligus aset strategis bangsa yang hingga saat ini seperti ditelantarkan.
Selat-selat ini bukanlah sekadar perairan biasa. Mereka itu urat nadi perdagangan global yang menghubungkan jalur energi Timur Tengah dengan pusat industri di Asia Timur, rute pelayaran Asia-Eropa, dan lainnya. Nyaris setiap hari ribuan kapal tanker, kapal kontainer raksasa, dan armada logistik internasional melintasi perairan tersebut karena Indonesia adalah Sealane of Communications ( SLoC), jalur pelayaran global yang tak kunjung sepi. Keempat selat ini ---terutama Malaka--- merupakan titik transit energi (minyak dan gas) terpenting dan tersibuk di dunia setelah Selat Hormuz. Posisi empat selat ini mengendalikan arus bahan bakar ke perekonomian utama Asia.
Namun ironisnya, Indonesia kerap melihat dirinya sebagai negara yang membutuhkan dunia. Padahal realitas geopolitiknya justru sebaliknya: dunia membutuhkan Indonesia. Harus diakui, Selat Malaka dalam penguasaan tiga negara: Indonesia, Singapura dan Malaysia. Singapura cerdik, ia memakai Armada VII AS agar mengisi logistik di pelabuhannya -- akibatnya, posisi tawar Singapura lebih kuat dibanding Indonesia dan Malaysia. Lagi, dengan dominannya posisi AS di Asia Tenggara, maka banyak perangkat maritim dan kelautan AS yang digunakan di Selat Malaka atas kendali AS sendiri.
Pelajaran dari Hormuz Chokepoint
Untuk memahami betapa pentingnya posisi Indonesia, mari kita bandingkan sekilas beberapa chokepoint global lainnya, antara lain:
Pertama adalah Terusan Suez di Mesir. Kanal ini mempersingkat jalur pelayaran antara Eropa dan Asia ribuan kilometer. Ketika kapal kontainer raksasa Ever Given kandas di sana pada 2021, perdagangan global langsung terganggu dan kerugian ekonomi dunia diperkirakan mencapai miliaran dolar per hari.
Kedua adalah Terusan Panama. Kanal ini menjadi penghubung vital antara Samudra Atlantik dan Pasifik. Siapa pun yang menguasainya memiliki pengaruh besar terhadap arus logistik global.
Ketiga, tentu saja Selat Hormuz. Lebarnya sekitar 30-an kilometer, tetapi dampak strategisnya menjangkau seluruh dunia. Ini sudah terbukti dan negara-negara lain merasakan dampaknya.
Sekarang bayangkan Indonesia. Berbeda dengan negara-negara di atas yang hanya memiliki satu chokepoint, Indonesia memiliki beberapa ---empat selat--- sekaligus dalam satu kawasan. Luar biasa.
Dalam teori kekuatan laut (Sea Power) yang dikemukakan oleh Alfred T. Mahan, penguasaan jalur laut dan chokepoint merupakan salah satu pilar utama kekuatan negara. Negara yang mampu mengendalikan jalur perdagangan laut akan memiliki pengaruh geopolitik jauh melampaui kekuatan militernya.
Senjata Geografi
Inilah yang disebut weaponization geography -- ketika geografi tidak lagi dinilai sekadar kondisi alam, tetapi berubah menjadi instrumen strategi negara. Tak dapat dielak, Iran memahami hal ini dengan sangat cerdas. Setiap ancaman penutupan Selat Hormuz saja langsung menciptakan tekanan global. Apalagi menutupnya. Ini senjata asimetris super-dashyat. Tanpa menembakkan satu peluru pun, ia dapat memengaruhi perhitungan politik dan ekonomi negara-negara di dunia.
Dalam perspektif strategi klasik, gagasan ini sebenarnya pararel dengan pemikiran Sun Tzu yang menekankan bahwa kemenangan terbaik adalah menang tanpa bertempur. Iran tidak butuh narasi panjang dan gebrak-gebrak meja saat pidato, cukup dengan sikap tegas bermartabat. Maka, geografi yang dimanfaatkan dengan tepat dapat berubah menjadi senjata paling efektif dari strategi tersebut.
Indonesia Pernah Melakukan
Indonesia sebenarnya pernah menunjukkan sekilas bagaimana kekuatan ini bekerja. Di masa Orde Baru, Indonesia menutup Selat Lombok selama dua minggu pada Agustus 1988 untuk latihan militer. Dampaknya langsung terasa. Jalur perdagangan beberapa negara terganggu, termasuk Australia yang harus memutar rute pelayaran hingga ke wilayah Papua Nugini. Biaya logistik meningkat, waktu perjalanan bertambah, dan tekanan diplomatik pun muncul.
Tak pelak, Perdana Menteri Australia saat itu, Bob Hawke, bahkan tergopoh menemui Presiden Soeharto untuk membahas dampak tersebut. Dari situ, pesannya jelas: ketika Indonesia menggunakan (senjata) posisi geografisnya, daya tawarnya langsung meningkat. Begitu juga dengan Thailand dan China yang membuat Terusan Kra sehingga nantinya tidak tergantung lagi pada Selat Malaka yang dikuasai oleh AS.
Berpikir Strategis di Era FLUX
Hari ini, dunia berada dalam situasi geopolitik yang semakin tidak stabil. Banyak analis menyebutnya FLUX: cepat berubah, cair, sulit diprediksi, dan penuh eksperimen strategi. Realitasnya terlihat dari rivalitas kekuatan besar meningkat, konflik regional bermunculan, dan jalur perdagangan global semakin sensitif. Era FLUX ini dapat direspon dengan baik jika kepemimpinan konsisten, memenuhi prinsip akuntabilitas konstitusi, mengoptimalkan kekuatan dengan menihilkan kepentingan diri dan kelompok, dan menumbuh kembangkan modal sosial sehingga terbangun disiplin politik sehingga tegak harkat martabat bangsa. Ali Khamenei telah memberi contoh. Juga Putin, Jinping, bahkan Pedro Sanchez, Perdana Menteri Spanyol.
Dalam situasi seperti ini, Indonesia perlu melihat kembali takdir geopolitiknya. Penguatan pengamanan selat strategis, pembangunan armada patroli cepat, pengembangan drone maritim, ranjau laut, pengembangan kapal selam berbasis tenaga nuklir serta penguatan industri pertahanan nasional seperti PT Pindad dan PT PAL Indonesia dapat menjadi bagian dari program-strategis tersebut. Tujuannya bukan agresi, tak pula untuk ancaman, melainkan membangun daya tangkal. Lemah daya tangkal, dipastikan mudah terpental. Jika mengingat bagaimana sejarah perjuangan bangsa-bangsa di Nusantara, mestinya di laut kita jaya menjadi kenyataan untuk mendayagunakan empat selat tesebut.
Dalam teori perang klasiknya Carl von Clausewitz, kekuatan militer sering kali justru paling efektif ketika tidak perlu digunakan -- karena keberadaannya saja sudah cukup untuk mencegah konflik. Prinsip ini terangkum dalam adagium Latin: si vis pacem, para bellum - - jikalau ingin damai, bersiaplah untuk perang. Begitu juga dengan ungkapan Dwight Eisenhower, di balik perang -- ada keuntungan besar menggiurkan.
Penentu Arah Dunia
Indonesia adalah bangsa yang cinta damai. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa kedamaian hanya bertahan ketika sebuah bangsa memiliki kekuatan untuk menjaganya. Dan bagi Indonesia, salah satu kekuatan terbesar itu bukan sekadar kapal perang atau rudal, melainkan takdir geografi itu sendiri. Nusantara sejak dahulu disebut Poros Maritim Dunia. Tetapi, gelar itu tidak akan hidup hanya dengan nostalgia sejarah. Ia menunggu keberanian generasi baru untuk membuktikan. Karena dalam geopolitik, bangsa yang menguasai jalur laut tak cuma dilalui sejarah, mereka justru menulisnya.
Sekali lagi, bila generasi hari ini mampu membaca takdir geopolitik itu dengan keberanian dan kecerdasan, maka Indonesia tidak hanya sekadar dilewati dunia, tetapi menentukan arah dunia. Ulangi: "menentukan arah dunia". Rasanya kita perlu bercermin diri secara mendalam, kenapa bangsa dan negara ini membutuhkan validasi dari bangsa lain justru atas kekayaan yang dimilikinya. Ini menggambarkan, betapa bangsa dan negara ini tengah terjajah secara struktural fundamental dan fungsional. Dan itu mustahil terjawab oleh mereka yang lekang dengan semangat, nilai-nilai, dan arah perjuang dan kejuangan bangsa sebagaimana diamanat dalam Kata Pembukaan UUD 1945. Jika mengkhianatinya, tunggulah jawaban yang akan menghinakan untuk para penjilat dan pengkhianat. (**)
Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
Editor: Muhammad Furqon
