Sate Madura: Asap yang Membawa Pulang

img

Oleh Majid Lintang

TIDAK ada jam yang benar-benar terlambat bagi sate Madura. Ketika warung makan lain mulai merapikan kursi, bara arang di atas tungku kecil justru menyala semakin merah. Asap tipis mengepul ke langit malam, membawa aroma daging yang perlahan matang. Orang-orang datang mengikuti penciuman mereka, seolah hidung lebih tahu jalan pulang daripada kaki.

Di balik gerobak sederhana itu, seorang lelaki terus mengipas bara dengan sepotong anyaman bambu. Wajahnya berkilau oleh cahaya api yang menari. Tangan kanannya membolak-balik tusukan sate tanpa tergesa, sementara tangan kirinya sesekali mengoleskan campuran kecap dan bumbu yang menetes ke bara, melahirkan letupan-letupan kecil yang terdengar seperti bisikan hujan.

Begitulah sate Madura lahir setiap malam: bukan sekadar makanan, melainkan sebuah pertunjukan yang dimainkan oleh api, asap, dan kesabaran.

Konon, dari Pulau Madura yang tanahnya keras dan anginnya asin, lahir orang-orang yang tak pernah takut merantau. Mereka membawa sedikit harta, tetapi menyimpan satu resep yang nilainya tak dapat dihitung dengan uang. Resep itu adalah keyakinan bahwa makanan yang dibuat dengan ketekunan akan selalu menemukan penikmatnya.

Maka gerobak sate pun menjelajah negeri. Dari gang sempit di Surabaya, trotoar Jakarta, sudut Balikpapan, hingga kota-kota kecil yang bahkan belum memiliki pusat perbelanjaan megah. Di mana ada lampu jalan dan ruang untuk berhenti, di situ asap sate Madura menemukan rumahnya.

Rahasia kelezatannya bukan hanya pada daging ayam atau kambing yang empuk. Bukan pula semata-mata pada bumbu kacang yang lembut, manis, gurih, lalu ditutup kecap pekat berwarna hitam mengilap. Rahasia itu justru tersembunyi di sela-sela bara arang yang membakar perlahan.

Api yang terlalu besar akan membuat daging gosong di luar, tetapi mentah di dalam. Api yang terlalu kecil membuat sate kehilangan jiwanya. Karena itu, penjual sate yang baik sesungguhnya sedang berdialog dengan bara, memahami kapan harus meniup, kapan membalik tusukan, dan kapan mengangkatnya sebelum waktu mencuri kelembutan daging.

Setiap tusuk sate adalah kisah tentang kesabaran.

Di atas piring, sate Madura tampil tanpa kemewahan. Beberapa tusuk daging tersusun rapi, disiram bumbu kacang yang harum, diberi irisan bawang merah, sedikit cabai, lalu ditemani lontong yang dipotong-potong. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah keagungannya lahir.

Gigitan pertama menghadirkan rasa manis kecap. Detik berikutnya, kacang tanah yang disangrai mengisi langit-langit mulut dengan gurih yang hangat. Sesudahnya, aroma arang muncul perlahan, meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Lidah tidak hanya mengecap rasa, tetapi juga mengenang perjalanan panjang sebuah tradisi.

Sate Madura mengajarkan bahwa makanan terbaik tidak selalu lahir dari dapur paling mewah. Kadang ia lahir dari gerobak yang rodanya mulai berderit, dari tangan yang telah menghitam oleh asap selama puluhan tahun, dan dari doa-doa sederhana seorang perantau yang berharap dagangannya habis sebelum tengah malam.

Barangkali itulah sebabnya sate Madura tak pernah benar-benar menjadi milik Madura semata. Ia telah menjadi milik semua orang yang pernah berhenti di depan gerobak bercahaya temaram, menghangatkan tangan di dekat bara, lalu menyadari bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: beberapa tusuk sate, sepiring lontong, dan aroma asap yang membuat hati merasa pulang.(*)

BIODATA PENULIS 

*Majid Lintang, wartawan senior Lampung, yang sekarang domisili di Balikpapan. Ia pernah menjadi wartawan Lampung Post (1987-1999), Trans Sumatera (1999-2001), koresponden majalah Trust (2002-2003), penulis lepas majalah Al-Kisah dan majalah Misteri. Aktif mengelola media lokal seperti mingguan Kopi Lampung, Lampoeng Arena (2003-2004), dan Tabloid Tawon di Lampung Tengah (2006-2016). Ia pernah menjadi Ketua PWI Perwakilan Tanggamus (1999-2001) dan aktif di Jaringan Wartawan Pemantau Pemilu (JWPP), 1999. Bukunya: Depati Kuris Notoyudo, Pahlawan Sosial dari Empatlawang.






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos