MOMENTUM, Sidomulyo--Siang baru saja merambat di halaman SDN 1 Budidaya, Sidomulyo. Saat bel pulang berbunyi, seorang siswa perlahan mendekat, menatap penuh harap sambil menarik pelan ujung baju Debora Intan.
"Kak, besok datang lagi ya?" tanyanya polos.
Debora Intan Ashshofa (26) menoleh pada rekannya, Tamara Karent (26). Keduanya saling melempar senyum lalu mengangguk mantap. Bagi mereka, pertanyaan sederhana di penutup siang itu bukan sekadar sapaan pamit, melainkan alasan utama mengapa roda sepeda motor mereka harus terus berputar menembus debu Jalan Lintas Sumatera setiap harinya.
Pukul 07.00 WIB, dua sepeda motor bergerak keluar dari sebuah rumah kontrakan kecil di Kecamatan Sidomulyo. Sejak 11 Juli lalu, rutinitas dari pagi hingga siang itu menjadi "napas" harian bagi Tamara dan Debora.
Selama enam bulan hingga Desember 2026, dua gadis muda ini mengemban misi sebagai fasilitator program JAPFA for Kids untuk mendampingi dan memantau siswa di 15 sekolah dasar se-Kecamatan Sidomulyo.
"Rute terjauh bisa sampai 10 kilometer. Tugas utama kami memastikan program dan kebiasaan sehat benar-benar berjalan konsisten di setiap sekolah," ujar Tamara saat bersiap sebelum bertolak menuju SDN 1 Budidaya di pagi hari.
Banyak yang tak menyangka latar belakang dua fasilitator ini. Tamara dulunya adalah seorang model profesional. Namun, lulusan Pembangunan Sosial FISIPOL UGM ini memilih melepas dunia modeling pada 2025 demi membumikan ilmunya.

Tamara Karent berswafoto bersama para siswa Sekolah Dasar saat mendampingi kegiatan di halaman sekolah di wilayah Sidomulyo, Lampung Selatan.
"Saya pengen terjun langsung ke masyarakat, nggak mau cuma paham teori di atas kertas," tutur Tamara kepada wartawan harianmomentum.com, Selasa (4-8-2026).
Sementara itu, Debora, gadis asal Tasikmalaya yang terbiasa dengan suasana sejuk Bandung, mengaku sempat kaget di minggu-minggu pertamanya di Lampung Selatan.
"Awalnya kaget lihat truk-truk gede di jalan lintas saat berangkat pagi. Tapi dalam dua minggu sudah terbiasa. Sekarang kalau sehari saja nggak ke sekolah, malah kangen," kata lulusan D-IV Pekerjaan Sosial-Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung itu tertawa.
Menjaga Harapan Tetap Menyala
Setiap Sabtu, suasana sekolah menjadi lebih ceria melalui puncak kegiatan "Hari Sehat JAPFA". Kegiatan ini dipimpin langsung oleh guru penanggung jawab sekolah, sementara tugas Tamara dan Debora berada di baris pemantauan untuk memastikan seluruh alur berjalan tertib dan tepat sasaran.
Sejak bel pagi bergema, kedua fasilitator ini mengamati pelaksanaan senam empat pilar gizi, sesi edukasi kesehatan, hingga membimbing pembiasaan cuci tangan pakai sabun dan pemeriksaan kebersihan kuku para siswa.
Momen paling krusial terjadi saat jam makan bersama. Tamara dan Debora ikut berkeliling mengintip meja-meja kelas untuk memantau kelengkapan bekal yang dibawa sendiri oleh siswa dari rumah.

Debora Intan Ashshofa berswafoto bersama para siswa saat mendampingi kegiatan di halaman sekolah di wilayah Sidomulyo, Lampung Selatan.
"Kami bantu cek satu per satu piring dan kotak bekal anak-anak. Apakah sudah sesuai anjuran gizi seimbang: ada karbohidrat, protein seperti telur atau ikan, sayur, buah, dan air putih," jelas Debora.
Ritual yang paling ditunggu anak-anak sebelum istirahat atau pulang sekolah adalah pembagian stempel cap bintang di buku harian mereka setelah menghabiskan jatah protein. Tak jarang, beberapa anak meminta difoto sambil memegang telur rebusnya. "Buat dikirim ke Ibu," celetuk salah satu murid SDN 1 Budidaya.
Dampak program ini merembet hingga ke rumah. Melalui grup WhatsApp bersama para orang tua dan guru, Tamara dan Debora aktif memberikan masukan atas catatan pemantauan harian. Jika ada anak yang mulai bosan membawa telur, mereka menyarankan variasi olahan protein lain seperti ikan, tahu, tempe, hingga kombinasi sayuran.
Dalam buku catatan kecil Tamara, ada 157 nama anak di Sidomulyo yang mendapat perhatian khusus karena terindikasi malagizi. Bekerja sama dengan Puskesmas setempat, data tumbuh kembang serta berat dan tinggi badan para siswa rutin dipantau dan dicocokkan tiap akhir bulan.
"Program ini bukan sulap, hasilnya pelan-pelan," ungkap Tamara. "Tapi kalau 65 persen kebiasaan hidup sehat ini bisa dibawa pulang ke rumah dan diteruskan orang tua, itu sudah kemenangan besar buat kami."
Matahari makin meninggi saat aktivitas sekolah usai. Lembar pemantauan di tangan Tamara dan Debora kini telah terisi penuh. Tugas pemantauan dan pendampingan di SDN 1 Budidaya pun tuntas untuk hari ini.
Meski peluh membasahi dahi, mesin motor kembali dinyalakan, menyusuri jalanan berdebu menuju kontrakan sebelum melanjutkan rekapitulasi data sore nanti.
Di tahun ke-18 berjalannya JAPFA for Kids, program besar untuk mencetak generasi unggul Indonesia ini diringkas secara hangat di Sidomulyo: lewat dua orang gadis, dua sepeda motor, dan sebutir telur yang membawa harapan agar anak-anak desa tumbuh lebih sehat dan kuat. (**)
Editor: Agus Setyawan
