MOMENTUM, Liwa — Pemerintah Kabupaten Lampung Barat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan menyiapkan puluhan personel serta berbagai sarana pendukung penanggulangan kebakaran.
Wakil Bupati Lampung Barat, Mad Hasnurin, mengatakan kesiapan tersebut diperlukan untuk memastikan setiap kejadian Karhutla dapat ditangani secara cepat dan tepat.
Hal itu disampaikan Mad Hasnurin saat menerima audiensi Ketua Tim Penyuluhan Karhutla Kabupaten Lampung Barat, Pamen Pusziad Kolonel Czi Wahyu Widi Setyanto, S.Si., M.Si., bersama jajaran di Ruang Rapat Pesagi, Setdakab Lampung Barat, Jumat (28/8/2026).
Audiensi tersebut turut dihadiri Dandim 0422/Lampung Barat Letkol Inf. Rizky Kurniawan, Asisten, Kepala Pelaksana BPBD Lampung Barat, serta sejumlah kepala perangkat daerah.
"Pemkab Lampung Barat telah menyiapkan personel dan sarana pendukung untuk menghadapi potensi Karhutla. Kesiapsiagaan ini menjadi bagian penting agar setiap kejadian dapat ditangani dengan cepat dan tepat," ujar Mad.
Ia menjelaskan, personel yang disiapkan terdiri atas Tim Reaksi Cepat (TRC) 15 orang, Tim Rescue/SAR 18 orang, Satgas Penanggulangan Bencana 20 orang, serta 28 personel PNS/organik BPBD. Kekuatan tersebut diperkuat Satgas yang berada di masing-masing pekon dan kelurahan.
Dari sisi peralatan, Pemkab Lampung Barat menyiapkan satu mobil tangki air, satu truk serbaguna, tiga mobil taktis, empat unit alkon dengan selang sepanjang 100 meter, enam mesin sinso, serta lima kendaraan pemadam kebakaran (Damkar) yang tersebar di lima kecamatan.
Menurut Mad, penanggulangan Karhutla tidak cukup hanya mengandalkan respons setelah kebakaran terjadi. Deteksi dini menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Pemantauan titik panas dilakukan secara real time melalui Warning Receiver System (WRS), aplikasi SIPONGI Kementerian Kehutanan, serta SPARTAN BMKG.
"Deteksi dini sangat penting. Karena itu, pemantauan hotspot dilakukan secara berkala dan real time sehingga apabila terdapat potensi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti," katanya.
Pusat kendali operasi penanganan Karhutla berada di Pusdalops BPBD Kabupaten Lampung Barat. Masyarakat yang menemukan kejadian kebakaran dapat melaporkannya melalui nomor Pusdalops BPBD Lampung Barat di 0811-7287-288.
Hingga minggu keempat Agustus 2026, tercatat empat kejadian Karhutla telah berhasil ditangani. Kejadian tersebut meliputi kebakaran area savana di Pekon Sukamarga, Kecamatan Suoh; lahan tidur di Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit; lahan warga di Pekon Kagungan, Kecamatan Lumbok Seminung; serta lahan warga dan belukar di Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit.
Mad menegaskan, penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Pemkab Lampung Barat terus memperkuat koordinasi dengan Polres Lampung Barat, Kodim 0422/Lampung Barat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Damkar, pemerintah kecamatan, hingga pemerintah pekon dan kelurahan.
"Sinergi lintas sektor sangat penting untuk memastikan deteksi dini, respons cepat dan penanganan Karhutla berjalan efektif. Kita juga perlu memetakan wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadi kebakaran untuk kemudian dipantau secara berkala," jelasnya.
Pemkab Lampung Barat juga mendukung kegiatan penyuluhan Karhutla yang dilaksanakan Korem 043/Garuda Hitam bersama Kodim 0422/Lampung Barat.
Mad berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, mengenali potensi kebakaran, serta melaporkan kejadian sejak dini.
"Pencegahan Karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat," tegasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Penyuluhan Karhutla, Pamen Pusziad Kolonel Czi Wahyu Widi Setyanto, mengatakan penyuluhan dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya dan pencegahan Karhutla.
"Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan Karhutla, memberikan edukasi mengenai dampak buruk yang ditimbulkan, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan," kata Wahyu.
Menurutnya, masyarakat akan diberikan pemahaman mengenai penyebab Karhutla, dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat, serta langkah praktis untuk mencegah kebakaran.
"Harapannya, masyarakat tidak hanya mengetahui bahaya Karhutla, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya dan bagaimana melaporkan apabila menemukan titik api atau potensi kebakaran," ujarnya.
Tim Penyuluhan Karhutla terdiri dari delapan personel dan kegiatan sosialisasi direncanakan berlangsung selama sekitar 28 hari.
"Kita ingin membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan jauh lebih penting. Dengan sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, pengelola kawasan hutan dan masyarakat, potensi Karhutla dapat ditekan dan ditangani sedini mungkin," pungkasnya.(*)
Editor: Muhammad Furqon
